menikahdankedewasaan

Memantaskan Diri

    Memantaskan
    Diri
    (Sebuah
    Refleksi Diri melalui catatan Senyum Syukur)
    “Pantesan!!!”
    seringkali kita dengar saat-saat di mana seseorang melakukan kecerobohan. Si A
    datang terlambat, kemudian ia berkeluh, “kemarin pagi pas gue letakin tuh motor
    di depan rumah masih fress. Eh, setelah ditinggal pergi kesambar petir”.
    Maka
    responnya, “Pantesan!! Lho sih narohnya di bawah pohon palem”. Pantesan (baca;
    pantas) berarti ada kesesuaian antara dua hal. Ada ‘kesesuaian’ antara “sebab”
    dan “Akibat”.
    cholis244.blogspot.com
    In
    ahsantum ahsantum lianfusikum, “
    yang artinya, Jika engkau berbuat baik,
    maka sebenarnya engkau berbuat baik kepada dirimu sendiri. Begitulah al-Qur’an
    menjelaskan hukum kesesuaian. Dalam gramatik bahasa arab, “in” berarti
    haruf syarthiyyah yang meniscayakan adanya sesuatu. Dan sesuatu itu tak
    akan pernah ada, tanpa adanya sesuatu yang terpenuhi dari syarat. Jika…
    maka…
    contoh, jika saya makan, maka saya kenyang. Keniscayaan kenyang ada
    karena terpenuhi aktivitas yang berupa makan. Karena itulah, bila seseorang
    ingin dirinya terpenuhi dengan “kebaikan” penuhilah syarat-syaratnya, yaitu
    berbuat kebaikan sebanyak mungkin.
    Bagiku pribadi,
    penulis di SenyumSyukurBahagia.blogspot.com tak lain merupakan sosok yang
    sangat penting. Darinya, aku bisa banyak belajar banyak. Maka sudah layak
    sekali, seperti galibnya seorang murid, menghormati guru sebaik mungkin. Yang membuatku
    terdetak kagum adalah pada aktivitas kepenulisannya. khususnya terkait
    bagaimana ia melakukan dakwah bil qalam, menebar kebaikan, inspirasi
    mewujudkan manusia yang sukses mulia.
    Intiplah
    bagaimana ia melangkah lebih dari yang lain, menuliskan apa saja menjadi
    pelajaran berharga. Yang sepele saja mampu dijadikannya sebagai renungan dan
    berarti. Tak hanya itu, sahabat perlu mencurigai mengapa ia konsistensi (dalam
    basahasa arab disebut Istiqomah) dalam menulis? Gerangan apa kok ia
    begitu teguh berkomitmen menjadikan prinsip “istiqomah” berada di atas prinsip
    yang lain? Apakah karena ungkapan ulama yang mengatakan “al istiqoomatu
    khairun min alfi karoomah”,
    istiqomah itu lebih utama dibanding dengan
    seribu karomah (keramat)?
    Dapatkan
    konsisten (istiqomah) itu ditularkan? Pertanyaan yang masih menggantung dalam
    benak diriku pribadi. Jangan-jangan ia pengagum Syaikh Azzarnuji dengan kitabnya
    Ta’lim al Muta’allim. Di dalamnya disebutkan, “pekerjaan yang sedikit
    jika dilakukan secara konsisten lebih baik dibanding dengan pekerjaan yang
    banyak tapi tidak dilakukan dengan tekun.” Maka, Darinya, aku belajar The
    Power of Continu.
    Terkait
    dengan memantaskan diri, di dalam al-Qur’an sendiri sudah mengisyaratkan al-Thayyibiin
    li al-Thayyibaat,
    Lelaki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Di sini
    tersirat, memantaskan diri dengan memperbaiki diri sebaik mungkin lebih baik
    dibanding harus menemukan perempuan yang baik pula. Jadi, para sahabat jangan
    bermimpi menemukan perempuan yang sholeh, bila kualitas hidup kita masih
    itu-itu saja. Harus pantaskan diri, mantapkan diri. Ini baru cowok keren!
    Sejujurnya,
    aku sempat merasa tersaingi membaca catatan di blog SenyumSyukurBahagia.Blogspot.com.
    tulisannya yang renyah, maknanya dalam dan tentunya ada nilai-nilai dakwahnya. Aku
    salut sekali.  Misalnya dalam
    postingannya yang berjudul Belajar Memantaskan Diri,” terutama pada
    point terakhir. Menurutku, perbuatan apapun bila tidak didasari dengan
    ilmu berarti kan sia-sia. Kabar baiknya, bila sahabat berkeinginan berhasil
    dalam pekerjaan, melandasi dengan ilmu merupakan menu wajib. Termasuk juga melandasi
    dengan hati dan harokah (pengaplikasian; gerakan). Perpaduan pikiran, hati dan
    harokah (aplikasi; gerakan) memunculkan kekuatan yang luar biasa. Memberikan perubahan
    yang sesungguhnya, ketiganya harus seimbang dan tidak boleh salah satunya yang
    lebih dominan.
    Kesimpulannya,
    hukum tarik menarik sebenarnya merupakan manifestasi dari memantaskan diri. Dalam
    hukum ini, sesuatu yang sama akan menarik yang sama. Buktikanya, kita cenderung
    merasa nyaman dengan orang yang memiliki kesamaan. Sama-sama blogger misalnya,
    sama-sama suka nulis misalnya dan seterusnya.
    Rekomendasi
    Buku yang Harus/tidak dibeli
    Sebenarnya
    saya pribadi bingung menentukan mana buku yang bisa direkomendasikan untuk
    SenyumSyukur. Karena selera orang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Tergantung
    kepada jenis kebutuhannya. Kalau masalah yang dihadapi pembaca adalah mengenai “kegalauan”,
    maka carilah buku yang bertema tentang cinta, islami dan how to. Tapi ada satu
    buku yang membuat diriku pribadi merasa luar biasa, “Mengikat Makna” karya Pak
    Hernowo. Sayangnya, buku tersebut sudah tak beredar di pasaran. Mungkin sudah
    tidak naik cetak lagi.
    Mengapa
    harus buku itu? Saya kira ini cocok dengan diri Anda yang hobi menulis dan
    merenung. Di sana ada banyak tips kepenulisan bagaimana menulis tak sekedar
    menulis. Namun juga menulis yang ‘mengubah’ diri si penulis. Jadi, ada efek
    tersendiri dari kegiatan menulis apalagi menulis dengan genre “personal”. Cobalah
    dan praktikan. Insyaallah, pikiran dan perasaan kita akan lebih terbuka
    memaknai segalanya.
    Usulan
    untuk Blog Baru SenyumGadget.com
    Sudah cukup
    bagus, simple dan sederhana. Intinya pembaca suka dengan blog yang ringan dan
    tak berat (loadingnya ringan).
    Kediri,
    22 Desember 2013
    postingan ini diikut sertakan dalam partisipasi Giveaway SenyumSyukur.

    207 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    26 tanggapan untuk “Memantaskan Diri”

    1. ikutan GA ya? semoga sukses ya Gha 🙂
      setuju sama salah satu kalimat "jika kita berbuat baik, maka baik itu akan kembali pada diri kita"
      hmmmm… mari berlomba2 berbuat kebaikan 🙂

    2. maka seharusnya ga akan beralasan galau. Karena setiap impian atau keinginan yang belum kita dapatkan jawabannya ada dalam diri kita. Yaitu diri kita belum 'pantas' mendapatkan hal tersebut, dan solusinya adalah kita harus terus memperbaiki diri.

    3. sipp..kalo udah memantaskan diri, maka kita juga bakalan dapat apa yang pantas kita dapatkan… *ribet-ngomongnya

      pantesan…aku kayaknya pernah denger itu kata2 "senyum syukur"..
      ternyata lagi ngontes ya…moga sukses GAnya…

    4. sukses kaka buat GAnya, semangat ^^9

      setuju kata kakak miftah, kalo udah memantaskan diri, kita juga pantas mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan . hahaha, mbulet banget ini -__-

    5. Bingung mau komen apa mas, moga menang aja deh.

      Ini aku suka tulisannya, meskipun udah sering juga baca yg soal hukum sebab akibat gini. Keren aja, mas Aghq selalu menginspirasi..

    6. merasa nyaman dengan pasangan karena ada banyak kesamaan menurutku tidak terlalu menjadi prioritas utama. karena kadang perbedaan pandangan kalau bisa saling mengisi kekurangan akan menjadikan pengertian yang lebih.

      moga menang ya kak…

    7. kuncinya itu "memantaskan Diri"
      jika kita belum mendapatkan sesuatu itu brarti diri kita belum "pantas" untuk mendapatkannya.
      kalau ingin mendapatkannya ya harus memantaskan diri.
      begitu juga dengan masalah cinta 😀

    8. maaf baru sempat BW. waaaahh artikelnya menginspirasi sekali … emang kita harus memantaskan diri yah untuk mendapatkan sesuatu yang emang pantas juga buat diri kita. sukses GAnya:)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *