Melihat Apa yang Kasat Mata (Perspektif Angka 10)

    Kini kita hidup di dunia penuh kasat mata. Yang tak kasat,
    adalah kepalsuan. Ia tak logis, dan tak dapat  diraba. Panca indera menang di atas pikiran,
    dan perasaan. Apa yang diindera; dilihat, didengar, diucapkan, diraba, dirasa
    menjadi sumber dari pikiran dan perasaan. Tidak sebaliknya, menjadikan buah
    pikiran dan perasaan sebagai sumber dari bagaimana mengindera. Di manakah
    antara dua hal ini yang dimaksud sebagai benar?
    Telah datang mata, untuk melihat apa yang indah. Cantik,
    tampan, cerah telah menggoda mata terbelalak. Melihat apa yang kasat mata, dan
    menutup mata dari apa yang seharusnya mereka saksikan sebagai kebenaran. Banyak
    orang dengan kesempurnaan matanya, namun justru buta terhadap hakekat
    penglihatan hatinya pada dunia. Dunia yang penuh nanah, cercaan dan pertikaian.
     Pak Shamad (nama rahasia) memiliki mata
    pencaharian sebagai mata kehidupannya. Mata angin sebagai penunjuk jalan, tanpa
    mata-mata ini semuanya tak berkelanjutan. Shamad menjadi tak hidup, angin
    menjadi takbisa ditentukan arahnya.
    Telah berulang kali kusebutkan padamu, “penglihatan kasatmu telah menipumu”. Lensa dengan bidikan foto,
    masih bisa dipoles. Wajah “boros umur” dengan modal camera DSLR bisa diakali
    menjadi lebih “hemat umur”. Iya, masih banyak lain. televisi, sebagai konsumsi
    sehari-hari telah ikut andil membuat kita buta, tak melihat apa yang tak
    terlihat secara kasat mata. Ambil itu janji para caleg, ambil janji para
    pencitra pertelevisian. Tertipulah hidup, hilanglah selamanya.
    Ini menunjukkan, yang kasat mata berhenti pada “kelihatannya”.
    Wajah cantik terlalu dini dinilai sebagai kepribadian yang baik, dan yang ancur
    wajahnya disebut “tampang perompak”. Ini kan kelihatannya saja, yang tak
    terlihat; wajah cantik eh (maaf)
    ternyata penipu. Wajah perompak, eh ternyata si baik hati. Serba salah, melihat
    luarnya saja dan menganggapnya sebagai cerminan tunggal dari dalamnya.  Boleh jadi kau menyukainya, membutakan mata
    dan apa yang dilakukannya sebagai kebenaran saja.
    Bagi kaum angka 10, dengan keterbatasan daging di “1” dan
    kelebihan daging di “0” melihat keganjilan ini sebagai apa adanya. Karena sudah
    terbiasa, mereka dilihat dengan mata sebelah, dan menganggap hina kaum 1 dan
    kaum 0. Kaum angka 10 tentu saja paham, tak ada guna menyesali ini, toh sakit
    rasanya dipandang sinis oleh berpasang mata, namun menjalaninya semakin jadikan
    diri tegar. Bisa membuktikan kepada siapa pun bahwa kaum 10 tetap bisa
    mengalahkan, menuju kemenangan superioritas (kesempurnaan), bukan kesenangan.
    Sebab itu, pandangan sinis bukanlah satu-satunya yang
    menjadikan kaum 10 beranggapan orang lain tidak menyukainya.  Tetaplah objektif, jangan-jangan hanya karena
    keegoisan diri yang tak sempurna. Sebaliknya, jadilah sebagai penyemangat untuk
    melihat apa yang tak mereka lihat dari diri sendiri. Mendengar apa yang tak
    mereka dengan dari diri sendiri, dan merasa apa yang tak mereka rasakan. Karena
    hukum terus berjalan, bagi yang sabar dan tetap jalani takdir penciptaan.
    Bisa juga dikatakan:
    Takdirmu angka 10
    Lebih kurus atau lebih daging
    Dalam angka itu, kau temukan angka kosong
    Yang berarti menggelembung
    Kenyang dengan penglihatan kasat mata
    Kenyang dengan pendengar nyata
    Dan beralih kepada apa yang tak dilirik
    Kepada apa yang tak didengar
    Kebijakan berpihak padamu.

    915 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Melihat Apa yang Kasat Mata (Perspektif Angka 10)”

    1. betul2 itu,,,kini kita ada di kehidupan yg kasat mata. kadang aku dan suami dipanggil angka 10 karena ya itu,,aku kelebihan daging sedangkan suamiku kurus,,, benar2 keterbatasan daging 🙂

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *