Menanggalkan Diri untuk Mencintai

    “seni kehidupan sejatinya seni kematian,” ungkap Gandhi
    dalam sebuah buku “Gandhi The Man.” Buku
    yang ditulis oleh Eknath Easwaran ini menghadirkan sosok manusia suci tersebut
    lebih dari sekedar biografi kehidupannya. Ada semacam pandangan hidup, nilai-nilai,
    catatan-catatan Gandhi yang begitu mendalam mengenai kehidupan, politik, dan ninkekerasan. Dalam catatanku kali ini,
    ingin sekedar mengulas kembali mencocokkan bagi kehidupan masyarakat kita, bumi
    pertiwi.
    Sebaik apa pun sebuah nilai, bila tak didukung oleh diri
    kita tak ada artinya. Kebenaran ada karena ia dilakukan, pada waktunya akan
    hancur oleh kurangnya perhatian dan dukungan dari manusia. Kejahatan apa yang
    kita lihat senyatanya merupakan buah dari pembenaran diri kita akannya, kita awalnya
    menganggapnya tabu, dengan waktu kemudian menjadi biasa, dengan waktu pula
    kemudian menjadi hal yang lumrah bahkan seolah tak bertentangan dengan
    kebenaran. Ini semua, berawal dari akar di dalam diri, melihat sesuatunya untuk
    kepentingan diri sendiri.
    “Hanya sedikit dari kita yang
    melihat hidup sebagaimana nyatanya. Sebagian besar orang hanya melihat hal-hal
    dari sudut pandang sendiri, memandang orang lain dengan kacamata kesukaan dan
    kebencian, prasangka dan praduga, hasrat, kepentingan, dan ketakutan diri
    sendiri.”
    (Mahatma Gandhi)
    Kepentingan itu yang terdapat di dalam diri seseorang
    kemudian memaksakan kepada lingkungannya menyebabkan penderitaan pada jiwa. Keinginan
    telah membelenggu masing-masing orang, bila tak tercapai akan melipatkan
    belenggu tersebut. Bahkan, tak pelak kepercayaan kepada Tuhannya pun
    tergadaikan oleh sebab tersebut. Tidak yakin kepada-Nya sebagai Dzat pemberi. Akibatnya,
    jiwanya semakin kosong dan jauh dari kedamaian.
    Menanggalkan diri lalu berarti mencapai ahimsa. Ketika cinta atas hidup orang lain lebih utama atas
    kehidupan diri sendiri, kepentingan orang lain jauh di atas kepentingan diri
    sendiri. Di sinilah seseorang sudah mencapai tingkat menanggalkan dirinya. Otomatis
    saja, cinta yang tumbuh seketika kedamaian. Bukanlah cinta pamrih, namun lebih
    cinta kepada kesucian. Yaitu, cinta yang memberi, tak mengharap, cinta yang
    membebaskan tak mengikat, cinta yang menderita namun tak memaksa. Sungguh,
    cinta suci benar-benar menguatkan setiap jiwa pemiliknya.
    Cinta pamrih dan mengharap merupakan proses transaksi, di
    mana penerima cinta sekaligus pemberi cinta. Begitu pun sebaliknya. Bila saja
    tak ada respon dari penerima cinta, maka cinta yang muncul dari pemberi kadang
    lebur dan hilang. Kecuali, ketulusan cinta ahimsa
    di dalam dada.  Betapa banyak anak muda
    yang terpaku pada cinta pamrih, cinta yang mereka akui sebagai “keabadian”
    nyatanya sebuah kemunafikan, menyakitkan.
    Jika kamu membiarkan pikiranmu terbawa oleh bujukan
    rayu inderawi, mereka akan menghanyutkan
    akal sehatmu layaknya angin puyuh
    menerpa sebuah kapal sehingga keluar jalur, menuju
    kehancuran….
    *(dalam Bhagavad Gita)

    akhirnya, mencintai itu merupakan sebuah seni. Yang perlu
    dilatih agar tak didasari oleh “diri”, oleh “kepentingan, kecenderungan dan
    keinginan” diri sendiri. Mungkin apa yang dianggap benar bagi kita, nyatanya
    tak begitu benar bagi orang lain. mencintai perlu ketulusan yang tak ditipu
    atau pun tertipu inderawi. 

    1,160 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    14 tanggapan untuk “Menanggalkan Diri untuk Mencintai”

    1. bang Agha emang paling keren lah kalo bikin postingan, bener juga cinta itu kaya seni, beda orang beda sudut pandang dan cita rasa. jadi kita harus bisa melihat cinta dari berbagai sudut pandang dan tidak terpaku pada satu sudut pandang.

    2. banyak kata untuk mengartikan cinta. dimasa kini memang banyak orang yang memandang sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. sehingga kadang muncul prasangka yang buruk pada orang lain. sedangkan prasangka itu belum tentu benar adanya.

      menanggalkan diri demi sebuah kecintaan adalah hal yang suci. sesungguhnya begitulah cinta pada hakikatnya. cinta yang tanpa pamrih. tanpa mengharapkan balasan, namun tak lelah untuk memberi. meskipun akan ada derita didalamnya. 🙂

      keren postingan mu Gha . 😉

    3. Mas Agha seperti biasa tulisannya mendalam, mengupas sesuatu dengan sudut pandang yang membuat kita ikut merenungkannya. Mahatma Gandhi pernah kubaca profilnya di cukilan buku Intisari lawas. Tapi bahasan ahimsa-nya gak begitu mendetail. Bahasa ini berat dan puitis. Makanan bergizi. Makasih sudah bukain mataku tentang cinta.

    4. Jos nih ngomongin tentang cinta dengan mengambil beberapa pendapat dari orang2 besar…

      mencintai itu masalah hati, dan kalau ada keluhan saat mencintai seseorang menurut gue itu cinta yang bukan benar2 cinta..

      postingannya dalem, gue bingung mau komen gimana lagi nih Gha, hehe

    5. waahh ngomongin cinta nih.
      setahu gue sih cinta itu gak pamrih, cinta menerima apa adanya dan tidak menuntut pasangan harus menjadi sedmikian rupa, cinta juga harus ikhlas. tidak ada yang abadi tentang cinta, kecuali cinta kita kepada Tuhan.

      keren banget tulisan bang makruf, bisa memaparkan tentang cinta sampe sedemikian rupa 🙂

    6. wah, keren mas tulisannya. Btw aku suka yang mas tuturkan soal hal yang salah yang karena terlalu lama diabaikan akhirnya sampai juga pada suatu titik yang lebih salah, yaitu dianggap benar.

      Soal cinta yang dibilang seni, aku setuju. yang dilatih jg setuju, berarti kalau kita pengen bisa mencintai tanpa pamrih, kita harus sering melatih itu dengan mencintai banyak orang sekaligus *eh

    7. Awalnya aku agak susah paham juga mungkin karena bahasanya sedikit berat kali ya. Aku belum bisa terbiasa dengan kata-kata yang berat gini hehe.

      Tapi intinya ini emang tentang cinta. Cinta emang luas banget maknanya. Juga kamu memasukkan pengertian cinta menurut beberapa ahli.

      Cinta tanpa pamrih, bisa juga dibilang cinta tulus. Susah sih sebenernya buat bisa mencintai orang tanpa pamrih karena hakikatnya, kita sebagai manusia pasti berharap orang yang kita cintai pun bisa mencintai kita juga.

      Aduh semoga komentarku nyambung ya Kak. Karena itu yang bisa sedikit aku tangkap dari postinganmu 😀

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *