SAM_0180-1

Nafsu itu Musuh dalam Selimut yang Licik

    Di era informasi dan serba teknologi sekarang ini, angkat kriminalitas baik berupa pembunuhan, pencurian dan sebagainya menjadi semakin meningkat.  Baru-baru ini seorang suami tega membunuh istrinya sendiri dengan sangat kejam. Kejadian yang terjadi di daerah Kediri ini cukup menggemborkan masyarakat, terutama para masyarakat sekitarnya.
    Kejadian seperti ini dahulu sangat jarang ditemui, namun sekarang di mana pun selalu ada kasus pembunuhan, dll. Seakan sudah tak asing lagi di telinga kita. Astaghfirullahal adzim. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana ini semua mungkin terjadi, bahkan sesering mungkin seperti yang dapat kita saksikan di media elektronik; tivi, mau pun media cetak.
    Rasulullah Saw pernah Bersabda, bahwasannya musuh terbesar kita adalah hawa nafsu kita sendiri. Memang benar, manusia itu bukanlah malaikat yang tak memiliki naluriah alami yang berupa nafsu. Maka, manusia itu adalah ‘bernafsu’, namun juga memiliki fitrah ke-malaikat-an. Dan nafsu itu sendiri selalu mengajak kepada keburukan, walau pun ia sepintas terlihat mubah-mubah saja untuk dilakukan.
    Seperti kasus di atas tadi,  seorang suami membunuh istrinya hanya gara-gara uang. Karena uanglah, sang suami menjadi gelap mata, dan akhirnya terbunuhlah istrinya di tangan sang suami ini. Iya, nafsu-uang itulah menjadi titik balik dari semua peristiwa yang tak pernah diinginkan. Beberapa sumber mengatakan, ia sang suami ini memang pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa di daerah Malang.
    Menurut beberapa informasi, ketidakstabilan (Orang yang hampir tidak waras) diakibatkan tidak seimbangnya antara aspek kognisi (intelektual), Afektif (Emosi), dan Psikomotorik (Perilaku). Ketika ketiganya tidak seimbang, maka akan terjadi kegoncangan di dalam diri, dan dalam waktu yang lama akan menjadi suatu depressi berat yang kemudian menjadi penyebab orang menjadi gila.
    Pelaku pembunuhan ini lebih dominan aspek afektifnya, karena percekcokan masalah yang kemudian di gembar-gemborkan. Alhasil, pelaku ini bisa dikatakan tak memiliki self control (tidak dapat mengontrol nafsunya sendiri). Nafsunyalah yang membuatnya membunuh istrinya sendiri.
    Nah, kemampuan mengontrol diri memberikan banyak manfaat, mengontrol diri adalah mengontrol keinginan nafsu. Dalam literature Agama Budha disebutkan bahwa sumber dari semua kegelisahan dan penderitaan ‘nafsu’. Di saat seseorang menginginkan sesuatu, namun kenyataannya tak selalu sesuai harapan. Frustasi pun terjadi di dalam diri jika tak mampu menghadapi ketidasesuainya harapan dan kenyataan. Untuk itulah, “menahan hawa nafsu” salah satu tips asyik untuk dapat menikmati hidup dan bahagia, dan sekaligus kemudahan hidup lainnya.

    437 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *