Mimpiku dengan Seorang Syaikh dan Buah Mangga Ajaib

    Bis
    yang kami tumpangi, kini berhenti di area sebuah parkiran. Lapangan, adalah
    tempat yang tepat untuk menggambarkan tempat parkiran yang sangat luas
    tersebut. Beberapa sudut parkiran buatan tersebut, tampak beberapa mobil dengan
    berbagai bentuk. Sementara, di sudut yang lain ada banyak bus, taksi dan mobil
    pribadi.

    Suasana
    siang itu tampak sangat ramai, dengan lalu orang-orang yang berlalu lalang ke
    sana-kemari mencari tempat yang tenang dan nyaman. Aku sendiri tidak mengenal
    siapa di samping kanan-kiriku, jelasnya aku masuk ke dalam bagian suatu
    kelompok. Saat itu, tak satu pun orang berbaju berwarna, semua berpakaian serba
    putih.
    Aku
    pun duduk sejenak di bawah pohon kelapa yang tak terlalu tinggi. Sementara, di
    sekeliling tempat tersebut aku menyaksikan beberapa di antara mereka disibukkan
    dengan tasbih yang senantiasa digenggamnya. Hilir langkah mereka menggodaku
    untuk mencari tahu, di manakah tempat berteduh.
    Setelah
    sampai di sebuah musholla aku duduk melepas penat sampai waktu memasuki waktu
    sore hari. Selanjutnya, aku pergi ke suatu rumah melalui jalan setapak serasa
    kembali di saman wali-songo. Dan akhirnya, sampailah aku bersama beberapa orang
    yang juga kebetulan pergi ke rumah tersebut.
    Rumah
    yang terbuat dari bambu tersebut berlantai dua. Di area belakangnya terdapat
    pohon mangga. Siapa pun yang berkunjung ke rumah tersebut, bebas untuk memetik
    buah mangga tersebut. Anehnya, semakin buahnya dipetik, semakin tumbuh banyak
    buah-buah di dahan yang lain. Aku masih tampak bingung, rumah apakah ini? Apakah
    arti ini semua?
    Beberapa
    waktu kemudian, aku pun menuju sumber orang pergi. Dan ternyata, mereka semua
    menuju ke sebuah aula pertemuan para ulama. Saya anggap demikian, karena mereka
    yang di dalam akan melaksanakan suatu diskusi bersama. Nah, kami pun duduk
    rapi. Tampak seorang mufti berdiri dan membicarakan sesuatu.
    Setelah
    tiba sesi tanya jawab, aku mencoba bertanya dan menjadi penanya ke-II. Namun,
    saat tiba giliran untuk bertanya, si mufti tersebut langsung mengalihkan dan
    mengacuhkanku. Beliau tidak berkata apa-apa kecuali, “langsung ke penanya selanjutnya”.
    Aku pun kebingungan, mengapa aku tidak diperkenankan untuk bertanya? Aku terus
    kebingungan, bukan karena hadiah yang diberikan kepada masing-masing peserta
    yang aktif untuk bertanya, namun mengapa keingintahuan ini berhenti sampai di
    sini saja, tanpa alasan yang tak aku mengerti.

    *mimpi
    setibanya di rumah madura dari kediri untuk niat ngajar.

    995 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *