Living Qur’an dan Pendidikan Karakter di Indonesia

    Berbeda
    dengan khususnya orang-orang, orang yang tidak cukup bijaksana bisa menggunakan
    al-Qur’an untuk kepentingan dirinya. Saat pemilihan politik, ia menggambil
    beberapa ayat darinya hanya untuk kepentingan dirinya—memenangkan politik.
    Bahkan, ia tak segan memamerkan keintelektualannya dengan memajang buku tafsier
    di ruang tamunya, hanya agar diketahui bahwa ia berada dalam posisi orang yang
    bijak.
    Berbeda
    pula dengan itu, orang yang hanya menggunakannya sebagai azimat dan mantra.
    Tanpa mau mengamalkan dan merenungkan dari sisi makna al-Qur’an. Dan ini tentu
    lebih kurang bijak. Kepentingan demi kepentingan berbeda jenis dan bentuknya.
    Orang
    jenis terakhir mereka yang datang lalu pergi, mendetangi al-Qur’an ketika tidak
    nyaman, namun setelah nyaman ia pergi meninggalkannya. Namun, ini masih
    mendingan bila harus membandingkan dengan jenis sebelumnya.
    Itu
    semua terjadi karena kecintaan (pada umumnya) kita yang berlebihan pada
    kehidupan duniawi dan dengan sendirinya meredupkan kecintaan pada al-Qur’an
    yang tidak ada keraguan sedikit pun padanya.
    Apalagi,
    setelah keadaan lingkungan yang memaksa menyeret orang baik menjadi tak sebaik
    sebelumnya. Beberapa teman penulis, awalnya orang-orang baik, namun setelah
    berperan dengan konfirmitas di mana ia berada, akhirnya KO juga. Menjadi
    seperti mereka yang hidup di lingkungannya, menjadi bagian dan diterima oleh
    mereka.
    Maka,
    apa yang disebut dengan keganasan dunia sampai detik ini masih saja bertaring.
    Apalagi mendekati zaman akhir dari kehidupan, dengan kemajuan teknologi yang
    katanya menjanjikan ketenengan jiwa. Alih-alih justru merusak jiwa setiap
    manusia yang ada.
    Living
    Qur’an
    Untuk
    mewujudkan kepentingan akhirat, maka tersadarkan pada tujuan kehidupan menjadi
    urusan penting.memahami posisi al-Qur’an bagi kehidupan, yaitu petunjuk ilahiyyun
    (petunjuk ilahi). Tentu masing-masing dari kita bisa beradaptasi dengan
    meditasi jiwa, bahwa hidup tanpa petunjuk seperti berjalan dalam kegelapan
    malam. Bagaimana mungkin mau sukses di dunia, bila al-Qur’an ditinggalkan. Bagaimana
    mungkin mendapatkan wanita yang kekasih yang baik, bila al-Qur’an tak pernah
    kau Kasih-sayangi.
    Kita
    sudah tak perlu lagi kau sakit hati, bersedih dengan kehidupan yang fana ini.
    karena kau telah mengetahui bahwa al-Qur’an adalah kekasih sejati. Yang
    mengantarkanmu kepada apa yang Allah inginkan kepada dirimu.
    Bahkan
    kita semua bisa bebaskan kekalutan hidup, membantu orang lain menjadi orang
    yang lebih baik hanya dengan al-Qur’an dan hadis. Hidup dengan al-Qur’an atau
    istilah lain adalah Menghidupkan al-Qur’an dalam sendi-sendi perilaku
    sehari-hari merupakan prioritas utama.
    Bacalah
    al-Qur’an tak sekedar mambaca ‘koran’. Membacanya seharusnya membaca seperti
    surat dari kekasih kita. benarkan kah? Allah Maha Pengasih dan Penyayang dan ia
    menulis surat cintaNya kepada Kita semua. Maka, bacalah dengan seksama yang
    disertai dengan kefokusan serta kenyamanan.
    Begitulah,
    karena sesuatunya tak pernah berhenti di satu titik. Lebih dari itu, dalam
    mewujudkan al-Qur’an sebagai promotor dari jiwa kita adalah “Memahami isinya.”
    Menurut pengamatan pribadi, selama ini kita terpaku pada membaca al-Qur’an,
    tanpa berusaha lebih untuk memahami isi kandungan di dalamnya.
    Seharusnya
    al-Qur’an tak hanya menghidupkan alam pikiran, namun ada alam afeksi serta alam
    psikomotorik. Sehingga, ia benar-benar menjadi ruh dalam kehidupan. Jadi, tak
    sekedar membaca tanpa ada bekas yang ditimbulkannya. Bekas yang nyata dalam
    kehidupan sehari-hari. Dari sini dapat ditarik kesimpulan, al-Qur’an mengajari
    kita mengembangkan karakter melalui pendidikan (identitas).
    Yaitu,
    pertama dengan “mengenali” nama-nama berikut dengan diskripsinya. Bagaimana
    mengenal waktu, dan ruang serta lain-lainnya (albaqarah; 31, 22, 164, al-an’am;
    99, ibrahim 32, dan Hijr; 22).
    Kedua,
    mengenali “hakekat” identitas dari nama-nama tersebut (ontologus). Misalnya
    dengan merenungi lebih dalam, membaca tafsier-tafsier ulama terdahulu kemudian
    diasosiakan dengan kehidupan sekarang.
    Dan
    terakhir adalah, mengeali hakekat “tujuan dan fungsi-fungsi identitas
    (aksiologis). Hanya membaca terjemahan al-Qur’an tak akan pernah menemukan
    substansi dari ayat-ayatnya. Maka, perlu memahami lebih dalam.

    845 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *