Menemukan Kebenaran Nalar-Cinta

    Salah satu fitrah manusia itu adalah perasaan ingin dicintai dan mencitai. Kita tidak bisa memaksakan cinta kepada orang yang bercinta sebelah tangan kepada kita. seperti bagaimana cintanya remaja sekarang, yang kurang tahu aturan dan norma sosial masyarakat. Padahal, dengan adanya lawan jenis Allah jelas-jelas berfirman di dalam al-Qur’an, “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”(QS 30:21)

    Sayangnya, bagaimana menyikapi permasalahan akan cinta sudah menjadi salah kaprah. Padahal, hakekat cinta itu adalah suci dan membahagiakan. Perilaku percintaa mutakhir benar-benar tidak benar bila dikatakan benar. Coba anda survei ke kota besar yang ada di seluruh kota, lihatlah dengan mata dan hati di mall-mall, tempat pariwisata begitu menjamurnya ‘gandeng-tangan’. Bukankah ini masalah? Tentu tidak, karena lingkunganlah yang membiarkannya sehingga menjadi suatu kebiasaan dan “alah biasa wae”.  Kenyataannya, bila menelisik ke sepuluh tahun silam, hal tersebut sangat dikerdilkan oleh masyarakat, dicaci-maki. Beginilah dampak dari pengacuhan terhadap amal makruf nahi mungkar.
    Saya kira, semua yang menjadi perilaku berawal dari sikap. Dan sikap itu sendiri berawal dari pikiran. Jadi, yang perlu disalahkan bukan pada perilaku, lebih pada pemikiran. Ketika cinta bersemi,  terkadang pikiran error not found bisa berfungsi dengan baik. Kiranya adalah yang lebih tragis lagi, ia mengetahui bahwa sesuatunya jelas-jelas tidak baik, namun tetap saja dilakukan. Untuk itulah, kecerdasan dan hakekat berfikir yang lebih sistematis mengenai kebenaran cinta menjadi sangat urgens.
    Plato mengatakan bahwa kebenaran yang hakiki itu apa yang ada di alam ide, sedangkan kenyataan yang ada di sekeliling kita merupakan ‘bayangan’. Dan ini merupakan konsep metafisika darinya.  Alasan beliau cukup sederhana, ia menganggap bahwa pengetahuan itu tidak boleh berubah seiring berubahnya wujud-fisik dari alam nyata.  Maka, cinta yang dinyatakan bukan pada waktunya, bukanlah kebenaran cinta. Justru, kebenaran cinta sejati terletak pada diri idea-manusia.
    Lihatlah alam kenyataan fisik, cinta yang terlanjur dinyatakan tidak tepat pada waktunya selalu berakhir pada penderitaan bathin. Sebaliknya, mereka yang sigap bercinta sebelah tangan, atau cinta bertepuk sebelah tangan selalu memiliki kondisi fisiologis yang lebih baik.

    720 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Menemukan Kebenaran Nalar-Cinta”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *