Menulis Pengalaman Emosional Bikin Sehat

    Ada banyak keuntungan yang didapatkan bila menulis; para
    blogger sudah menyadari sejak awal menulis bisa membawa keuntungan kebahagiaan
    dengan menginspirasi pembacanya. Para penulis buku pun tak kalah saing, mereka
    menulis untuk mendapatkan kebahagiaan dengan ide kreatif yang tertuang oleh
    buku. Tapi bila kita ketahui lebih dalam lagi, menulis ternyata mampu
    menyehatkan jasmani dan rohani.

    Purcell menyebutkan bahwa menuliskan pengalaman hidup
    semisal diary dan surat-menyurat sudah merupakan “kebiasaan kuno” abad
    kesepuluh di Jepang. Orang-orang yang berhasil dalam sejarah memiliki dan
    menuliskan pengalaman hidup mereka.

    Lapore mengutarakan bahwa menulis ekspresif (menulis
    pengalaman emosional) dapat mengurangi simtom-simtom depresif dengan cara
    melemahkan efek-efek emosional yang negatif dari pikiran-pikiran yang
    mengganggu.

    Menulis pengalaman nyatanya sangatlah sederhana, ia dapat
    diartikan sebagai cara untuk melahirkan perasaan dan pikiran yang pernah
    dialami dan menyentuh perasaan diri sendiri. Prosedurnya—menurut rekomendasi
    dari Pennebaker—yaitu menulis pengalaman selama 20-30 menit setiap hari secara
    berturut-turut. Jelasnya, menulis pengalaman emosioanal yang efektif
    adalah sebagai berikut ini: 
    1. Duduklah dengan hikmat, tenang dan kendorkan semua beban
      dalam beberapa menit. Dan cobalah membayangkan suatu moment, kondisi,
      pengalaman yang paling menyentuh emosi, perasaan dalam kehidupan ini. ini
      berlangsung kurang lebih dari 3 menit—catatan; sambil merenung bisa dibarengi
      dengan mendengarkan musik instrumen. 
    2. Ingatlah sekali lagi pengalaman emosional tersebut dengan
      lebih jelas, teliti sebisa yang dilakukan oleh diri Anda. Gambarkan dalam
      pikiran semua detail di sekeliling diri Anda sepeti cahaya, bau-bauan,
      benda-benda, kata-kata dan lain-lain (sesuatu yang dicerap oleh panca indera). 
    3. Bawalah gambaran itu sekalilagi ke benak Anda, sebanyak
      mungkin dan sedalam mungkin. 
    4. Lihatlah ke dalam diri terdalam Anda secara
      sungguh-sungguh untuk mengalami secara intensif sebisa mungkin dari
      perasaan-perasaan Anda yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. 
    5. Selanjutnya, jelajahilah perasaan-perasaan terdalam Anda
      yang “berhubungan” dengan pengalaman emosional tersebut dengan menuliskannya
      selama 30 menit. Gambarkan senyata dan sebisa Anda semua pikiran dan perasaan
      yang Anda miliki saat Anda membayangkan peristiwa tersebut. Selama menulis,
      masuklah ke dalam diri dan perasaan Anda, semakin menulis semakin dalam dan
      semakin dalam menyelami perasaan Anda. 
    6. Jangan menulis emosi Anda secara umum, akan tetapi
      bagaimana “reaksi emosional” dari perasaan-perasan terdalam dan pikiran
      terhadap peristiwa khusus tersebut. Deskripsikanlah perasaan dan pikiran
      tersebut dalam tulisan sedetail mungkin. 
    7. Jangan takut mengenai ejaan, susunan kalimat dan
      tatabahasa. Pokoknya tulislah pengalaman emosioanl Anda. Dan ingat! Sekali “memulai”
      untuk menulis, maka terus-meneruslah menulis sampai waktu 30 menit selesai. 
    8. Lakukan proses ini setiap hari. Tak akan ada manfaatnya
      menulis pengalaman emosional bila Anda tidak melakukan dengan prosedur di atas,
      apalagi tidak konsisten menulis setiap hari. Selamat mencoba! 
    9. Simpanlah buku Agenda atau catatan tentang pengalaman
      emosional Anda di tempat yang aman. Bila diletakkan di file laptop, simpanlah
      pada file yang sudah dikunci dengan kode.

     Refrensi:

    Siswanto, “Kesehatan Mental” (Jogjakarta: Penerbit Andi, 2007).

    1,699 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    13 tanggapan untuk “Menulis Pengalaman Emosional Bikin Sehat”

    1. SEtuju sekali Mas, saya sejak remaja sudah menulis buku harian dan kemudian beralih ke blog. Menulis bikin jiwa menjadi lapang karena mengeluarkan semua ide dan unek2 di dalam diri.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *