Mengalah

    Siapa yang tidak muak, nomer antrian diserodok
    begitu saja. Pagi itu
    seorang ibu penjual nasi pecel berada dalam kebimbangan, antara merasa bersalah
    atau tidak. Ia tak sadar, siapakah urutan antrian pembeli dagangannya. Barulah
    ia tersadarlah ketika lelaki muda itu pergi, “mas, mau ke mana?” Sambil lalu
    bertanyalah ibu muda tersebut. “Masnya itu lebih dulu atau tidak?”. Seorang
    perempuan, anak kandungnya menjawab, “iya, masnya itu”.
    Sebelumnya, lelaki datang ke warung
    lesehan di serambi rumah. Jajakan pecel dan tumpang menjadi menu utama, selain
    gorengan juga ada. Ia duduk, mengantri untuk membeli. Tibalah saatnya,
    datanglah lelaki lain, ia dilayani dan diberilah seporsi pesanan di tempat.
    sesaat kemudian, datanglah dua perempuan, ia memesan dan langsung dilayani
    dengan dua porsi pecel. “Lelaki itu mulai geram”, mengapa tak dilayani?
    Sampai akhirnya, datanglah ibu usia
    40-an. Ia dilayani berdasarkan pesanan. Merasa tak dilayani, lelaki itu
    akhirnya meninggalkan warung tersebut. “Dasar si penjual! Tak memberikan
    pelayanan pada konsumen. Panggilan “Mas, mau kemana?” tak dihiraukannya lagi.
    Ia tinggalkan tanpa kata, dengan wajah yang bersungut-sungut.
    Kenapa harus mengalah?
    Sejak penciptaannya, manusia itu
    dikatakan “bodoh.” Bodoh tak memikirkan, dan menerima begitu saja “amanah”.
    Saat itu, bumi, gunung tak mau dan merasa tak mampu dengan amah tersebut. Tapi,
    manusia itu dengan agak sedikit angkuh—atau berangkali sombong—merasa mampu. Maka
    benarlah, manusia itu selain diciptakan memiliki unsur ketuhanan, juga ada
    unsur keiblisan.
    Sekali lagi, untuk apa mengalah?
    Kenapa harus mengalah kepada
    ketidaksenonohan manusia? Biar tahu rasa, tit
    for tat
    harus tetap berlaku. Biar mereka sadar, dan menjadi manusia yang
    tak seenaknya sendiri. Seperti mengantre yang dianggap sepele. Mengapa seorang
    tak bisa tertib mengantre? Apakah mereka tidak malu, dengan begitu ia tunjukkan
    dirinya di atas dengan menginjak yang dibawah. 

    Mungkin inilah alasan, mengapa iman
    terbagi menjadi dua bagian; sabar dan syukur. Dengan keimanan, seseorang tak
    hanya istimewa di hadapan-Nya, di mata manusia juga kan hidup mulia. Mulia?
    Iya, kemulian dan mendapatkan kehormatan.
    Berkat kesabaran ini, kehidupan manusia
    menjadi lebih berharga. Pahitnya hidup terasa lebih indah dengan kesabaran. Berikut
    pun dengan syukur, satu-satunya senjata paling manis untuk mempertahankan
    segala ‘kenikmatan’ anugerah ilahiyah.
    Mengalah kepada keadaan tak dapat
    dibenarkan. Lihatlah bagaiman Ernisto Che Guevana, gerilyawan Argentina
    penumbang Havana bersama Fibel Castro. Secara fisik ia terlahir lemah, dan
    penyakitan—asma. Ia bisa bangkit, melawan keadaan dan terus berambisi.
    Tidak bisa disalahkan, bila mengalah
    itu tak harus dilakukan. Terus melawan, dan tidak mengalah. Yaitu, tidak
    mengalah kepada keadaan, tidak mengalah kepada kondisi, tidak mengalah kepada
    keegoisan manusia, dan kepada segala bentuk ketidaknyamanan kolektif.

    1,110 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    13 tanggapan untuk “Mengalah”

    1. tidak mengalah pada keburukan 🙂

      istilah mengalah untuk orang jawa menjadi ngALLAH,,,

      mengalah menjadi strategi dakwah rasulullah ketika dalam perjanjian hudaibiyah dengan kaum kafir mekkah…

      banyak sahabat beliau yang menentang karena merasa bahwa Rasulullah membuat keputusan yang terlalu "lemah"..

      Namun itu salah satu strategi Rasulullah untuk maju dan pada akhirnya mampu untuk menaklukan mekkah, atau fathul mekkah,,,,

      energy ngalah memang luar biasa…mendahulukan orang lain atau ietsar menjadi pilar penting dalam akhlak dan aqidah orang yang beriman

      semoga kita senantiasa dijaga dari keangkuhan dan mampu mengalah untuk kebaikan…Amiin

    2. "Mungkin inilah alasan, mengapa iman terbagi menjadi dua bagian; sabar dan syukur. Dengan keimanan, seseorang tak hanya istimewa di hadapan-Nya, di mata manusia juga kan hidup mulia. Mulia? Iya, kemulian dan mendapatkan kehormatan. "

      belajar banyak dari kalimat ini…. thanks yaa

    3. Mengalah itu butuh situasi tepat sih menurutku. Kalau memang kita merasa hak kita dirampas ya jangan mau mengalah. Tapi bila kita merelakan hak itu pada orang lain, ya tidak masalah. 🙂

    4. Angka Ramalan, Jitu Dan Akurat SGP/HKG 2d 3d 4d yang bisa anda menangkan eyang woro manggolo di 082-391-772-208 Atau angka yang di berikan eyang benar2 jebol langsung 6D tak saya sangka saya menang 250 jt sudah 3 kali putaran berturut-turut saya menang sudah banyak yang lain tapi tidak ada bukti hanya eyang lha yang bisa membuktikan angka nya eyang saya sangat berterimah kasih eyang.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *