Oksidental, Orientalisme dan Pengendalian diri

    Barat-Timur
    Kefitrahan adalah kerakteristik yang ada pada masing-masing individu. Setiap orang, memilikinya, yang tentu berbeda dari sebagian besar orang lain. Ya, bisa disebut dengan keunikan diri. Maka disebutkan, bahwa kullu mauluudin yuuladu ‘alal fitrah (setiap anak adam terlahir dengan berkarakter). Artinya, apel tak jatuh jauh dari pohonya, setiap aspek genetik akan tetap menurun kepada anak-anak keturunannya, itu pasti adanya.
    Dunia ini pun diciptakan dengan berbagai macam-macam bangsa, dengan tujuan untuk saling mengenal dan saling melengkapi. Bukankah dengan berpedaan ini dapat menjadi dunia ini menjadi lebih indah? Tentu, justru dengan perbedaan inilah akan tercipta sesuatu yang baru pula. Misalnya, terciptanya agama baru di timur tengah setelah adanya pertentangan kebudayaan penganut oriental dan oksidental.
    Pada kebudayaan oksidental masyarakatnya lebih merasionalkan segalanya, tak terkecuali. Sehingga, kebenaran bagi mereka terletak pada rasio (baca: akal Pikiran). Sehingga, adanya rasio ini menuntut sesuatu yang real, dan sesuatu nyata adanya. Tanpa ada realita yang ada, maka sesuatu tak akan dapat dirasionalisasikan. Walhasil, agama tak tumbuh dibagian di mana mereka tinggal. Walau pun, akhir-akhir ini ada agama yang memasuki daerah mereka, namun tetap saja masih berbau “sekuralisme”, membedakan antara kehidupan keagamaan dengan kehidupan; kenegaraan, kemasyarakatan.
    Kenyataan sekarang pun tetap demikian, tidak akan pernah berubah. Dunia barat menjadi raksasa dunia materialisme, dengan berbagai macam penemuan dan kecanggihan teknologi. Karena, mereka memang terlahir dengan watak tak jauh berbeda dengan nenek moyang yang telah mendahuluinya. Agama yang akan masuk ke negara mereka akan sulit berkembang pesat, kecuali jika agama itu dimodifikasi dengan nilai-nilai materialisme yang tertanam kuat dalam benak mereka.
    Dan ini berbeda dengan dunia ketimural (oriental). Yang mana, kebenaran sesuatu terletak pada dzauk (baca: cita rasa subjektif), sehingga sesuatu yang tampak nyata belum itu yang sebenarnya sebuah kenyataan. Namun, terletak pada apa yang berada di balik kenyataan (sesuatu yang tampak). Karena demikian, tingkat spritualisme akan tertanam kuat dalam masing-masing masyarakat ketimuran.
    Kemudian, turunnya Nabi di daerah Timur Tengah tentau menyisakan alasan-alasan. Yaitu sebagai ‘jembatan’ antara ketimuran yang berbau spritualisme, dan kehidupan kebaratan yang berbau material-rasionalisme. Sehingga, agama benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin, yang tidak membedakan antara kehidupan dunia dan akhirat, namun menjadi penyeimbang.
    Kemudian pertanyaan yang timbul, bagaimanakah barat bisa bertahan dengan kebaratannya, dan timur bisa bertahan dengan ketimurannya? Lalu, apakah ada kemungkinan barat menjadi timur, atau timur menjadi barat? Salah satu yang menjadi praduga jawaban adalah tanda kiamat datang salah satunya adalah terbitnya matahari dari barat, akankah matahari yang dimaksud ini adalah matahari yang setiap hari kita saksikan? Ataukah kiasan semata?
    Selanjutnya, untuk mempertahankan masing-masing kebudayaan agar tidak tercemar dengan dunia yang berbeda. Perlu dilakukan beberapa langkah, yaitu terkait dengan pengendalian diri. Kecenderungan yang ada pada realita kekinian bahwa mereka yang beragama kuat (baca: memegang ajaran agama dengan kuat) memiliki kecenderungan kemampuan untuk mengendalikan diri (self control).

    Mengendalikan diri dari control kebudayaan orang lain tentu memerlukan self controlyang lebih kuat. Yaitu, diawali dengan kesadaran diri, intropeksi diri, tujuan hidup, kesabaran dan penyibukan diri pada apa yang diyakini. Jangan tergoyahkan oleh opini orang barat yang mau semaunya memberikan kehancuran secara tak terduga terhadap kehidupan ketimuran.

    1,640 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *