Menulis; Anima & Animus

    Perjalanan
    menulis, bagiku tak kalah serunya dengan perjalan berwisata. Di dalam pikiran,
    selalu ada banyak keindahan yang tak dapat menandingin keindahan alam. Karena,
    ia terkombinasi dari alam bayang dari beberapa keindahan alam yang sudah ada
    sebelumnya. Seperti keyakinan plato, manusia itu hidup sebelum hidup. Kehidupan
    yang dijalani sekarang, merupakan perwujudan dari penyembuhan amnesia.

    Wanita,
    aku pikir ia hanyalah manusia biasa seperti lelaki. Yang tak memberi ruang bila
    salah tingkah dan salah menyikapinya. Hayo!! bisa kau lihat alam semesta di
    mall-mall, di tempat yang memang rawan sekali. Lalu, apa tujuan mereka? Apa yang
    mereka inginkan? Mengapa harus mereka? Apakah mereka korban lingkungan?
    Namun,
    dibalik kelemahan wanita, ada kekuatan yang melebihi kekuatan lelaki. Ada ketabahan
    yang melebihi ketabahan lelaki, kesabaran, kepengertian dan keemosian. Sayangnya,
    lelaki itu adalah makhluk paling orisional bila dibanding wanita. Apakah menulis
    membutuhkan kelaki-lakian (Otak), atau keperempuan (Emosi)?
    Ya,
    menulis itu membutuhkan keduanya; otak yang mengarahkan dan emosi yang membuat
    tulisan begitu bertenaga. Mustahil, menulis menjadi ajang kemanfaatan bila
    hanya membelangkaian setiap sisi. Bukan tak mungkin, karena setiap manusia yang
    laki akan memiliki sisi perempuan (animus). Dan setiap perempuan akan memiliki
    sisi kelaki-lakian (anima).

    “Astaghfirullah,
    aku tidak menyalahkan wanita. Namun laki-laki lah yang mata buta”.

    1,135 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *