Meremehkan

    Keremehtemehan itu telah datang, tak pernah diundang tiba dengan
    sendirinya. Bukan cuma pada persoalan yang kecil dan detail. Kalau pun mau,
    persoalan besar bisa jadi. Jadi bulan-bulanan dari keremehtemehan mengindap
    tanpa dirasakan.  Persoalan kemudian
    muncul seiring bertambahnya masa. Dulunya kecil, sekarang telah
    beranak-pinak menjadi “besar”.   
    AB—tak perlu sebut kepanjangannya,
    sebuah nama inisial—seorang mahasiswa. Perlu diajungi jempol saat dia dikenal
    oleh teman sebayanya sebagai aktivis kampus, tapi juga rajin “kuliah”. Deretan
    buku-buku di kamar pribadinya cukup bisa dibilang cukup, ada 200-300 buku. Itu
    kesemuanya milik pribadi.  Pagi hari,
    setengah jam sebelum perkuliahan dimulia, AB sudah bisa terlihat batang
    hidungnya. Duduk manis di deratan bangku paling depan dengan buku di
    gengamannya.
    Lembaran dalam buku itu dibukalah
    setiap waktu, ia begitu terobsesi dan mencintai kata, frasa, kalimat, paragraf
    dan tulisan. Bukan pada tanpaknya tulisan dalam draf buku, setidaknya ia lebih
    terangsang oleh makna tersirat di balik suratan kalam penulis. Kadangkala, ia
    temukan dirinya dalam buku itu, di sisi lain dan juga waktu yang tak bersamaan
    dirinya tiba-tiba hilang.
    Lelaki kurus itu telah kehilangan
    dirinya, semangatnya patah. Komentarnya cukup sederhana, “saya tidak suka menulis, menulis penjelasan dosen yang terlalu umum.
    Saya akan menulis kalau semuanya lengkap, sempurna dan detail”.
      Sepintas mahasiswa seperti ini perlu
    dibanggakan tapi juga tak dilarang bila dienyahkan dari permukaan. Ia terlalu
    sombong kepada dunia, dirinya terlalu dijual mahal.

    Waktu terus bergulir, AB kini menjadi
    mahasiswa akhir. Setumpuk tugas semakin menggunung tak karuan. Pikirannya kini
    telah amburadul oleh pikiran tentang tugas, bukannya ia langsung mengerjakannya.
    Tapi kebiasaan meremehkan dan menunda itulah telah melemahkan dirinya. Sekarang
    ia tak berdaya, dan menyadari bahwa dalam apapun, jangan remehkan apa pun dan
    siapa pun.
    Keremehtemehan awal dari hilangnya rasa
    hormat, kepada diri sendiri dan kepada objek yang semestinya mendapatkan
    kehormatan.  Kebanyakan orang, dan
    termasuk si AB menganggap yang kurang tidaklah berarti apa-apa. Ya, semacam
    bentuk jual mahal diri yang ogah-ogahan
    mengurusi hal yang kurang berarti.
    Untuk menjadi besar, maka belajarlah
    menghargai yang kecil.  Dalam keseharian,
    yang besar itu selalu terbentuk dari yang lebih kecil. Atau justru dari yang
    paling kecil dan kita buta akan hal itu. Sedikit perlu direnungi dalam-dalam,  umumnya orang beranggapan kecil itu memang
    membentuk yang besar. Di sini ditegaskan, bukan kecilnya yang membentuk yang
    besar, lebih dari sekedar itu. Yaitu, memperjuangkan dan menghormati yang
    kecil, kebesarannya benar-benar dibanggakan.
    Dengan penghormatan itu seseorang akan
    terus berkembang, dan bahkan dari itu apa yang kecil tak terasa menjadi besar.
    Bagaimana mungkin seorang penulis belajar membuat sebuah buku, bila kata dan
    paragraf tak pernah ia hormati? Keadaan menjadi kacau, ia kan frustasi tidak
    menyaksikan keindahan pada setiap paragraf.

    Sebenarnya apa kita? Atau siapakah diri
    kita? Dalam hadits disebutkan, “siapa yang tak dapat mengsyukuri hal yang
    kecil, maka tak kan mampu mensyukuri yang besar”.  Belajarlah menghormati, sejauh itu pula
    keberuntungan yang kan diraih.

    1,060 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Meremehkan”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *