SAM_0057

Meratapi musibah adalah musibah baru

    Apa yang sering kita dengar, saat musibah dating meninpa diri kita? Apa yang mereka katakan? “Sabarlah, musibah pasti akan berlalu”.  Begitulah kata-kata penghibur duka cita, seakan-akan, dengan mantra sakti musibah akan terselesaikan. Apakah sesederhana yang mereka bayangkan? Kesederhanaan yang hanya yang dibalut dengan ketidak-sunguhan memberikan simpati. Palsu sok simpati, hanya sekedar omong kosong, bantulah mereka dengan pangan, pendidikan, dan kesehatan. Jangan hanya pintar mewiridkan mantra “sabar, sabar dan sabar.”
    Agenda banjir sudah menjadi rutinitas tahunan bagi  ibu kota Indonesia, Jakarta. Setiap musim penghujan tiba, tentu selalu ada daerah-daerah yang terkena korban banjir ini. Baik secara berjemaah dengan wilayah lain, maupun secara bergiliran. Karena terbiasa, para korban pun menyikapinya dengan penuh kebijaksanaan. Tidak seperti kebiasaan para koruptor, yang hanya membuat orang lain semakin sengsara, dan justru juga akan membuat dirinya sendiri semakin jauh dari kediriannya.
    Komunitas pencita alam berdalih, itu semua dikarenakan “kebiasaa” manusia membuang sampah tidak pada tempatnya., Jadilah Jakarta kebanjiran. Ungkapan tersebut juga diacugi jempol oleh para artis. Para pejabat agama berpandangan terbalik, kerusakan yang terjadi itu tidak lain akibat perbuatan tangan manusia itu sendiri. Tangan yang jahil dengan dirinya sendiri, kaki yang jahil akan dirinya sendiri.  Mata yang buta akan dirinya sendiri. Hati yang tidak berhanti kepada yang lainnya.
    Teringat ketika dahulu kami sedang belajar di pesantren. Di tempat umum; PURUM (dapur umum), kelas-kelas, kamar mandi dst. Selalu ada papan reklame kecil-kecilan menyuarakan, “annadhzaafatu minal iiman”, kebersihan itu sebagian dari iman. Tidak seperti sekarang, tempat-tempat umum diperkotaan dikotori dengan papan reklame untuk kepentingan politik, bahkan tak segan-segan untuk kepentingan pribadi. Dengan promosinya mengatakan tambah beban dosa, “Hanya dalam waktu 2 jam Anda akan mendadak kaya”. Lah, memangnya kaya itu sulap? Semakin mudah sesuatu didapatkan, justru akan semakin mudah pula hilangnya.
    Lucunya penataan kota-kota, yang mungkin sering kita saksikan di kota-kota besar, pada khususnya. Seringkali hal ini memang diperhatikan, namun seiring bergulirnya waktu, perhatian ini seakan-akan sudah tertelan, tidak ada tindak lanjut. Karena masyarakat sudah terbiasa dengan papan reklame yang mengotori pojok-pojok kota, akhirnya terbiasa pulalah mereka. Merela tidak lagi resah dengan ulah para orang yang mementingkan dirinya; ngaku-ngaku atas nama kepentingan rakyat. Pencitraan? Lalu apa?
    Tidak jauh lucunya dengan masyarakat kita, tidak mau kebanjiran, mau hidup sehat dan bersih. Namun, membuang sampah permenpun masih enggan dilakukan pada tempatnya, membuang potong rokok di sembaranga tempat. Untuk urusan penebangan pohon masih belum disadari sepenuhnya oleh penebang liar, yang tidak peduli dengan alam, hanya mementingkan kepentingan semu saja.
    Tidak salah bahwa masalah sampah merupakan masalah sederhana, kesederhanaan yang jarang orang memikirkannya untuk melakukannya, bukan sekedar berucap tanpa tindakan. Karena sampah, berbagai daerah di Negara kita tenggelam. Karena penebangan pohon-liar, banjir semakin menjadi-jadi. Kemudian, siapakah yang disalahkan? Sampahkah, atau penebang pohon?
    Penangan hal kecil itulah yang tak patut untuk disederhanakan sesederhana mungkin. Memusatkan perhatian akannya suatu bentuk solusi paling tepat. Misalnya, membudayakan masyarakat Jakarta untuk membuang sampah pada tempatnya, menyediakan tempat pembuang sampah akhir yang memang sudah direncanakan untuk jangka panjang, dan menindaklanjuti sekeras-kerasnya pada penebang-liar.
    Kalau kita sendiri sudah lalai dengan diri sendiri, hingga kita tidak peduli dengan lingkugan kita, tidak peduli di mana kita berada. Bagaimana mungkin lingkungan akan peduli dan bersimpat kepada kita? Toh walau pun sekarang berbelas meminta maaf kepada Alam, sudah terlambat untuk dilakukan. Meminta maaflah pada diri kita sendiri, dengan menyadari bahwa semua ini adalah masalah kita bersama; bukan masalahmu dan bukan masalahku.
    Saya kira, kita semua bukan seperti anak kecil lagi yang hanya bisa menyalahkan orang lain. Salahkan diri kita sebelum menyalahkan orang lain. Berilah solusi, dan laksanakan. Jangan hanya ngomong dan berjanji doang! Laksanakan dari diri kita, dari hal yang paling sederhana, bahkan lebih sederhana dari sekedar apa yang kita pikirkan. Awal yang baik akan melahirkan akhir yang baik pula.
    Tak usahlah muluk-muluk membangun gorong-gorong secanggih apa pun. Jika kita tidak menyadri siapakah kita? Apa yang telah kita perbuat? Dan bagaimana kebiasaan serta jangka panjang kita? Tidaklah akan ada guna teknologi secanggih apa pun. Apalagi, tergiur dengan kesenangan semu, limbah-limbah dibuang begitu saja di aliran anak sungai.

    Semoga, kita lebih bijaksana menggunakan kebiasaan kita pada jalurnya, membuang sampah-sampah pada tempatnya. Termasuk sampah pikiran yang seringkali menghantui siapa pun orangnya. []

    233 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *