Lebih Baik menderita 5 menit daripada menderita 5 tahun

    Bagi seorang introvert, berdiskusi atau berkumpul dengan orang lain adalah salah satu bentuk dari permasalahan dirinya. Karena kesehariannya hidupnya dihabiskan di dalam perlindungan dirinya, di zona di mana ia merasa aman akan semua resiko. ia sudah tidak memiliki kebermaknaan bersama lingkungan sosialnya, kecenderungan menarik diri dari sosial sudah semakin menjadi-jadi. Walhasil, ia mudah tersinggung dan sebagainya.

    Tentu saja, karena ia makhluk sosial, tidak akan bisa terlepas dari orang lain. Sejatinya ingin bebas dari orang lain, di hati kecilnya berbicara akan ketidakmampuannya terlepas dari orang lain. Suatu ketika, sidang diskusi berlangsung, ia tidak bisa berbicara. Walau pun sudah dipaksakan oleh teman-teman dalam diskusi tersebut, maklum watak seorang introvert yang juga seorang pendiam. Hingga pada akhirnya, ia pun berbicara dengan menunjukkan ketidakmampuannya untuk berbicara kepada orang lain, singkat saja apa yang telah dikatakan, “Saya tidak paham dengan maksud ini semua”. Pernyataan yang justru merendahkan dirinya sendiri.
    Beberapa waktu kemudian, ia pun mendapatkan sms dari teman yang paling dekat di antara sekian banyak teman dalam diskusi tersebut, dan mengatakan “Lebih baik menderita 5 menit daripada menderita 5 tahun”. Dari  kesadaran itulah, sedikit demi sedikit ia memberanikan diri mengungkapkan kesungguhannya untuk berani berbicara dan mengungkapkan pendapat di depan umum (forum diskusi).
    Jika air tenang, maka ia akan menjadi keruh. Justru air di sungai yang merasakan kepedihan terhempaskan oleh bebatuan yang berukur besar dan kecil dan menjadikannya begitu semakin jernih.
    Sadarkan kita, mengapa jalan menuju puncak gunung tidak selalu penuh dengan kenyamanan; bebatuan yang curam, tanjakan yang meng-gila, dan banyak rintangan lainnya. Sadarkan kita, mengapa ombak dibuat sedemikian hebohnya, hingga mampu menenggelamkan perahu yang berlayar di atasnya. Sadarkah kita, mengapa kita diberikan rasa lapar?
    Tentu semua dari pernyataan di atas memiliki ujung-pucuk yang seringkali luput dari kefokusan. Seolah-olah, fokus itu sendiri tertuju pada beban rintangan menaiki puncak gunung, dahsyatnya ombak, perihnya sakit lapar, malunya berbicara di depan umum. Padahal, 5 cm di depan mereka ada harapan yang begitu mengguncangkan dirinya seandainya ia mampu mempertahankan ‘keperihan’ dalam menggapai angan-angan.
    Semakin perih penderitaan yang dihadapi saat menuju puncak kesuksesan, semakin ‘nikmat rasanya’ kesuksesan tersebut. Misalnya, saya tanyakan kepada Anda, lebih nikmat manakah makan nasi di restoran saat anda lagi liburan bersama keluarga dibanding saat berbuka puasa di bulan Ramadhan? Setelah setengah hari mati-matian menahan diri dari lapar dan dahaga, terbayarkan ketika adzan maghrib tiba. Sungguh, kenikmatan yang tiada tara.
    Maka, syukurilah karena kepedihanlah kita bisa merasakan begitu ‘nikmatnya’ sebuah arti kesuksesan. Dengan begitu, kita akan semakin menyadari dan tidak akan menyia-nyiakan kesuksesan tersebut. Kita akan cenderung menghargai kesuksesan tersebut, dibanding kesuksesan kecil namun dengan batu rintangan yang tak mampu mengeluarkan andrenalin-mental kita. Sehingga, kepedihan yang dihadapi dengan kesepenuhhatian akan mampu menghindarkan diri kita dari rasa kefrustasian. Dan rasa frustasi inilah yang seringkali menghentikan mengapa seseorang awal-awalnya begitu menggebu menggapai sesuatu, namun tidak berlangsung lama semangatnya lenyap dan hilang ditelan waktu, sampai tidak tersisa sedikit pun.
    Mungkin kita pernah mendengar sebuah ungkapan, “ombak yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh”. Saya kira hal itu memang benar, jika dibenarkan bahwa ketangguhan diri sendiri menghadapi ombak itulah yang lebih penting dari pada ketangguhan ombak itu sendiri. Bukan pada besarnya masalah yang membuat seseorang semakin tangguh, namun besarnya ketangguhan dirinyalah dalam menghadapi masalah tersebut yang akan benar-benar menjadikan dirinya begitu tangguh.
    Benjamin Frankl pernah berkata, “hal yang menyakitkan menjadi pelajaran bagi diri kita”. Dari pernyataannya ini, kita bisa mengambil rumus, jika kepedihan datang, jangan berhenti merenungi kepedihan, lebih dari itu berbicaralah dalam diri sendiri, “Hal apakah yang dapat kupelajari dari kepedihan ini?”.  belajar dan terus belajar dari pengalaman menyedihkan-mempedihkan.
    Itulah alasan, mengapa yang kita benci bisa jadi hal yang begitu berharga. Sebaliknya, apa yang kita cintai, justru menjadi sampah yang hanya menghancurkan hidup kita. “Boleh jadi kau membenci sesuatu, padahal itu baik bagi dirimu. Dan boleh jadi kau mencintai sesuatu, padahal itu justru akan menghancurkan dirimu (tidak baik bagi dirimu sendiri)”. Dan apa yang kita bencin, biasanya hal yang menyakitkan, membuat diri kita tidak nyaman-aman.
    Lalu apa?
    Jika kita manjakan diri kita dengan tetap bertahan pada zona yang menguntungkan (namun hanya terbatas), maka dengan sebab kenyaman akan diri sendiri yang membuat kita dikemudian hari semakin tidak nyaman. Hidup itu akan keras kepada kita saat kita lengah kepadanya, memanjakan diri dengan segudang kenikmatan sementara dan menghindari rasa kepedihan. Daripada kenyaman memanjakan diri semakin menjadi-jadi, lebih baik nyamankanlah diri menghadapi keperihan dalam memperjuangkan impian. Dan tingkatkanlah kenyamanan itu hingga, kau tidak akan mampu melihat kepedihan tersebut.
    Bagaimana bisa? Kepedihan itu hanya bersifat sementara, dan pasti akan diikuti oleh kenikmatan. Rintangan pendaki, terbayarkan oleh keindahan panorama alam. Perihnya perut menahan lapar, terbayarkan dengan kenikmatan setiap santapan makanan saat berbuka puasa. Dst.
    Jangan berikan kesempatan diri dengan aneka pemanjaan, karena jika suatu pemanjaan sudah dirasakan, ia pasti akan semakin meminta yang lain. Bahkan meningkat sedikit demi sedikit (pemanjaan yang lebih nikmat). Kita hanya mampu menjadi pengendali diri, bukan menghilangkan sikap suka membuat hari free, berlibur dan nyantai  serta nyaman.
    Caranya?
    Tinggalkan kepedihan kita saat kita merasakan  begitu bermaknanya kepedihan tersebut. Dengan kesan kebermaknaan itulah, kita akan semakin ketagihan untuk mengulangi kepedihan tersebut. Dan yang perlu diketahui, kebermaknaan akan kepedihan hanya akan didapatkan jika kita sudah menuai hasil darinya, atau sedang menikmati indahnya kepedihan sambil lalu mengintip ujung dari kepedihan itu sendiri.
    Fokuslah selalu pada ujung keperihanmu. Karena teh pucuk itu lebih nikmat, yang serba ujung pun demikian. Asalkan bukan ujung kepala ikan, bisa-bisa mulut makan mulut. Masa’ jeruk makan jeruk. Hahaha.
    Membiasakan sikap mendahulukan penderitaan daripada kenikmatan. Mendahulukan penderitaan berarti menghadapinya dengan penuh kesabaran-kesepenuhhatian. Kesabaran  bukan kata kerja pasif dan pasrah begitu saja. Namun, kekuatan yang tersembunyi dari pengendalian emosi menghindari ketidaknyamanan (kepedihan). Jangan patahkan, tapi jadilah musuh dalam selimut dirimu sendiri terhadap musuh bebuyutan nafsu dirimu.
    ***

    916 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *