Mencinta tanpa Mengharap Dicintai

    Cinta itu adalah ketulusan hati, tanpa mengharapkan sesuatu yang akan kembali kepada dirinya sendiri. Ia adalah kata aktif, yang tak membutuhkan keaktifan cinta orang lain. Yang memberi cinta, tanpa ‘mengharap’ dicinta pula. Inilah cinta yang benar-benar murni, cinta yang diuji dan cinta sejati. Namun, bagaimana pun cinta inilah cinta yang lebih menantang.
    Cinta (cinta yang tidak murni; bukan cinta sajati) tak harus diekspresikan, ia memiliki tempat dan waktu yang tepat untuk itu. Daripada kecewa ditolak, lebih baik disimpan di dalam hati saja. Hanya sebatas keinginan hati yang masih bisa dikendalikan. Memaksakan cinta, dengan cara mengepresikan kepada orang yang dicintai, dan nyatanya ‘ditolak’, yang akan terjadi adalah kekecewaan. 
    Cinta yang sejati justru harus segera diekspresikan, dengan cara yang halal pula. Yaitu, cinta yang dilandaskan pada nilai-nilai keagamaan, dan kemanusiaan. Dengan cinta inilah kehidupan akan tetap berlangsung untuk seterusnya. Bahkan, dalam sebuah penelitian pada tahun 2002 dikatakan kebutuhan jiwa manusia terhadap cinta sama halnya kebutuhan jasmani terhadap oksigen.
    Tak bisa dipikirkan, bagaimana jadinya jika cinta tak ada dalam jiwa manusia. Yang terjadi permusuhan antara sesama, pengemis akan mati kelaparan, perpecahan, dan seterusnya. Terhadap kesehatan, cinta ternyata menjadi obat mujarab bagi mereka yang galau, stress dan depressi. Untuk itulah, saat hati bergejolak akan suatu masalah, hadirkanlah rasa cinta agar bisa mewarnai kehidupan jiwa.
    Hal-hal penting dalam dunia percintaan adalah cinta itu membuat tubuh menjadi lebih sehat, semakin kuat seiring terpenuhi kebutuhan jiwa (akan cinta). Hal itu terjadi akan pengaruh jiwa terhadap raga. Ketika raga terganggu, jiwa pun akan merasakan hal yang sama. Begitu pun dengan kebutuhan jiwa yang tak terpenuhi, akan menyebabkan raga terganggu pula. Untuk pemenuhan cinta inilah, islam menggariskan beberapa cara yang sangat bijaksana. Karena islam sendiri tidak menolak akan kenyataan cinta, hanya saja kanalisasi cinta yang tak tepat itulah yang dicela dengan sangat tegas.

    Untuk itulah, cintailah dengan ikhlas tanpa mengharapkan apa-apa. Dengan semurni-murninya tanpa ada sesuatu yang diinginkan, kecuali sekedar memberi cinta. Sebatas itu saja.

    835 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *