Mengawali dengan "Sambil Lalu" atau "Insight"

    Pernah tidak kamu diajak ikut berperang di wilayah zona berbahaya, misalnya di Palestina, di Irak atau di mana pun? Jika pernah, berarti kamu adalah seorang prajurit yang tangguh dan siap membela Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Beruntung sekali jika kamu itu adalah seorang prajurit, tidak tahu apa nantinya ya jika kamu itu bukan prajurit dan tidak pernah sama sekali mengikuti pelatihan wajib militer, kau pasti kebingungan saat sudah berada di area-perang.
    Kau memulai resah, bagaimana kalau aku mati ya! Memagang senjata saja masih belum bisa, hanya bermodal tekad. Karena masih harus melakukan banyak penyesuaian, akhihrnya pun “tekad” yang awalnya sangat bergelora kian semakin menjadi pupus sedikit demi sedikit seiring dengan pupusnya ketidakmampuan beradaptasi dalam keadaan ‘perang’.
    Begitu pun, sesuatu yang masih terasa baru perlu sekali dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Sifatnya yang kebaruan inilah sangat menuntut diri untuk melakukan banyak penyesuaian. Seorang yang belum berpengalaman berperang, dituntut untuk mempersiapkan diri, seorang guru yang tak pernah belajar bagaimana mengajar yang baik tidak akan pernah sukses mengajar jika tidak melakukan penyesuaian denga murid-muridnya.
    Suasana baru bisa digambarkan dengan bagaimana anak balita beradaptasi dengan keadaan untuk menjadi seorang ‘anak’ yang mampu berjalan, berlari ke sana kemari. Lihatlah, keingintahuannya yang tinggi, semangat belajarnya itu loh. Dia selalu belajar, meraba apa pun, melakukan apa pun hanya ingin mengetahui. Jadi, niatnya hanyalah untuk belajar, tidak untuk yang lain.
    Beradaptasi adakalanya “sambil lalu”, ini bisa disebut dengan trial and error, yaitu belajar beradaptasi sambil lalu menjalani. Memang, dalam hal ini lebih mengutamakan pengalaman pribadi yang bermakna, yaitu pengalaman kegagalan dan ketidak sesuaiaan dengan kenyataan. Anda yang tidak pernah berpengalaman menjadi tukang bakso, tiba-tiba ada hasrat untuk membuka toko bakso, atau mall bakso,   anda akan belajar bagaimana membuat, dan mamasarkannya. Kerugian yang harus kamu tanggung dengan sistem beradaptasi “sambi lalu” ini akan banyak mengorbankan waktu dan dana.
    Yang selanjutnya adalah beradaptasi dengan “insight”, yaitu belajar dari pengalaman orang lain. Bisa dengan langsung curhat, jika seseorang bersedia untuk membantu, atau belajar melalui buku-buku hasil pengalaman seseorang. Kelemahannya dari teori ini adalah seseorang yang pintar secara teoritis belum tentu menguasai adaptasi dengan sangat baik; mengaplikasikan ilmu yang sudah diketahuinya.
    Cara terbaik adalah mengambil kedua cara tersebut, Insight dan “sambil Lalu”, karena keduanya bagi penulis merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ia merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi, atau seolah-olah seperti kedua sisi mata uang lembaran. Ada Lebar (l) x tinggi (t).
    Dengan demikian, maka sudah kelazimnya usaha yang maksimal akan semakin dibuthkan dalam mengawali setiap usaha apa pun. Untuk kemudian, seseorang tak perlu ngoyo, mengingat ia sudah terlatih dengan suasana yang awalnya baru dan akhirnya menjadi alamiah. 

    590 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *