Mengapa Harus Ada Rasa Cinta

    Saya
    ingin mengetahui maksud ciptaan manusia beserta perlengkapannya. Tercipta
    dengan jiwa, dan juga cinta? Mengapa ada cinta dan mengapa juga ada benci?
    Mengapa ada kasihan dan mengapa ada kebiadaban? Pertentangan dua hal tercipta
    dalam diri manusia? mengapa dan saya bertanya sekali lagi mengapa demikian? Apa
    yang ada di balik ini semua? Seperti penciptaan kanan dan kiri, malaikat Raqib
    dan Atit. Termasuk juga menciptakan kebaikan dan keburukan yang selalu bergelut
    di dalam jiwa masing-masing manusia.
    Apakah
    ini yang dinamakan kehidupan di dunia, dua sisi ditampilkan. Sementara
    kehidupan akhirat dipisahkan dari dua sisi yang berbeda. Di mana, kebaikan
    bertempat di surga dan keburukan bertempat di neraka. Kebaikan, ya itulah yang
    diinginkan di dalam fitrah kemanusiaan, hati nurani berkata dalam hati yang
    berlumur dosa. Bila hendak memikirkannya dan mendengarkan hati kecil,
    selamatlah. Dan pengacuhan atas hati kecil, kebaikan dan kesempatan hidup di
    dunia maka meranalah nanti di kehidupan setelah kehidupan dunia.
    Kemungkinan
    pertama dari dua sisi yang berbeda dan ditampilkan di dunia merupakan bentuk
    ujian. Allah menciptakan akal agar difungsikan, bahwa pilihan atas segala
    tanggungjawab kehidupan. Dan itulah yang membedakan manusia dengan hewan yang
    tak berakal. Maka, martabat manusia bila diamati ternyata terletak pada
    bagaimana ‘menfungsikan’ akal demi kemaslahatan. Andaikan di dunia hanya ada
    kebaikan, apalah guna kehidupan? Manusia pada akhirnya akan hidup di surga.
    Kalau di dunia hanya ada keburukan, apalah arti kehidupan sebagai tempat ujian.
    Nanti surga ga berguna apa-apa.
    Dalam
    sebuah hadits disebutkan, ‘isy maa syi’ta fainnaka mayyitun, wahbib maa
    syi’ta fainnaka mufaarikun, wa’mal maa syi’ta fainnaka majziyyun bihi.

    Artinya, hiduplah sesukamu, toh akhirnya kamu akan mati. Cintailah siapa
    pun sesukamu, toh akhirnya kamu akan berpisah, dan lakukan sebebasmu,
    toh
    akhirnya kamu akan mendapatkan balasannya. Inilah sebuah kebebasan yang
    ada di dunia, kebebasan yang sebebas-bebasnya terletak pada kendali kita.
    Sementara, di akhirat tak ada kebebasan dalam memilih, karena di sanalah tempat
    pembalasan.
    Inilah
    keyakinan saya, takdir penciptaan dua hal yang berbeda sejatinya “menyaring”
    sikap. Ketika individu dihadapkan pada dua hal yang berbeda, kemanakah pilihan
    diputuskan? Nah, dengan adanya ini akan diketahui manakah yang patut dikatakan
    sebagai hamba Allah (‘abdullah). Atau hanya saja saya mudah percaya
    begitu saja pada performance semata, pada jubah dan surban tanpa melihat sisi
    bagaimana ia menghadapi ujian hidup. keimanan seseorang bisa dilihat saat di
    puncak kenikmatan hidupnya, atau pun puncak ‘terendah’ kemalaratannya.
    Kemungkinan
    kedua, yaitu Allah tahu manusia cepat bosan. Dengan menghadirkan benci, agar
    mudah memahami dan mengerti arti dari rasa cinta. Bagaimana mungkin saya bisa
    tahu dan mengerti siapakah diri saya, bila saya hanya diciptakan seorang saja
    tanpa orang lain. menghadirkan dua yang berbeda, berarti membandingkan.
    Membandingkan memberi pemahaman, bahwa inilah yang ini dan itulah yang itu.

    Jadinya,
    saya perlu memikirkan kembali tidak ada dua hal yang benar-benar menyatu.
    Misalnya, orang itu baik sekaligus buruk. Orang itu cinta dan benci sekaligus.
    Yang ada hanyalah waktu, bergantian hadir antara dua hal yang berbeda. Saat
    benci, saat itulah sebenarnya rasa sayang mulai tumbuh kembang. Saat sayang
    ada, benci akan tumbuh berlahan. Makanya, mengapa cinta itu tak perlu
    berlebihan dan tak perlu ditinggalkan. Di tengah-tengah dari hal yang berbeda
    semua ini merupakan keseimbangan. Syetan tak akan masuk dalam cinta yang
    ikhlas; cinta yang sewajarnya saja. Semoga, kita semua lebih arif berfikir dan
    menjalani cinta kepada manusia.
    MG. Ma’ruf (08 Juli)

    761 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Mengapa Harus Ada Rasa Cinta”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *