Mencintai Pekerjaan; Lebih dari sekedar Menikmatinya

    Sebagaimana
    semangat dan malas, cinta juga merupakan fitrah di dalam diri setiap diri kita.
    Semuanya ada di dalam diri, bila maslas, berarti tidak lagi berminat melakukan
    sesuatu. Tidak mungkin kedua-duanya berkumpul di dalam diri yang satu. Maka,
    memberi kesempatan sedikit saja kepada kemalasan sama halnya membiarkan
    kesempatan untuk bersemangat hilang dari hadapan diri kita.
    Mencintai
    apa yang menarik bagi diri sudah menjadi hal yang biasa, dari hal yang mudah,
    baru dan penuh dengan nilai-nilai ketertarikan. Bisakan seseorang mencintai
    sesuatu yang tidak dicintai? Mencintai apa yang menjadi beban bagi diri kita
    masing-masing. Masalahnya, apa yang kita cintai seringkali memberi satu nasib
    “belum tentu baik bagi kita”. Karena itulah, cinta perlu diusahakan dalam
    kancah perilaku yang baik.  Ada beberapa
    langkah untuk membuat hal yang tak diminati menjadi begitu sangat dicintai.
    Sudut
    pandang, bagaimana kita memandang pekerjaan yang ada. Terhadap segala
    rintangan, cobaan yang menghalangi langkah kita. Apakah pekerjaan yang sedang
    kita kerjakan dipandang sebagai beban, ataukah sebagai keasyikan tersendiri.
    Begitu pun dengan rintangan, apakah halangan yang ada kita pandang sebagai
    cobaan, ataukah sebagai tantangan pelecut semangat kita ke depan. Sudut pandang
    kita terhadap sesuatu, mencerminkan bagaimana kemudian kita bersikap dan
    berperilaku. Bila pekerjaan dianggap sebagai beban, maka bisa jadi dalam
    bekerja kita menjadi seorang yang malas.
    Dari
    sudut pandang, akan membentuk suatu keyakinan di dalam diri. “yakin” yang
    menurut beberapa orang menjadi komponen penting dalam berperilaku. Banyak orang
    yang sebenarnya bisa melakukan, namun karena kurangnya keyakinan terhadap diri
    sendiri, akhirnya ia pun tidak berbuat sesuatu sedikit pun. Alhasil, ia tidak
    mendapatkan sesuatu apapun. Bahkan keyakinan dapat mempengaruhi hasil dari
    usaha yang dilakukan.  Jadi, sudut
    pandang akan mempengaruhi perilaku. Bahkan, sistem keyakinan di dalam diri pun
    juga akan terpengaruhi yang kemudian mempengaruhi “perilaku” kita.
    Pekerjaan
    bisa dipandang sebagai “hal baru”. Semangat kebaruan ini biasanya memberi rasa
    cinta. Karena kekaguman kita terhadap hal tersebut. Lihatlah dan carilah dari
    setiap inci pekerjaan akan nilai lebih atau positifnya. Dari sini kemudian,
    suatu kekaguman akan muncul berlahan. Apalagi, bisa merasakan manfaat dari
    pekerjaan tersebut secara “nyata”. Hasilnya, kita menjadi begitu nyaman
    dengannya.
    Contoh
    saja,  mengapa sikap seseorang berbeda
    terhadap suatu hal. Itu semata karena tidak melihat ‘nilai lebih’ terhadap
    objek tersebut. Semakin seseorang melihat jelas nilai-nilai yang tersembunyi,
    maka akan tertarik dan berminat terhadapnya. Mengapa seseorang tertarik kepada
    lain jenis, karena ada nilai-nilai yang ia lihat darinya; bisalah karena
    kecantikannya, kepandaiannya atau pun alasan apa saja yang dianggap sebagai
    kelebihan di dalam dirinya.
    Setelah
    nilai terlihat, carilah dan kejarlah sampai hal tersebut digenggam. Melihat
    saja tak cukup, kita harus mengejar dan menemukannya agar ada ‘perasaan
    tersendiri’. Seperti perasaan puas dan kesenangan akibat penemuan tersebut.  Bila ini terulangi kembali, akan ada perasaan
    lagi. Dan seterusnya, sampai kesenangan menjadi begitu ‘kebutuhan’, secara
    tidak langsung hal yang mengakibatkan kesenangan juga dibutuhkan. Seperti
    kenikmatan sebagai kebutuhan, maka makan menjadi hal yang dibutuhkan pula. Dari
    butuh ini kemudian, bisa timbul rasa lebih dari sekedar ‘cinta’.
    Jadi,
    cinta terhadap sesuatu dibentuk oleh sudut pandang yang benar, menemukan nilai
    dan merasakannya. Sehingga, terbentuklah suatu kebutuhan yang menimbulkan
    cinta.

    630 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *