Menyadari Kembali Tujuan Hidup

    Kehidupan di dunia ini tidak ubahnya dengan sebuah perjalanan dan jauh namun terasa begitu singkatnya. Di mana ada awal dari kehidupan, di saat seseorang terlahir ke dunia ini dan akhir dari kehidupan yang merupakan tujuan akhir seseorang hidup. Diciptakannya dari ada, dan menjadi tiada, dan kemudian dibangkitkan kelak setelah ketiadaan tersebut. Tanpa tujuan, mustahil sekali menjadikan hidup ini terasa lebih hidup. Dengan hidup inilah, yang juga berarti ada tujuan yang semestinya selalu dihidupkan.
    Ketika seseorang masih seumuran dengan bayi, ada banyak hal  yang diinginkannya. Bermain riang dan belajar dari merangkak, dan berjalan. Kemudian, memberikan suatu hasil yang nyata baginya. Dari kehidupan balita yang pantang menyerah dan selalu memberikan harapan bahwa dirinya akan mampu dan bisa berjalan. Keinginan dan tujuannya sudah menjadi lebih kuat dibanding hal-hal yang menghalangi untuk terus dapat melangkah jauh.
    Beberapa saat kemudian, dari kehidupan balita memasuki jenjang sekolah, sampai memasuki usia remaja dan akhirnya kuliah dan menikah. Dengan perjalanan yang sedimikian jauh, terkadang hati seseorang dikabutkan dengan semua ‘tujuan-yang hanya sebetas itu’. hal in seakan menjadi ajang dari perlombaan pemupuk kekayaan, sehingga tak sadar pula hidup adalah untuk uang, untuk mencari uang dan menikmati kekayaan tersebut.
    Sungguh, apakah ini yang dinamakan dengan kehidupan. Apakah kehidupan yang singkat ini hanya dihabiskan untuk uang, tidak kah ada alasan lain mengapa Tuhan menciptakan kehidupan dunia ini, dan menciptakan setiap anak? Di manakah tujuan yang tak terpahami tersebut. Walau pun kenyataannya tujuan hidup tak dapat diindahkan dengan demikian saja. Karena tujuan hidup juga memiliki fungsi pengerak bagi kehidupan itu sendiri.
    Orang-orang yang sadar sepenuhnya dengan arti dan hakekat hidup ini akan selalu menyaksikan bahwa ia selalu senang ‘melakukan’ dan menghasilkan sebanyak atau lebih banyak daripada mencapai tujuan. Dengan kata lain, sarana adalah tujuan karena kesenangan dan kepuasan yang ditimbulkan. Bukanlah yang dimaksud dengan tujuan itu adalah mendapatkan kesenangan.
    Kenyataannya, jika masing-masing di antara orang yang hidup ini mau mengakui dengan jujur maka tujuan mereka adalah untuk mencari kesenangan dan kepuasan hidup. Hidup yang tak terpuaskan akan menyebabkan banyak kepincangan dalam hidup. Ada yang kaya secara material, namun tidak mampu mendapatkan kepuasaan dari kekayaan hartanya tesebut. Yang lain,ada yang tidak begitu tercukupi secara materi namun memiliki kepuasaan dengan apa yang ia terimanya.
    Tujuan hidup itu adalah sarana. Tujuan yang dijadikan sebagai sarana, bukan sebagai tujuan yang nyata. Semisal, ketika Anda bekerja, maka tujuan Anda mendapatkan banyak uang diposisikan sebagai sarana untuk tujuan yang lebih terasa puasnya. Sekali lagi, menjadikannya sebagai sarana untuk kebutuhan hidup Anda. Dan ini yang memberikan kepusaan yang lebih daripada hanya sekedar mencapai dan mendaptkan uang.

    Jadi, tujuan hidup itu sendiri adalah sarana. Sarana yang dimaksud adalah proses yang berlangsung secara terus menerus dan berkelanjutan. Dan proses inilah yang menandakan adanya kehidupan itu sendiri. Yang memberikan banyak hal dan memberikan banyak makna dalam hidup ini. Untuk itulah sangat dikhawatirkan jika hidup hanya untuk mencari harta tanpa menyadari untuk apa harta itu didapatkan dan apa yang dapat diberikan dengan kekayaan yang telah didapatkan?

    445 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *