Lomba-Blog-2014

Mengikhlaskan Cinta

    Siang itu Arya tanpak terpukul dengan
    kondisi dirinya sendiri. Bagaimana tidak, sudah sekian banyak wanita yang
    disukainya, namun mereka tak ada satu pun yang menaruh hati padanya. Ia hanya bisa
    menerima apa pun kondisi tersebut. Ia duduk di samping sahabatnya, bertanya dan
    mencoba meluruskan pandangan dirinya mengenai ketidakadilan cinta.
    Diam-diam sahabatnya tersebut juga
    memiliki masalah yang sama, namun dia tidak pernah mendekati seorang wanita
    apalagi memacarinya. Ia tak bisa berkata, kecuali juga jujur terhadapnya
    tentang apa yang sedang dihadapi. Angin masih terasa kurang sejuk, ia duduk di
    bawah kipas angin di dalam kelas usai perkuliahan siang itu.
    “kawan, akhir-akhir ini aku merasakan
    krisis cinta. Adakah solusi untukku agar dapat memenuhi kebutuhan cintaku tidak
    dengan berpacaran?

    tanya Arya kepada sahabatnya si Ahmad.
    “ah, kamu ini. Bukankah kau telah banyak
    mengetahui apa itu cinta.

    Arya menjawab, seolah ingin memancing pembicaraan lebih dalam lagi.
    “kawan, entah mengapa akhir-akhir ini
    keburuntuunganku kurang mujur ya? sudah berapa kali mendekati wanita, yang
    menurutku sholehah, eh malah ngga ada yang kecantol denganku. Aku jadi bingung
    kawan, mengapa sulit untuk mendapatkan jodoh.”
    “jodoh, lagi-lagi masalah jodoh yang kau
    bicarakan”.
    Maklumlah,
    Arya berulang kali mengeluh akan dirinya sendiri terhadap cinta yang kandas dan
    tak sempat selesai.
    “Iya kawan, aku merasa seakan hidup ini
    tak lengkap bila tak ada yang dicintai dan mencintaiku.”
    “Hah! Jadi kau merasa cinta itu penting,
    dan cinta harus ada timbal balik. Bila mencintai orang lain, berarti juga harus
    dicintai oleh siapa pun.”
    “iya, menurutku cinta itu harus adil.
    Bila menerima cintaku, berarti ia harus membalasnya dengan mencintaiku.”
    Ahmad terdiam sejenak. Menyandarkan
    punggungnya pada kursi, mengatur nafasnya agar mendapatkan ketenangan dan
    kenyamana jiwa. Dengan serbuan angin dari atas kepala.
    Kemudian ia menanggapi apa yang telah
    dikatakan Arya,”Awalnya aku beranggapan seperti apa yang kau alami. Dulu aku
    pernah dekat dengan seorang yang aku cintai, aku berharap suatu saat ia akan
    menjadi pendampinghidupku kelak. Telah kukorbankan waktu, tenaga dan apa pun
    yang ku bisa berikan kepadanya. Namun apa kawan, cintaku yang telah lama
    dipersembahkan tak ada gunanya. Tak ada balasnya, ia menjauh dan menghindar
    dariku.”
    “Lalu bagaimana terusannya?”
    “Setelah itu aku menjadi sakit. Sakit
    jiwaku, hatiku karenanya. Sesak dan semuanya telah kehilangan harapan.
     Aku belajar dari semua kejadian ini, bahwa cinta yang dilandasi oleh
    keegoisan diri tak akan berakhir dengan sempurna.”
    “Oh, tapi mengapa ya, semua yang
    diharapkan dan diinginkan terkadang menjauh, atau datang namun justru tidak
    sesuai dengan keinginan kita?”

    Tanya Arya.
    “Karena itulah, kita sepenuhnya tak dapat
    mengendalikan apa yang terjadi nantinya. Kita hanya mampu berusaha melakukan
    apa yang harus dilakukan. Berbicara cinta, ia tak pernah meminta. Cinta selalu
    memberi, cinta selalu menderita, tidak membenci, tidak membalas dendam demi
    dirinya sendiri.”
    “Lalu, apakah yang seharusnya aku
    lakukan?”
    “Ikhlaskanlah!” Ahmad menjawab tenang.
    “Sembarangan saja kau berbicara! Dia itu
    sudah cinta sehidup sematiku.”
    “Iya, aku hargai besar cintamu padanya.
    Tapi, siapakah yang bisa menjamin bahwa dia jodohmu.”


    “oh, jadi begitu!”
    “Benar kawan, saat kita mulai
    mengikhlaskan seseorang, saat itulah biasanya ia akan merindukan diri kita.
    Biarkanlah ia pergi dan memilih, namun kita memiliki hati yang ikhlas, pasti
    ada balasan yang terbaik bagi diri kita. Yakinlah!”
    Arya dan Ahmad sudah puas dengan
    pandangan mereka mengenai cinta. Arya akan menjalankan semuanya, memasrahkan
    cinta kepada dzat yang menciptakan cinta di dalam diri manusia. Cinta suci yang
    tak pantas dinodai dengan keegoisan diri. 

    (544 Words)

    180 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    22 tanggapan untuk “Mengikhlaskan Cinta”

    1. kok jleb banget ya? :') aku akan mulai belajar mengikhlaskan cinta padanya dari skrg.. tak ada yg menjamin bahwa dia adalah jodohku. makasih bang nasehatnya 😀

    2. wah…ini mah nggak cuma menginspirasi…tapi juga menyadarkan…kadnag cinta itu nggak jelas….kapan harus maju…atau menarik diri,,,,intinya….ya, inilah cinta….kalau tak ada hitam putih….tak akan asyik

    3. nyengir sendiri ngebacanya. ngerasa sepemikiran soalnya hehehe
      cinta itu memang seperti itu, ikhlas akan semuanya. ikhlas ketika cinta kita diterima dan kita harus ikhlas menerima yang kita cintai apa adanya. ikhlas pula ketika cinta itu kandas. karena kita tau semua akan ada akhirnya, namun kita tak pernah berhenti mencintai. begitulah

    4. menginspirasi sekali Gha.
      mengikhlaskan memang tidak mudah. tapi memasrahkan cinta pada yang kuasa akan jauh lebih indah. agar cinta itu hadir pada waktu yang tepat, dengan orang yang tepat pula, seseorang yang benar-benar digariskannya untuk menjadi pendamping hidup yang sesungguhnya. 🙂

    5. Bingung mau komentar apa. Ngerasa tertohok sama pembicaraan mereka.

      Retweet nih kalo bisa Kak. Bener emang, cinta yang mengharapkan balasan itu bukan tulus. Tapi egois. Belum tentu juga yang diharapkan itu yang terbaik. Kadang keegoisan mengalahkan semuanya. Kalo dia bukan jodoh, ya ikhlaskan. Pasrah aja minta yang terbaik sama Allah.

      Aduh ngomonginnya udah jodoh-jodohan aja…

    6. Ngasih masukan dikit ya Gha, itu kalimat ' di sebelah samping' kayaknya kurang efektif deh..

      Tapi untuk ceritanya harus diakui bagus gha, pesannya dapet banget tentang makna 'cinta' yang sebenar-benarnya..

    7. ikhlas itu memang luar biasa. apa lagi mengikhlaskan…berat tapi yang akan kita dapatkan jauh lebih luar biasa.mengikhlaskan sesuatu seperti melepaskan semua beban yang ada pada dirimu. Hal yang paling terasa adalah yang kau rasakan pada dirimu, karena ketika mengikhlaskan sesuatu itu kita membebaskan diri dari yang namanya menyakiti diri sendiri.
      ini bukan sok bijak, tapi bener… soalanya pernah ngalamin belum lama ini.
      postingan untuk lomba yah? semoga menang, pesannya dapat ditangkap sama pembaca. Tapi ada beberapa kata yang salah ketik,

    8. Jauh banget ya ama pemikiran ABG zaman sekarang, harusnya mereka baca postingan ini,
      Mantap bro, mengingatkan akan sang pencipta cinta itu siapa, kadang kita suka menyalahkan cinta tanpa sebab,bukannya di syukuri.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *