Memandang Diri, dan Self-Talk

    Di antara teman-teman, mungkin ada yang masih bingung dan kalut mengatasi persoalan penundaan,Benar kan? Kita pasti pernah malakukan penundaan terhadap suatu pekerjaan. No problem jika sampai detik ini masih belum dapat menghilangkan kebiasaan ini. Sebab, setelah membaca tulisan ini, diharapkan teman-teman mampu menembak habis kebiasaan buruk ini. Hajar boss!! Mbukh….eh salah, kok malah bunyi kelapa jatuh. Maksudnya, deear…lah, ini baru betul suara pistol  beneran. Pistolnya pak kawo yang nyangkut di pohon kelapa kemaren. hehehe

     Hei!! Tau ga’, ternyata sebagain besar dari kita-kita adalah suka menunda. “haleh…jangan menuduh sembarangan Mas!!Buktinya masih ada saja yang tidak ngumpulin tugas makalah, sampah menumpuk di tangga menuju istana UKM-UKM. Kan, liatnya gimana gitu??
    Sabar, sabar dulu. Lima menit lagi, lima menit lagi. Oke, jika tidak sabar langsung saja memasuki pembahasan. Sidang dimulai, deng dong…. Deng dong…  
    Apa yang kita lihat, itulah yang kita dapatkan. Bagi yang suka wez…wez… dengan motornya on the way, hati-hati. Siapa tahu, waktumu sudah sampai. Sebaiknya, pandanglah dirimu sebagai pengendara yang baik, yang sopan asal selamat. Katanya mahasiswa, tapi, dimana kemahasiswaannya? Sadar bro, mba’ bro!! eman-eman bro, maukah kamu menukar hidupmu dengan waktu 3 menit? Kok diem? Jangan terlalu berimajinasi menjadi “pembalap-amatiran”. Karena, imajinasimu tuh bro, mempengaruhi emosimu. Dan emosimu itu, mempengaruhi sikapmu. Maka, lahirlah pembalap muda dan merdeka. Jangan marah ya…
    Di lain sisi, kau mungkin pernah  melihat orang yang murung, tidak ceria dan serba ribet dech. Tau ga’, mungkin dia memandang dirinya sendiri dengan kaca-mata negatif. Ketika kecintaan terhadap dirinya hanyut dalam perasaan negatif, maka ia tidak lagi perhatian pada dirinya sendiri. Kasian dia, maka diumumkan kepada barang siapa menemukan orang seperti itu—hati-hati kalau ngomong mas, memang saya barang pah!—berilah ia kenyamanan dengan dirinya sendiri.
    So, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi penundaan dengan hal di atas. Begini, pandanglah dirimu seakan-akan kau adalah sosok yang sesuai dengan tokoh idolamu. Pandanglah dan sibukkanlah pikiran perasaanmu kepada hal-hal yang positif yang masih merekat di dalam dirimu. Menunda, berarti mengulur-ngulur waktu. Mungkin, untuk sekali waktu tidak apa-apa, tapi jangan ulurkan tanganmu kepadaku. Nanti takut ada “sesuatu”… gurau aja ya..
    Tampillah sok disiplin, itu yang pertama mas bro. kedua, tegaklah ketika berjalan. Dan ketiga nich, rasakan dan imajinasikan betapa senang dan bahagianya kamu telah mencapai impianmu karena tidak pernah menunda pekerjaanmu.
    Bayangkan, rasakan dan nikmati. Jika sehari saja, kau menghafal nadhoman bait sajak arab sebanyak 10 bait, maka setahun kamu sudah khatam alfiah. Wow.. luar biasa kan mas bro?
    Aku mau curhat. Sebenarnya saya ini ingin jadi anggota music band, tapi hatta saiki ora mahir opo-opo. Mimpi karo turu neng omah, ora melok organisasi, ora melok UKM. Wes,… dadi manusia jadul. Mugi-mugi gusti Allah memberikan hidayahnya. Alfatihah….
    Karena itu, menyesallah sebelum penyesalan yang sesungguhnya datang. Jangan remehkan moment kecil. Justru, kekecilan itulah yang akan mengantarakan kepada hal yang besar. Jangan mudah menyederhanakan sesuatunya, tapi lakukan dengan segenap upaya. Yo, matur nuwun. Terimakasih telah membaca ini. Semoga bermanfaat!!

    681 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *