Masa Depan Psikologi Islam

    Masa depan adalah masa yang akan datang, masa yang belum dirasakan kehadirannya pada saat sekarang. Olehnya, mengira dan mempersepsikan masa depan tidak lepas dan berangkat dari masa lalu—dari sejarah yang mendahului. Dari sejarah kita bisa belajar mengaca dan membekali masa depan, menghadapinya pada masa sekarang dan mengirakan apa yang akan terjadi pada masa depan. Sebut saja masa depan Psikologi Islam, yang sedang dikembangkan oleh para pakar.

     Jika sesuatu itu berangkat dari ketiadaan, maka ketiadaan eksistensi psikologi islam dibanding psikologi modern akan berangkat menuju ke-eksistensi-annya. Karena apa yang tampak berasal dari yang tidak tampak. Sejarah perkembangan pengetahuan dimulai dari pertanyaan, Mungkinkah manusia mengetahui sesuatu?Dan Bagaimana cara untuk mengetahuinya?
    Sebagaimana telah diketahui, psikologi islam datang untuk menghakimi psikologi modern. Baik menyangkut metode pemahaman terhadap realita, maupun wilayah kajian mereka. Pada psikologi Islam yang menjadi metodenya adalah observasi, eksprimen, keyakinan, otoritas dan intuisi. Berbeda dengan psikologi modern yang hanya menggunakan metode observasi dan eksprimen. Selain itu, wilayah kajian mereka lebih sempit dari pada psikologi islam; psikologi islam tidak semata mengkaji wilayah yang nampak saja, melainkan juga wilayah yang dapat dipikirkan walau tidak dapat diamati (conceivable are), dan wilayah yang tidak dapat dipikirkan (unconceivable are).
    Melihat kelemahan pada psikologi modern, psikologi islam datang untuk melengkapi dan menjadi ilmu yang dependent. Karena kekuatannya terletak pada kiab suci Al-qur’an dan hadits nabi. Di dalamnya dibahas tentang permasalahan manusia berikut solusinya, tak lupa masalah kejiwaannya.
    Bertolak dari itu semua menuju pandangan Descartes. Ia mengawali meditasinya mengenai dunia dan kenyataan. Dunia ini menurutnya diawali dan dibangun dengan tipe pemikir; pertama, mreka yang merasa lebih pandai daripada yang sebenarnya, sembari tidak bisa menahan diri untuk segera menilai pendapat orang lain, dan tidak merasa terpanggil untuk menata pikirannya sendiri. Kedua, mereka yang cukup bernalar, dan cukup rendah hati untuk cukup tahu diri lalu menjadi pengikut dari gurunya saja.
    Descartes mengkritik dua tipe pemikir tersebut. Yang pertama, dinilai terlalu sombong dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan untuk menghakimi dan menilai pendapat orang lain. Sedangkan yang kedua, dinilai terlalu rendah diri dan tidak berani menawarkan gagasan baru yang berbeda dengan gagasan pendahulunya. Untuk menggagas suatu wacana dan pendapat  yang baik dan kuat, menurut Descartes dimuali dari ‘membongkar akar-akarnya, dan menolak beraklid.

    Descartes menulis, “meskipun demikian, mengenai semua pendapat hingga saat ini saya yakini, tindakan terbaik yang dapat saya lakukan adalah mencabut akarnya sama sekali untuk selama-lamanya. Tujuannya adalah untuk menggantikan dengan pendapat lain yang lebih baik atau pun dengan pendapat  yang sma yang telah saya sesuaikan berdasarkan nalar saya. Saya yakin, bahwa dengan cara itu saya akan berhasil mengarahkan hidup saya jauh lebih baik daripada kalau saya membangunnya di atas landasan tua, yakni apabila saya hanya bertumpu pada prinsip-prinsip yang telah saya serap di masa muda tanpa pernah saya periksa kebenarannya.”
     

    Tak semudah untuk memprediksi masa depan psikologi islam, apalagi membangun wacana ramalan tentangnya. olehnya, jangan terburu-buru menilai masa depan psikologi islam, sebelum mengetahui secara pasti dan benar terhadap akar-akarnya. Perlu membongkar lebih terperinci. Sehingga, kita tidak terlalu sombong menyudutkan psikologi modern. Namun, kita jangan terlalu rendah diri untuk mengikuti pendapat para psikolog modern, atau pun pendapat dari pendahulu kita dalam membangun psikologi islam. Karena, mengikuti pendapat mereka menurut Descartes tak ubahnya seperti membangun sesuatu di atas landasan yang tua dan rapuh. Maka, bersabarlah dalam batas-batas tertentu untuk kemudian meramalkan masa depan psikologi. Kita bangun diri kita sendiri, sebelum menguak bangunan orang lain. (Rabu, 28 November 2012)
               

    971 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *