Membiasakan Kritikan Sejak Dini

    Ternyata,
    kehidupan itu hasil dari proses pembiasaan. Kebiasaan ini memberikan suatu
    dampak yang berupa kenyamanan. Dan inilah yang membuat orang merasa enggan
    untuk sekedar keluar dari zona nyaman-amannya, karena pikirannya mengatakan ‘ini
    menyerangku’. Ambil contoh saat kamu merasa nyaman dengan kebiasaan merokok—kebiasaan
    tidak baik, sulit untuk mengubahnya dibanding dengan membisakan merokok sedari
    awal.
    Terbiasa
    merokok, nyaman dengan rokok. Itu artinya, berhenti sekedar dari merokok dirasa
    tidak nyaman—karena perasaan itulah yang mengancam dirinya. Dan saat keinginan
    muncul untuk benar-benar berhenti merokok, namun pikiran tetap terangsang
    padanya, sulit rasanya berhenti darinya. Sebaliknya, bagi yang belum pernah
    merokok jangan sekali-kali mencoba merokok, apalagi jatuh pada narkoba. Nyamanlah
    dengan keadaan diri yang terbebas dari jeratan keduanya.
    Ini
    soal pembiasaan dan kenyamanan serta sulitnya membiasakan hal yang baik,
    sedangkan sebelumnya sudah terbiasa dengan yang negatif. Lalu?
    Otak
    anak-anak jelas berbeda dengan otak dewasa. Namun, tahapan perkembangan menurut
    Jean Peaget antara usia 11-15 sudah memasuki tahapan formal operational. Dimana,
    kemampuan analisisnya sudah baru berkembang. Dan sejak memasuki usia remaja,
    kemampuan ini semakin meningkat ditambah dengan kemampuan prediktif. Nah, bila
    sudah terbiasa seperti orang dewasa, yang pikirannya cepat bercabang ke
    mana-mana itu sudah lumrah. Karena kedewasaan seseorang ditandai dengan banyak
    berfikir, sehingga kesulitan mengambil sebuah keputusan.
    Nah,
    ini kalau berbicara soal perkembangan kognitif seseorang. Membiasakan mengkritik,
    sebenarnya syarat bagi perubahan kemampuan seseorang. Aku pernah mendengarkan
    sebuah kiat bagi perubahan yang dicanangkan oleh Prof. Fauzan bahwa kritikan
    kunci dari perubahan. Mengaca, dan mempertimbangan kritikan itu bukan celaan. Pujian
    itu bukan jilatan. Bedakanlah antara keduanya!

    Bila
    sejak dini dibiasakan mengkritik, maka semua serasa lebih muda. Baik bagi
    kesehatan pikiran, dan kesehatan perasaan.

    850 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    17 tanggapan untuk “Membiasakan Kritikan Sejak Dini”

    1. membiasakan kritikan atau menerima kritikan yang saya saksikan malah banyak orang yang pintar mengkritik tapi enggan menerima kritikan… bagus juga sih kritikan buat diri agar kita tahu apa yg perlu di benahi.. dan kalau pun mau mengkritik semestinya kritikan yg membangun bukan menjatuhkan

    2. gua gak ngerokok, tapi orang yg dilingkungan saya dominan merokok semua. lama-lama bisa jadi perokok pasif ni -_-

      maslah kritikan, lebih baik mendapatkan kritikan positif daripada pujian palsu. kalo kritikan positif kita bsa intropeksi diri buat lebih baik kedepannya.

    3. jean piaget, itu nama pernah gue denger waktu mata kuliah belajar dan pembelajaran. teorinya juga familiar

      kebiasaan emang harus dibiasakan dari kecil atau sejak dini, terutama kebiasaan positif

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *