baruru

Menjadi Public-Speaker

    Suasana siang yang panas, menambah panasnya peluh yang berlumuran di atas permukaan kulit. Mulut bergemetaran, kaki tidak karuan, dan untungnya, batang-hidung masih bisa dipertahankan. Mereka yang berada di depan mata, seolah pemangsa yang kelaparan. Berbicara seenaknya sendiri, jika tidak, hanya sebatas membungkam pernyataan yang terlontarkan. Ada yang duduk di pojokan ruang kelas, sembari asyiknya men-update—status di HP atau laptopnya. Sementara yang di depan, di biarkan mangap tak karuan. Dipaksa memberikan argument dari setiap penjawantahan audiens.
    Ini adalah sebagai dari perasaan yang diungkap oleh speaker kelas-tunas. Baru tumbuh belajar menjadi pembicara yang baik. Mengapa perlu berbicara?  Mengapa perlu menunjukkan penampilan yang meyakinkan? Dan  bagaimana?
    Ir. Soekarno mampu mempengaruhi para audiens-nya dengan ungkapan orasinya. Sehingga, para pahlawan kita tergerak hatinya untuk memerdekakan bangsa dari penjajah belanda, jepang dan sebagainya. Bagaimana beliau mampu mempengaruhi setiap demensi lapisan masyarakat?
    Rata-rata, para orator adalah mereka yang cerewet. Dalam artian komunikatif. Seolah-olah tidak ada pintu bagi para pendiam. Kasihan kan? Tidak adil, menjadi pembicara yang baik bukan masalah pendiam atau tidak, lebih dari itu tergantung pada ‘kemauan dan kesiapan’ masing-masing dari kita.
    Sebenarnya, ada banyak macam-macam tipe kepribadian yang kita temui dalam suatu forum diskusi, seminar dan lain sebagainya. Dari pembicara yang serba apa adanya, sampai yang ada  apa-apanya. Sebut saja penulis novel bestseller “Laskar Pelangi”;Andrea Hirata. Saat diwawancarai dalam sebuah acara di Metro Tv oleh Andy dalam acara “Kick-Andy benar-benar memikat para penonton (baca; audiens).  Jika dipahami lebih dalam, ternyata kesederhanaan yang melekat pada kepribadian penulis inilah yang mampu menghipnosis para penonton.
    Penulis ini sudah membuktikan prinsip-hidupnya, ketika ia menawarkan kepada audiens, kecenderungan audiens adalah menerimanya. Karena, seseorang melihat dari apa yang dilakukan, baru kemudian pada apa yang diucapkan. Bukan pada ucapan. Hal ini juga menjadi bukti, mengapa memberi contoh yang baik oleh para guru-guru di sekolah lebih efektif dari pada ucapan yang tidak bisa ditebak ending-nya.
    Selain itu, prinsip talk last and do more perlu dijadikan kebiasan sehari-hari. Agar ketika kita berbicara, bisa mempengaruhi audiens. Pengalamanlah yang mengajarkan kesejatian, bukan materi di atas kertas tanpa makna yang dicari.
    Kata-kata inspiratif  dengan bukti pengalaman sehari-hari yang dirangkai dengan susunan kata yang baik mampu merasuki jiwa audiens. Maka penting, membiasakan diri menggunakan komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi verbal adalah kata-kata yang kita ungkapkan, sementara komunikasi non-verbal adalah intonasi, mimik muka, sikap kita, gerak-gerik kita dst.  Misalnya saja di sini Andrea Hirata mengungkapkan prinsip gurunya yang kemudian dibuktikan oleh dirinya, “impian yang tinggi itu penting, namun yang lebih penting adalah seberapa besar jiwa kita untuk impian tersebut”.

    Bentuk cerita dan susunan kata yang baik seperti di atas adalah sarana ampuh untuk mempengaruhi audiens. Juga yang tidak boleh dilupakan adalah kekontekstual-nya materi yang kita sampaikan sesuai dengan “kedekatan” mereka terhadapnya. Semakin materi dekat dengan kehidupan keseharian audiens, semakin mudahlah materi tersebut diterima dan menyusup ke alam bawah sadarnya. So, praktekkan apa yang sudah kita ketahui.
    Kediri, 13 November 2012.

    143 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *