Mengendalikan Rasa

    Sangat
    mustahil kiranya kita sebagai makhluk jenis manusia melawan “rasa”. Rasa sedih,
    rasa suka, rasa benci dan apa pun itu. Dengan kata lain, rasa itu dimaksudkan
    dengan ‘emosi’. Bagaimana mungkin bila hati tak beraktivitas, tanpa kendali
    dari akal. Demikian, akal melahirkan wujud dari rasa, dan rasa mengukuhkan akal
    untuk sesuatu. Melawan rasa, itu artinya melawan akal. Kita tak bisa melawan
    akal sendiri, kecuali bila sedang “abnormal”.
    Runtutnya
    begini, ketika kita ditakdirkan dengan “kondisi” emosi dan rasa, saat itulah
    tak ada pengelakan-pengelakan. Bila tak mampu mengelak, mengapa memaksakan diri
    “melawan” takdir. Bukankah takdir itu ada yang mengaturnya, seperti penciptaan
    kita. Bersikeras terhadap perlawanan sama halnya kembali kepada jalan semula di
    setiap merasa telah berhasil melepasnya. Perasaan telah ‘terlepas’ darinya
    (emosi dalam takdir) itu petanda kita kembali ke semula. Sebab itulah, keinginan
    membuang takdir perasaan cinta tak bisa dilawan, ia tetap bersemi. Perlawanan
    yang ajib dan sportif ialah menerima, mengalihkan fokus dan biarlah waktu
    berkata dengan dirinya.
    Saya
    sendiri menghendaki pandangan Locke yang mengatakan sumber pengetahuan adalah
    pengalaman. Pandangannya, dan pandangan Descartes ingin saya satukan. Yaitu,
    pengetahuan dari alam akali. Sehingga, sinergis pengalaman tak berhenti pada
    rupa inderawi, namun abstrak yang bermakna dalam konsep-konsep. Sumber rasa
    merupakan inderawi, yang berarti berdasarkan pengalaman. Namun, kendali atas
    rasa itu sepenuhnya tak bisa diindewai, ia perlu direkonstruksi kembali dalam
    alam akali. Menjadi bangunan yang permainan sesuai ‘akal’.
    Hasil
    rekonstruksi alam akali tidak sepenuhnya kokoh, bisa saja hancur seketika.
    Yaitu, saat rasa kembali lagi datang, dibiarkan tumbuh dan berkembang. Di
    situlah, akumulasi rasa menjadi tanpak ‘lebih’ nyata dari sebelumnya. Efeknya
    sudah jelas, bukanlah perlawanan yang ada. Justu melawannya dengan lebih.
    Pasalnya, yang dilawan kekuatannya tambah besar. Cinta yang dipaksakan untuk
    dihapuskan dari kehidupan, pada akhirnya akan datang dengan “kekuatan” yang
    lebih besar dari sebelumnya. Ketika biasanya, cinta tak lagi ramah.
    Keberlangsungan
    cinta di dalam diri tak bisa dilawan, perlawanan satu-satunya ialah ‘waktu’.
    Biarlah ia melawan dalam kesabaran, dalam sangkaan yang penuh harapan. Bila tak
    ingin jatuh cinta, maka pasrahkanlah kepada takdir, yang bukan karena pandangan
    tiba-tiba jatuh cinta. Dan tidak pula karena kedekatan dengan seseorang, karena
    kebaikan. Namun, karena waktu yang menjawab segalanya. Bahwa, waktu yang besok
    akan hadir dalam kesempatan terakhir kali. Ya, berfikirlah bahwa waktu itu
    hanyalah esok dan sekarang.  Lebih ajib
    lagi, bila memikirkan waktu dalam ‘hari ini’ (sekarang) dan di sini. Seketika
    itulah, lambat atau pun cepat rasa itu akan bisa dihilangkan dan dilawan.

    796 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *