Menunda

    Abraham Maslow Mengatakan, hidup yang teraktualisasi adalah
    hidup yang sekarang. Di saat seseorang berfikiran bahwa ada banyak waktu yang
    menunggu, sehingga pekerjaan sekarang ditunda maka pekerjaan itulah yang akan
    banyak menanggung beban dirinya sendiri yang mencelakakan si empunya.
    Beberapa mahasiswa gagal wisuda hanya gara-gara skripsinya
    yang tertunda. Termasuk semua proyek yang menanganannya kurang baik berawal
    dari kurangnya kesigapan untuk menyegerakan menindaklanjutkannya. Dengan
    demikian, sudah menjadi umum di mana masalah yang tertunda akan menyebabkan
    permasalahan baru.           
    Menangguhkan suatu apa yang seharusnya dikerjakan di saat
    ada waktu luang itu disebabkan oleh kecenderungan hedonisme diri sendiri. Yaitu,
    kecenderungan diri bekerja didasarkan pada kenikmatan, bukannya  mencari hasil yang lebih maksimal. Karena yang
    menyenangkan, tak kan selalu memberikan hasil yang lebih baik.
    Kecenderungan ini—enakenakan—diawali dengan adanya
    pengandaian di dalam diri sendiri. “ah,
    kan masih ada waktu besok, ngapain buru-buru ngerjakan sekarang.
    ” Inilah
    salah satu bentuk atau contoh dari ajakan diri untuk selalu menunda.
    Saat diri tidak begitu nyaman, maka paksakanlah untuk terus
    menggerak. Saat malas datang melanda diri sendiri, maka cara terbaik adalah
    dengan sesegara mungkin bergerak dan mamaksakannya untuk melakukan sesuatu. Ibarat
    orang yang berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun layaknya bodygurd, rasanya akan lebih berat
    dibandingkan berdiri sambil bergerak bebas tanpa batas. Jadi, dengan bergerak
    atau mengambil tindakan semuanya akan menjadi lebih ringan dan mudah.
    Waktu yang tak dimanfaatkan, dia akan terbunuh oleh dirinya
    sendiri. Lihatlah pistol, ia menjadi bermanfaat bila berada di atas kendali
    orang yang tepat, dan menjadi berbahaya bila berada di gengaman orang yang tak
    tepat—perampok misalnya. Waktu pun tak jau berbeda, ia menjadi pelejit ke arah
    depan bila berada pada orang yang tepat, dan menjadi bahaya bahkan mencelakakan
    dirinya sendiri pada orang yang kurang tepat.
    Tak ada pilihan lagi, berapa waktu yang telah terbuang tak
    akan pernah kembali. Apa yang akan datang belum tentu datangnya. Hanya dengan
    memanfaatkan waktu “sekarang” sebaik mungkin, semuanya waktu akan lebih ramah
    kepada kehidupan kita, dan tak lagi menjadi musuh dalam selimut.
    Sebenarnya apa yang terjadi di saat seseorang menunda
    bukanlah menyelesaikan permasalahan. Tapi, ketika penundaan dilakukan baik
    sengaja atau tidak sebenarnya akan meningkatkan penundaan itu sendiri. Ia akan
    semakin betah, dan akhirnya akan terjadi apa yang dinamakan “penundaan
    lanjutan.” Dan hal ini disebabkan oleh sifat dasar pekerjaan yang semakin
    disibukkan, maka akan semakin mengundang kesibukannya tersebut.
    Misalnya saja, kita menunda untuk segera menyelesaikan tugas
    dari dosen dengan menyibukkan diri bersenang-senang dengan hal lain. Nah,
    kesibukan dengan hal lain inilah yang akan mengundang kesibukannya pada
    bersenang-senang semakin betah. Jadi, jangan tinggalkan pekerjaan karena
    pekerjaan lain yang tak seharusnya dikerjakan.
    Harapan untuk keluar dari keadaan di mana kita menjadi
    nyaman secara kasat mata, dan tak nyaman saat dipikirkan dalam-dalam. Tak akan
    banyak membantu. Biarkanlah takdir akan mengikuti diri kita saat kita
    benar-benar bergerak, bukan berharap. Sifat yang demikian menuntun pada proses
    yang sedikit  demi sedikit. Yaitu, tak
    akan bisa sepenuhnya melepaskan diri dari keadaan yang suka menunda menjadi
    produktif. Kecuali, dengan bergulirnya waktu.
    Dengan adanya proses ini, harapan perubahan kita pada
    keadaan yang baru menjadi lebih menetap. Dibanding perubahan yang hanya
    didasarkan pada ketergesaan dan dalam waktu yang relatif lebih cepat.
    Telah dikatakan, “sir
    wa jidda fi al-sairi laa taqif.”
    Maksudnya, berlarilah dan
    bersungguh-sungguhlah dalam langkah, serta janganlah pernah berhenti. Semakin
    seseorang melangkah, sedikit demi sedikit apa yang akan menghentikan langkahnya
    akan menjauh. Terutama terkait musuh besar yang berasal dari dalam dirinya
    sendiri. Untuk dapat mewujudkan hal ini, diperlukan semacam keyakinan bahwa apa
    yang “diinginkan” sudah serasa nyata di depan mata. Tidak jau membayang di
    waktu yang jauh di depan.
    Terakhir, kuatkanlah kesabaran yang tak hanya himbaun
    bersabar. Menguatkannya dengan terus “bersabar” dalam keadaan bagaimana pun.
    Sehingga akhirnya, menjadi begitu asyik dan nyaman.

    996 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Menunda”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *