Hidup-Untuk-Memberi

Memberi untuk Semangat Kembali

    Kiranya,
    sebutan untuk sesuatu karena sesuatu yang lain. Omong kosong sesuatu itu
    berdiri sendiri tanpa yang lain. taruhlah contoh bagi sebutan ‘ketinggian’ oleh
    sebab adanya ‘kerendahan’. Perbandingan ini memungkinkan adanya kedua-duanya.
    Malam, oleh sebab adanya siang dan sebaliknya. Jadinya, perbedaan itu
    sebenarnya bukanlah perpecahan, ia berawal dari satu kesatuan yang menyatu. Dari
    sini, perspektif yang kita pakai dalam menyikapi perbedaan bukanlah ‘karena
    tidak adanya kesamaan’. Seharusnya ialah pada “perbedaan” yang merupakan
    kesatuan.

    makruf. memberi
    Kisahkisah.com

    Begitu
    pula dengan istilah ‘berbagi’ baik segi bahasa atau pun makna perilaku. Ia
    berbanding dengan menerima. Ingin sekali menelisik lebih jauh, apakah memang
    benar-benar saat ‘memberikan’ berarti menerima. Tapi, hal ini bisa dijelaskan
    dari fenomena keseharian kita. Ada perasaan “tidak enak hati” saat orang dengan
    mengalirnya berikan bantuan. Saat perasaan kita ‘sekali’ pernah dipahami oleh
    sesama, saat itulah kita merasa tak nyaman bila tak membalasnya. Ini yang bisa
    dilogikakan dari efek memberi.

    Kemungkinan
    selanjutnya terletak ‘kekuatan dari’ waktu. Ya, tidak perlu langsung
    menyimpulkan memberi seketika itu, dan langsung akan menerima. Termasuk pula,
    bila memberi yang ini, maka akan mendapatkan yang semisal. Tidak! Pemberian
    sekarang, bukan penerimaan sekarang. Atau, pemberian dalam bentuk ini, akan
    mendapatkan atau menerima bentuk ‘lain’. ya, inilah yang harus tetap dipahami. Agar
    sikap memberi terus ‘berkembang’ di dalam masing diri kita.
    “Dengan
    memberi, kita menemukan kepuasaan hidup”, ungkap beberapa orang. Bagi yang lain
    menyebutkan, bahwa memberi memberi kekuatan, makna hidup dan komitmen yang
    kuat. Itulah, memberi dalam bentuk apapun, benda dan melihat kepuasaan bagi
    yang diberi. Tapi aneh, mengapa memberi cinta terlalu menuntut menerima “cinta
    kasih?” Bahkan, yang diterima adalah sakit hati jauh dari harapan.
    Ada
    sebuah misteri, ketika kita ‘rela’ memberi tanpa berharap, ada imbalan terbayar
    lebih dari sekedar keinginan. Ada nilai lebih. Lebih dari sekedar nilai
    pemberian. Justru, saat terlalu banyak mengharap dari cinta, ia akan pergi dan
    menyisakan kebencian. Ini, bila kita membicarakan ‘memberi’ cinta. Lalu,
    bagaimanakah dengan hal lain? tentu saja, tak akan jauh berbeda. Setidaknya,
    ada titikpersamaan dan perbedaan yang tak lalu mencolok dari logika ‘memberi
    cinta’.
    Sudah
    barang pasti, yang diberikan bukanlah hal yang bertentangan dengan nilai-nilai
    diri kita. Atau istilah lain, adalah sesuatu yang rusak, amoral, dianggap tidak
    benar dan semisalnya. Karena, ini justru bertentangan dengan memberi sebagai
    kutub positif. Misalnya saja, memberikan kemarahan kepada orang lain, maka,
    yang diterima adalah kenegatifan pula. Ya, memberi tetap bekerja, namun yang
    membedakan adalah jenis sesuatu yang diberikan dan sikap bagaimana memberi. Dua
    hal ini yang memberikan perbedaan.
    So,
    janganlah pernah berhenti memberi apa pun yang bisa kita lakukan. Berilah
    senyuman pada dunia, berilah waktu untuk memberi yang membenci, berilah kasih
    sayang bagi siapapun. Kita pun akan menerima yang terbaik dari mereka, saat
    kita memberikan yang terbaik tanpa mengharap. Sekali lagi, jangan ‘hancurkan’
    pemberiaan itu menjadi tak berguna dengan menghadirkan ‘harapan’. Maksudnya,
    menggantungkan harapan pada apa yang telah diberi. Sudahlah, lepaskan saja
    pemberian itu seakan bukan hak kita lagi, namun memang hak dari orang yang kita
    berikan.

    Selain
    itu, pemberian itu tak hanya tertuju kepada orang di luar diri kita. Namun,
    tertuju kepada diri kita sendiri. Berilah waktu untuk kesendirian,  yaitu melakukan apa yang patut dan seharusnya
    dilakukan. Sehingga, akhirnya akan menerima dari hasil usaha-kerja keras. 
    MG. Ma’ruf

    171 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Memberi untuk Semangat Kembali”

    1. Konsep ikhlas memang seperti yang digambarkan dalam artikel ini. Saya mengalaminya beberapa kali dan rasanya sulit dilukiskan dengan kata kata. Memberi senyum yang ikhlas misalnya, sungguh suatu hal yang berat jika dilakukan tidak bersama dengan perasaan yang ikhlas. Memberi tanpa berharap adalah bentuk keihlasan yang luar biasa. Saya masih belajar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *