Masjid Panembahan Somala dan Makna Eksistensi Diri

    “God is the Meaning of human existence” –Berdyaev

    Di satu lapis, ruang hidup dibentuk oleh kebrangusan alamiah masa depan. Ia raja bagi pundi kehidupan manusia. Di lain sisi, kesejarahan adalah masa lalu, disikapi: sebagai benda mati, atau makhluk hidup. Satu sisi tersisihkan, masa sekarang terkalahkan: tak ada yang memikirkan, terlepaskan tanpa hirau.

    Masjid Jami’ Sumenep dibangun di masa raja Sumenep ke-XXXI, Raja “Panembahan Somala”. Percampuran budaya Tiongkok, Madura dan Jawa memperkaya gaya arsitektur bangunan. Menara 50 meter menjulang tinggi di sebelah barat masjid, pintu gerbang (Baca: Gapura) dan atap tumpang petanda kekayaan budaya madura kala itu. “Law Piago” merancangnya, di bawah perintah Somala.

    Lama pembangunannya, 1779-1789. Terdapat pohon Sawo dan Tanjung di halaman muka masjid. Sengaja ia ditanam, dengan tujuan syiar. Pohon “Sabhu” (bahasa Madura, Pohon Sawo) mengandung makna, Sa (Salat) dan Bhu (jabhu ambhu: Jangan berhenti). Shalat dilakukan tanpa berhenti, tidak terputus. Pohon “Tanjung”, ta (tandhe, Penanda) dan Jung (ajhungjung, meninggikan). Yaitu, petanda untuk meninggikan. Keduanya bermakna, salat lima waktu janganlah berhenti, ditinggalkan, sebagai tanda menjungjung tinggi agama Allah.

    Masjid Somala merupakan aset sejarah. Sejarah, Berdyaev menyarankan agar kita tidak menjadi manusia penurut padanya. Meski manusia sendiri bagian darinya. Justru, dengannya sebagai medium menjadi manusia bebas. Artinya, berdirinya masjid Somala membawa dua unsur: Unsur destruktif dan kreatif. Unsur pertama, manusia terampas kebebasannya, patuh, tunduk dan tak berdaya mengubahnya: menjadi lebih baik, atau buruk. Masa lalu objektif, subjektifitas manusia yang unik tercerabut. Sejatinya, sejarah menunjukkan kebebasan manusia, oleh persepsi yang salah, bisa menyebabkan hilangnya kebebasan itu.

    Unsur terakhir, unsur kreatif. Keberadaan masjid ini, merupakan pengantar kepada kebebasan manusia; tanpa dikte oleh sesuatu di luar dirinya. Keberadaan Pohon Sawo dan Tanjung di halaman masjid, dirasa sebagai hal yang perlu dihayati mendalam, pembuka manusia mencapai cita-cita dan impiannya, beserta tindakan kreatif.

    Meskipun Masjid Somala tidak beratap kubah, tetapi ia tetap menyimpan nilai yang tinggi. Tak perlu melirik pernyataan George Guardjief—seorang pendeta—akan kekaguman arsitektur kubah, “Di antara semua karya, terutama seni kuno. Anda akan bertemu dengan banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Komponen yang tidak bakal Anda rasakan pada karya-karya modern. Salah satunya, pada bangunan masjid berkubah”. Atau pun pernyataan Brian Wingate, “Desain kubah semisal ini melambangkan keterpaduan yang seolah mengajak pikiran manusia untuk mengikutinya”.

    Dome of The Rock Qubbet ul Sakhrah, Yarussalem, contoh masjid berkubah. Dikenal, “Kubah Batu”. Pada tradisi Semit Kuno, dipercaya sebagai tempat persimpangan antara dunia bawah dan atas. Pada Zaman Yunani Kuno, dipercayai sebagai tempat penyembahan Dewa Apollo. Bahkan, tempat ini diyakini juga sebagai tempat Nabi Ibrahim AS membangun altar untuk penyembelihan putranya Nabi Ismail AS.

    Kedua masjid memiliki nilai yang tak bisa dibandingkan. Bukan oleh arsitekturnya, tetapi pada kekuatan simbolisasi di dalamnya, tersirat dalam pandangan mata. Maka, di sini kita perlu belajar mengenai waktu kesejarahan. Yaitu, suatu penghayatan di masa lampau sampai apa yang baru akan terjadi di masa mendatang.

    Kita perlu menyelam ke masa kesejarahan untuk kemudian meleburkan diri pada waktu penghayatan eksistensi diri—penemuan diri. Meresapi nilai arsitektur masjid, sebagai bekal menghadapi masa depan, mencapai impian menjadi kenyataan. Kita buat sejarah diri kita sendiri.

    “…. it is man that makes history … and that it is to be supposed that he makes history for his own sake.” Berdyaev, 1874-1948.

    Ditulis oleh: Gus Ma’ruf
    Sumenep, 26 Juni 2016

    5,666 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Masjid Panembahan Somala dan Makna Eksistensi Diri”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *