Mimpi Musik Anak 2014

    Musik menjadi konsumsi
    keseharian masyarakat negeri ini, apa pun rasnya, apa pun jenis kelaminya semua
    penikmat alunan lagu. Yang berusia uzur, yang muda bahkan yang masih usia bau
    kencur juga tak mau kalah. Mereka semua senang dengan musik. Berangkat menuju sekolah
    penumpang dimanjakan dengannya. Kantin-kantin, dan tempat umum sekalipun yang
    dikira sepi,  bisa bebas menghayati
    dentan irama melalui kemajuan teknologi, Handphone misalnya.
    Tak ada yang dapat menghalangi
    kita mendengarkannya, hidup itu pilihan masing-masing. Musik jenis pop, jazz,
    dangdut, koplo bahkan yang reggae pun
    bebas dipilih. Lagi-lagi, itu semua tergantung selera dan kebutuhan. Asal butuh
    boleh, bukan asal-asalan sok butuh
    akibat kebiasaan. Karena itulah, mabuk musik ini menjadi masalah.
    Media masa, para pendidik dan
    para pemerhati anak mengeluhkan musik anyaran.
    Telah lama mereka mengeluh, telah lama semua masyarakat resah dengan anak-anak
    mendengarkan apa yang belum pantas. Usia masih belia, lagunya tak berbeda
    dengan mereka yang “berumur.” Apa jadinya? Bagaimana realisasinya di tahun
    2014? Semacam tren, di mana lagi nge-hits di situlah orang-orang
    memperhatikan, mencari dan menirukan. Anak dengan kelihayan bergoyang dipandang
    sebagai skill yang mereka miliki.
    Maka selanjutnya, perlu diadakan
    lembaga sertifikasi musik khusus anak. sertifikasi musik pun harus juga diberi
    perhatian layaknya kasus korupsi. Karena usia balita menurut Freud sebagai golden age. Usia ini mempengaruhi
    bagaimana kehidupannya kelak saat dewasa. Secara tidak langsung, memberi
    perhatian pada musik anak juga ikut andil berperan membantu KPK mencegah
    “calon” koruptor 2040. Karena musik pembimbing pikiran manusia dengan
    intensitasnya sendiri.

    1,141 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    8 tanggapan untuk “Mimpi Musik Anak 2014”

    1. Kondisi saat ini di mana materi mengalahkan segalanya juga mengalahkan hak-hak anak terutama hak musik yang layak untuk anak. Perlu dibuat peraturan yang cukup mengikat, agar industri musik tidak semata-mata merespons pangsa pasar dewasa saja. Iya kan Kak? 🙂

    2. setuju kali bro!!! sekarang serba mengharap "uang" dengan menghancurkan cara yang kurang tepat menurut aturan sosial…. terimakasih atas kunjungannya ya..

    3. iya setuju banget tuh silvi… lebih parahnya,… itu bukan hanya lagunya yang ditiru.. ada juga yang niru goyangannya.. hi… sereem….

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *