Mendengar atau Mendengarkan

    Mendengarkan lebih mengarahkan kepada hubungan antar pribadi. Bagaimana membina kenyamanan dalam berkomunikasi. Oleh karena itulah, seseorang diterima, dibutuhkan bahkan mungkin yang awalnya merasa tak nyata menjadi begitu tanpak nyata adanya. Ia ada, tidak disingkirkan atau diacuhkan oleh dunia. Pemahaman terhadap lawan komunikasi di sini menjadi sangat penting; mengebal keunikan dirinya dengan sifat-sifatnya.

    Seseorang yang terdengarkan keluhannya terkadang selalu baik dibanding jika merasa bahwa masalahnya sudah terselesaikan. Meluangkan waktu baginya, adalah harapan yang sangat penting, siapapun selalu ingin bisa diterima, diakui dan dihargai. Yang pada akhirnya ingin dicintai, dengan cinta-kasih sayang maka semuanya akan terwujud dengan nyata.
    Untuk kamu yang ingin belajar menjadi pendengar yang baik perlu memiliki suatu keputusan, baru kemudian mengeluarkan segenap kemampuan mental guna menggobrak zona ketidaknyamanan menjadi zona yang nyaman. Baru langkah terakhir, benturkan semuanya dengan mencoba, bukan diangankan. Dengan cara memperbanyak latihan dari waktu ke waktu. Bila saja tidak dilatih, maka kemampuan itu akan kembali ke dalam keadaan yang semula.
    Ada beberapa penghalang mengapa seseorang cenderung mendengar daripada mendengarkan. Pertama, keasyikan dengan pikiran, perasaan, emosi, ketakutan dan kecemasan yang ada di dalam diri. Keasyikan ini sampai melupakan satu hal, bahwa seseorang ingin didengarkan. Hal ini disebabkan oleh penutupan diri, jangan-jangan ‘kelemahan’ diri diketahui oleh orang lain, yang pada akhirnya berujung kepada penolakan. Maka, solusinya adalah kemampuan untuk menjadi diri sendiri, terbuka dan apa adanya menjadi sangat penting dalam menyelesaikan satu penyebab pertama dari mengapa seseorang tidak mendengarkan orang lain.
    Kedua, merasa sok tahu. Belum-belum sudah mudah sekali menyimpulkan ini dan itu. Yaitu perasaan mengetahi apa yang dipikirkan, dirasakan dan dibutuhkan oleh orang lain terhadapmu.  Dan perasaan ini dinilai kurang menguntungkan bagi seseorang yang ingin didengarkan suara hatinya. Bagaimana mungkin kamu mengetahui masalahnya, padahal yang mengalami masalah itu hanyalah dia. Ingat, setiap orang itu ingin dimanusiakan dalam artian yang sebenar-benarnya, maka sangat tidak etis bila meremehkan sisi kemampuan problem solving oleh diri sendiri.
    Ketiga, gegabah dalam memberikan komentar terhadap pembicaraan yang belum terselesaikan kalimatnya. Menyadari, setiap seseorang memang dikarunia kemampuan yang sangat luar biasa, otaknya mampu berlari melebihi kemampuan pendengarannya. Akibatnya, kecenderungan menghakimi dan menilai pesan-pesan yang disampaikan oleh orang lain merupakan suatu kehausan. Bagaimana mungkin bisa menjadi pendengar yang baik, bila pembicaraan orang lain selalu dipatahkan dan tak dihargai?
    Keempat, mengindahkan pesan non-verbal, yang berupa hal-hal di luar pembicaraan. Seperti gerakan tubuh yang mengisyaratkan sesuatu, mimik muka, cara berbicaranya sampai pada cara menatapnya. Semua memberikan satu arti penting dan tujuan yang pasti. Maksud dan makna di balik perilaku tersebut.

    540 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Mendengar atau Mendengarkan”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *