Manusia IPK

    Tak ada yang perlu diyakini untuk saat sekarang, kecuali
    kepintaran menjadi dambaan. Keterampilan telah tampil di mana saja, yang tidak,
    disembunyikan saja. Dari beberapa sektor lapangan pekerjaan, hanya mereka
    dengan ‘nilai’ selalu memiliki tempat tersendiri. Katanya, mereka itu lebih
    ahli dan lebih mengetahui banyak hal.  Di
    sini kemudian, dibenarkanlah status pendidikan seseorang menentukan masa depan.

    Kayaknya ada ketidakberesan. Justru dengan kelebihannya
    seseorang semakin pintar ‘mengakal-akali’ keadaan. Perpajakan hanya bisa
    diakali oleh ahli pajak, hukum bisa diakali oleh pengacara dan penegak hukum,
    hukum agama bisa diakali oleh yang tahu lebih. “Biarin saja, kan mereka tidak
    tahu”, “salahnya, mereka itu tidak tahu.” 
    Karena kebodohannya, orang lain dimanfaatkan; kala bukan untuk dirinya,
    lalu untuk siapa?
    Siapa pun orang tuanya pasti keinginannya ialah anak yang
    bernilai. Nilai yang nyata tanpak di atas kertas, ijazah. Itulah senjata
    satu-satunya untuk bertahan hidup, yaitu pada nilai yang ada di dalamnya. Seakan
    kalau anak dengan nilai rendah, bukan anaknya lagi. Dicacilah ia,
    direndahkanlah ia, itu hanya gara-gara nilai. Bodoh sekali orang tua yang
    begitu, nilai kok menjadi harapan? Memang takdir itu ditentukan oleh nilai? 
    Rabindranath Tagore peraih nobel sastra pertama yang
    orang asia meninggalkan bangku sekolah. Di usianya yang ketiga belas ia muak
    dengan penjara pengetahuan itu, “siksaaan yang tak tertahankan”. Ini bukan soal
    meninggalkan kepedihan untuk belajar, tapi begitu nistanya bila belajar hanya
    untuk sekedar nilai. Tagore benar paham maksud Imam Syafi’i, “Siapa yang tak
    mau merasakan pahitnya mencari ilmu sesaat, maka ia akan menderita seumur hidup”.
    Jadi sudahlah, jangan paksakan anak untuk nilai. Paksakan
    ia untuk ilmu, menjadi penikmat ilmu dan senang karenanya. Nilai itu hanya “alat
    ukur” yang tak sepenuhnya mewakilkan “pemahaman ilmu”. Bisa jadi, ilmunya hanya
    bertambah saat ujian, setelah ujian ilmunya mati, mati suri dan ada yang memang
    mati sungguhan—tak berfungsi.
    Walau pun begini, bukan berarti lebih menjungjung proses
    belajar. Ya tidak lah. Target tetap penting, dan target itu bukan sekedar
    nilai. Belajar adalah berubah dari waktu ke waktu. Perubahan menuju yang lebih
    baik.  Yang awalnya tidak tahu, sekarang
    lebih mengetahui ini dan itu. Dan diterapkan dalam kesungguhan.
    Bila tetap memaksakan untuk menjadikan anak sebagai
    manusia IPK, maka lahirlah kualitas IPK, kemampuan IPK yang hanya ada di dalam
    kertas. Kenyataan yang lebih nyata dari sekedar nilai, dari sekedar apa yang
    dikata.  Dalam lapangan kertas ijazah
    patut diakui kemampuannya, tapi di dalam gelanggang kehidupan, mampukah ia?

    1,470 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    14 tanggapan untuk “Manusia IPK”

    1. IPK tinggi belum tentu menunjukkan kualitas dari diri seseorang namun dengan bukti nyata yg ada dilapangan jika dia mampu menunjukkan kualitas dirinya appalah arti IPK walau hanya 2 koma 🙂

    2. Naif betul jika kualitas & bakat seseorang hanya dilihat dari angka-angka di atas kertas. Namun memang masih begitulah kebanyakan pandangan umum yang lazim saat ini 🙁

    3. Lha wong namanya kuliah / Sekolah itu untuk membuka cakrawala pemikiran kok…dari dulu saya tidak pernah memikirkan hal itu. Mereka yang berorientasi IPK itu karena selalu berfikir bagaimana menjadi seorang pekerja atau karyawan… bukan menjadi seorang BOS. Kelas pekerja yang membutuhkan itung-itungan IPK…

    4. Kalo prinsip gw sekarang, kuliah bukan untuk IPK tapi kuliah buat nambah temen dan relasi.
      Sudah ngak jaman nya ngelamar kerjaan jadi karyawan tp sekarang bagaimana kita membangun usaha sendiri atau bareng teman2 jd tambah temen, milih teman 🙂

    5. Salut dg opini2 keren di kolom komentar 🙂 pendidikan itu masih penting dan akan selalu penting. Kalo ngga penting, Nabi Muhammad ngga akan suruh kita menuntut ilmu sampai negeri China 🙂 yg sering salah kaprah adalah orang2 sering berpikir pendidikan = nilai ujian. Makanya UN selalu banyak cerita tentang nyontek massal bahkan didukung guru/kepsek 🙁

    6. punya IPK tinggi itu bukannya bangga, kalau aku malah takut.

      takut pas kerja nanti malah gak sesuai kualitas kerjaku dengan IPK yang ada di transkrip. secara tidak langsung akan mencoreng nama pribadi dan almamater juga, kan? hehe

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *