Meyakini Kenyataan

    “Mempercayai kenyataanmu
    sebagai penguat dari kesanggupanmu melakukan sesuatu, atau bagaimana bila
    ternyata hal yang akan dilakukan adalah pengalaman pertama; tidak ada kenyataan
    masa lalumu.”
    Bahwa semua ini adalah rangkaian dari masa lalu. Karena
    dirasa orang lebih berpengalaman, maka ia dikatakan lebih ahli karenanya. Ini
    juga yang menjadi titik terang dari kenyamanan setiap orang, ia merasa nyaman
    bila melakukan sesuatu yang pernah dicobanya, dilatihnya dan dilaksanakannya.
    Kenyamanan ini memberikan rasa keyakinan bahwa dirinya mampu
    menyelesaikannya.  Misalnya saja, awal
    belajar sepeda motor kamu tak percaya diri, takut nabrak mobil, nabrak orang
    dan seterusnya. Sampai terus mencoba dan mencoba akhirnya kamu pun mulai yakin,
    saya mampu mengendari motor. Sontak saja, kamu pun mulai percaya diri untuk
    mengendari motor. Melalui perjalanan panjang, pendek, persimpangan dan
    sebagainya.
    Pernahkah berfikir, yang membuatmu percaya diri apakah
    disebabkan oleh karena hal tersebut merupakan rangkaian percobaan yang
    kesekian, atau kah karena ada suatu kesimpulan yang kamu berikan di setiap
    akhir percobaan pembelajaran. Nah, pengetahuanmu bagaimana mengendarai setelah
    diperoleh dari pengalaman percobaan pertama yang membuatmu percaya diri. Kamu
    lebih percaya pada kesimpulan dari pengalamanmu sendiri, bukan dari kesimpulan
    percakapan biasa. Ia, dari pengalamanmu sendiri.
    Maka dari sini, penting kiranya melihat ‘tanda-tanda’
    keberhasilanmu mengetasi segala rintangan pekerjaan. Sehingga, bekerja tak lagi
    memerlukan penundaan hanya karena ketidakpercayaan diri, ketidakmengertian apa
    dan bagaimana, dan seterusnya. Lihatlah tanda sekecil itu diperbesar sebagai
    satu quanta selangkah lebih maju yang tak dimiliki oleh orang yang
    diidolakanmu. Dengan, kamu sudah menyalakan lilin dibanding meratapi kegelapan.
    Yakini, bila kau tak melihat tanda kecil tadi, maka sungguh terlalu indah
    kiranya bila untuk kemudian menjadi lebih baik.
    Beberapa orang lebih memilih menjadi dirinya sendiri,
    dibanding dibesarkan oleh apa yang telah berlalu. Walau pun bisa, sebenarnya
    hal itu tak terlalu mudah dilakukan. Kecuali, mereka yang percaya masa hanya
    satu waktu, yaitu sekarang. Karena masa lalu tak memberi apa pun, kecuali
    pengetahuan dan pengalaman. Dan masa sekarang tak memberi apa pun kecuali
    harapan. Memilih hidup di masa lalu, akhirnya takut melangkah ke masa depan.
    Terlalu hidup di masa depan, akhirnya kurang memaksimalkan apa yang
    diperlakukan hari sekarang. Kekhawatiran yang berlebihan.
    Karena itulah, titik terang berada di antara masa lalu dan
    masa akan datang; waktu sekarang. Itulah kenyataan yang sebenarnya harus
    diyakini senyata-nyatanya. Masa lalu hanya berguna tambahkan keyakinan diri,
    masa depan pengarah melangkah. Jangan memberikan ruang kepada keduanya
    berlebihan, lebihkan segalanya di masa kini dan di sini.
    Okelah, bila kamu lebih mengedepankan pengalaman dari masa
    sekarang. Pertanyaannya adalah bagaimana bila ternyata apa yang akan kamu
    lakukan ternyata pengalaman pertamamu? Padahal, yang pertama biasanya sepak
    terjalnya lebih berat dibanding dengan langkah selanjutnya. Kalau sudah
    diawali, maka semua akan terasa lebih nyaman.
    Sehingga akhirnya, pengalaman tidak selalu penting bila
    ternyata apa yang kamu lakukan adalah baru pertama kalinya. Untuk meyakini
    kemampuanmu melakukan sesuatu, maka yang menjadi penampah kepercayaan dirimu
    adalah “kenyataan saat ini” bahwa kamu telah berani mencobanya, berani melawan
    penundaan.  Dari ini, teruslah melangkah
    ke depan, melangkah untuk menjadi hari ini, dan besok menjadi hari besok.
    Melakukan yang tak sama dengan hari ini, dalam artian berusaha sebaik mungkin
    menjadi lebih baik.

    606 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *