Musibah Membawa Berkah

“Ah, katanya puasa, kok minta dihormati sih!”, tulis seseorang di wall facebooknya. Tambahnya lagi, “Puasa kan urusan manusia dengan Tuhannya, jadi manusia ngga usah ikut-ikutan ngurus urusan Tuhan”. Suara lain menyeruak tentang peristiwa yang dialami Bu Saenah. Ia mengatakan, “Kasihan ya, pedagang kecil kok semakin tak tentram, makanannya disita, sementara restoran-restoran besar dibiarkan berkeliaran begitu saja tanpa penyitaan”.

Akhir-akhir ini, sikap pemerintah menjadi sorotan pemberitaan media. Yaitu, terkait tindakan Satpol PP Serang yang menyita barang dagangan wanita tua pemilik warteg. Pada siang hari itu, di Bulan Ramadhan, Bu Saenah tetap membuka wartegnya. Padahal, surat imbauan telah ditempel di kaca warteg, tempat ia mencari nafkah. Wanita itu berdalih, “Restoran besar kok ngga ditindak, ya saya irilah, apalagi ini tempat saya mencari nafkah”. Satpol PP tetap berusaha menegakkan Perda yang telah berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka pun menindaknya, menyita barang dagangannya.

Muncullah kemudian anggapan-anggapan, sebagaimana contohnya di atas. Siapakah yang benar? Siapakah yang salah? Seolah-olah ada keseragaman, bahwa ibadah tak boleh egois, puasa ga boleh minta dihormati. Biarlah, menghormati atau tidak, itu bukan urusan yang berpuasa. Saya kira, terlalu dini memberikan kesimpulan atau solusi dari peristiwa ini. Wajarlah, Perda minta ditaati, karena ia berasal dari aspirasi rakyat. Apalagi imbauan sudah disuarakan dalam tempelan-tempelan.

Shoim (baca: seseorang yang berpuasa) tak pernah berkata, “Eh Bu warung, hormati saya ya, saya kan lagi berpuasa”. Tidak ada statemen permintaan seperti itu. Tetapi secara tidak langsung, perda daerah harus diataati. Dalih bu Saenah hanya karena melihat ketidakoptimalan penindakan terhadap restoran-restoran yang juga buka di siang hari bulan Ramadhan. Itu saja. Bukan masalah karena memberontak oleh ketidakinginan menghormati bagi mereka yang berpuasa.

Perlukah yang berpuasa dihormati? Perlukah Ramadhan dihormati? Perlukan Ulil ‘Amri (pemerintahan) ditaati? bila Anda muslim, tentu Anda akan memahaminya. Permasalahan mencuat dalam kancang pelaksanaan “Menghormati Ramadhan”: apakah seseorang yang berniat menghormati Ramadhan benar-benar dilaksanakan dengan cara yang ma’ruf (baca: baik)?
“Atthoriqotu ahammu minaal maadah”,
(Bagaimana sesuatu itu dilakukan lebih penting daripada sesuatu itu sendiri)
-mahfudhod-

Perda yang ada adalah baik, pelaksanaannya yang perlu dievaluasi kembali. Perda mengenai toleransi juga terdapat di daerah lain. Bali dengan perayaan Hari Nyepi. Bandara-bandara setempat tutup selama sehari dan toko-toko ditutup tiga hari. Dalam hal ini, tentu pasti ada pertentangan. Bagaimana masyarakat bawahan dapat menghidupi keluarganya, bila penghasilan yang terpangku dalam satu hari itu tak dihasilkan. Tapi, kenyataannya, mereka tetap bisa menghormati Perda dengan menaatinya.

Serang dengan masyarakatnya yang hiterogen, memiliki masyarakat muslim dan non-muslim—data tahun 2014. 90% diantaranya adalah masyarakat muslim (perkiraan: 600 ribu jiwa), dan 10% adalah non-muslim. Masyarakat yang hiterogen ikut andil dalam lahirnya peraturan daerah (Perda) daerah Serang demi kepentingan bersama. Perda sebagai manifestasi aspirasi rakyat setempat sudah seharusnya ditaati bersama: mengikat semua lapisan masyarakat. Tak peduli, masyarakat bawahan, atau kalangan konglomerat. Jika perda sebagai peraturan yang mengikat tak lagi ditaati, bisakah mereka mencapai ketentraman rakyatnya? Ketidakselarasan pelaksanaan dalam menegakkan perda dengan harapan seringkali menjadi sumber ‘permasalahan’. Terjadilah hal-hal yang tak diharapkan bersama, terganggulah stabilitas perda.

Meski demikian, mari kita bersama-sama membangun negeri dengan merenungi peristiwa ini. Kita lelah dengan kasat-kusut media yang menyoroti dengan tajam kenegatifan suatu peristiwa. Seoalah-olah, dunia ini hanya ditampilkan dalam kaca mata negatif. Apa guna saling menyalahkan, bila kemudian tak menjadikan diri lebih baik dan bijak.

Peristiwa Bu Saenah menawarkan hikmah bagi berbagai pihak. Kita tak perlu mencari dalang dibalik itu semua, yang terpenting bagi kita adalah membaca dan berkaca diri (baca: refkleksi dan introspeksi). Menyalahkan begitu mudah, mengomentari begitu renyah, akan tetapi, memperbaiki diri adalah hal yang susah. Bagi mereka yang hanya menggunakan kaca mata negatif akan peristiwa ini tak banyak mendapatkan hal yang positif. Pikiran dan perasaannya dijejali emosi negatif, luapan itu begitu jelas tampak dari komentar mereka. Bagi mereka, seolah-olah hidup itu harus adil terus, indah terus, nyaman terus. Padahal, hidup tidaklah demikian.

Melihat dengan positif bukan berarti “tertawa di atas penderitaan orang lain”. Tepatnya, ini adalah usaha agar peristiwa yang apa adanya bisa kita ambil manfaatnya sebijak mungkin. Mari dewasakan diri demi merajut indahnya kemesraan bersama. Syukurlah, bu Saenah tak rugi, saya pun ikut berterimakasih kepadanya untuk berkaca diri. Apa yang awalnya dianggap musibah, datanglah kemudian sebagai berkah. Dikabarkan, wanita tua tersebut menerima bantuan dari Presiden Jokowi sebesar Rp: 10.000.000, yang dikirim melalui dua utusan istana ke rumahnya. Termasuk juga dari Mendagri, Tjahjo Kumolo. Tak tanggung-tanggung, donasi juga diterimanya dari masyarakat nitizen sebesar seratus juta lebih dari sekitar dua ribu lebih donatur. Luar biasa. “Musibah membawa berkah”.

“Tak semua musibah adalah musibah, maka teruslah bersabar. Boleh jadi, pada musibah terdapat berkah”

Tak hanya berhenti di situ saja, peristiwa ini juga menjadi bahan refleksi pemerintah untuk meningkatkan pelayanan menuju ketentraman masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah mencabut 3.143 Perda mengenai intoleransi, perizinan, dan usaha yang bermasalah.

Setelah ini, tak ada jaminan kejadian yang serupa tak akan terjadi. Sekiranya kita memahami, apa yang tak enak dihati belum tentu tak baik bagi diri. Boleh jadi, itu adalah salah satu pintu yang Allah berikan untuk kebahagian yang lebih di kemudian hari. Bagi kita, alangkah lebih bijak untuk tidak begitu saja menyalahkan. Mari tunjukkan kedewasaan dengan menjadikan peristiwa sebagai refleksi diri. Mengingat, perubahan yang besar berawal dari perubahan yang kecil—dari diri kita sendiri. “Kebahagiaan lebih selalu mensyaratkan penderitaan lebih”. Dengan begitu, modal refleksi ini bisa menjadikan diri kita optimis akan cerahnya kehidupan demokrasi di negeri ini. Semoga.

Sumenep, 15 Juni 2016

3,035 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Similar Category Post

Diterbitkan oleh

algazel ma'ruf

Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

Satu tanggapan untuk “Musibah Membawa Berkah”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *