Masa Lalu


    “Lebih
    baik kau tak perlu memikirkannya, daripada tersakiti dan sedih karenanya”
    Setiap orang tentu saja iya memiliki
    seorang sahabat, baik itu sahabat lama yang hampir terlupakan, atau pun sahabat
    baru. Berkat keakraban dan kehangatan pertemanan dengan mereka, ia menjadi
    begitu berarti hidup dalam kehidupannya. Sebab di saat bersahabat, berarti
    kebutuhan penerimaan sebagai kebutuhan dasar manusia telah terpenuhi.
    Atau seorang musuh, ia begitu perhatian sekali kepadamu.
    Lihatlah, bagaimana ia selalu memikirkanmu bahkan saat kamu tak memikirkannya.
    Ia sangat “perhatian” terhadap apa yang telah kamu peroleh dan  tercapai. Berterimakasih terh adap musuhmu,
    ia menjadi aset berharga demi perjalanan ke depan.
    Masa lalu? Tidak jauh berbeda dengan
    sahabat. Semuanya terserah pada dirimu. Apakah kau jadikan ia sebagai sahabat,
    atau musuh yang selalu merangsang dirimu perasaan tidak senang terhadapnya.
    Kenyataan yang ada, masa lalu itu nyata ada. Tak bisa hilang dan lenyap dari
    kehidupan yang nyata.
    Masa lalu bila menyakitkan bisa menjadi
    musuh, ia tak bersahabat dengan kehidupan sekarang bila tak dipandang dengan
    sebagai mana ia mestinya. Sayangnya, masih banyak yang bersahabat dengan masa
    lalu yang mungkin kelam, dengan terus memikirkannya, bahkan membuatnya
    berkembang di dalam pikiran dan perasaan.
    Terhadap persaan seperti ini, “ambil hikmah”
    akan membantumu. Tanyakan kepada diri,
    “Pelajaran berharga apa yang dapat aku petik?” hal itu disebabkan oleh
    pentingnya masa lalu sebagai pengalaman kehidupan.  Seberapa tinggi kamuu memposisikan pengalaman,
    seharusnya setinggi itu pula kamu memposisikan “masa lalu”. Keduanya tak kan
    dapat dipisahkan.
    Seperti kipas, ia terus berputar.
    Menjadikan apa yang “dibelakangnya” menjadi sumber kekuatan untuk menghembuskan
    angin ke arah depan. Tidak ada ruang tertutup di kipas bagian belakang. Ia
    terbuka selalu. Masa lalumu, seperti sumber kekuatan bagi masa depanmu. Hanya
    saja, untuk menjadikannya kekuatan kamu perlu “bergerak” seperti kipas itu. Maka,
    tak perlu kau risau seberapa buruk masa lalumu, selama kau “terus bergerak” ia
    akan menjadi kekuatan hidup.
    Berbeda dengan orang yang hanya terpaku
    mangu pada kehidupan kelamnya, ia merana hanya mampu menyesalinya. Tetapi,
    tidak ada upaya untuk berkaca darinya. Bagaimana mungkin bisa! Padahal masa
    lalu muthlak sebagai syarat untuk memasuki masa sekarang. Yang artinya, juga
    ada maksud tertentu bagi seseorang demi “menghadapi” masa sekarang. Semacam
    “isyarat”.
    “isyarat” untuk dipahami, bukan diredupkan
    dengan kepura-puraan ia tak ada gunanya. Menganggap sebagai sesuatu yang
    sia-sia. Benar sekali, tak menghargai terhadap masa lalu, menciptakan
    “nilai-isyarat” tersebut tak terbaca oleh akal pikiran. Esensi dari masa lalu
    sebenarnya adalah “bekal” untuk menghadapi masa sekarang.
    So, hilangkanlah keluh kesahmu dengan terus
    bergerak agar ia menjadi kekuatan. Jangan menghindarinya, karena ia akan terus
    mengikutimu, dan jangan kau mendekatinya, karena ia akan “melangkah” lebih
    cepat dan bertahan kepadamu. Jadilah seorang sahabat bagi masa lalumu dngan
    mengabil hikmat yang merupakn isyarat untuk menjalani masa sekarang.
    ~∞~
    Kediri, 29 Januari 2014

    816 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *