Langkah Siput dalam Bekerja

    Bagi orang yang
    ambisius, hasil adalah segala-galanya. Bahkan tak ada batas lagi antara
    keinginan di waktu sekarang dengan tujuan sebagai garis finish dari langkah
    yang akan dimulainya. Seakan ketergesaan menjadi karakteristik yang melekat
    pada kepribadian jenis ini. ia mungkin bisa bersabar, namun tidak untuk waktu
    yang lumayan lebih lama.
    Awalnya penulis
    terkejud, bahwa hidup itu tidak penting harus dilengkapi dengan target. Target
    itu sama halnya menyetir takdir ilahi. Mendahulukan dari apa yang telah
    ditentukan oleh-Nya sebelum bumi dan seisinya diciptakan. Karena itulah,
    dosenku yang mencekcoki pemikiran penulis dengan pemikiran seperti ini
    menunjukkan perilaku yang berbeda. Beliau dalam pandangan penulis, benar-benar
    menunjukkan perilaku yang maksimal.
    Kemudian,
    Freederick Bailes (non-muslim) menjelaskan dalam bukunya, “Hidden Power for Human Problems” 
    terbitan tahun 1957 menyebutkan bahwa seseorang tak perlu “menuju ke-“
    ia hanya perlu “Mejadi”. Artinya, ketika seseorang sudah berusaha menjadi yang
    terbaik, maka “menuju ke” secara otomatis menjadi terikut bersamaan proses
    “menjadi” yang terbaik. Ibarat penanam padi, ia akan disuguhkan dengan
    kehadiran rumput dengan sendirinya. Berbeda dengan orang yang menanam rumput
    walau pun terkadang tak perlu usaha, namun belum tentu akan mengundang padi
    akan tumbuh secara otomatis.
    So, menuju ke
    mana pun yang diinginkan adalah penting. Dan lebih penting dari tersebut yaitu
    jadilah seseorang yang diikuti oleh apa yang diikinkan. Contohnya, bila ingin
    menjadi orang yang cerdas, tak perlu mengejar menjadi orang cerdas. Namun,
    berusahalah menjadi orang yang mengajar dengan semaksimal mungkin.
    Nah, selanjutnya
    penulis akan menekankan bagaimana proses menjadi. Bukan pada target, bukan pada
    goal dan bukan pada apa pun. Kecuali bagaimana menciptakan nuansa bekerja
    (melangkah demi tujuan seolah tak melangkah mencarinya; namun dengan menjadi)
    yaitu dalam keadaan yang mendukung dan benar-benar menghantarkan seseorang
    sesuai dengan kemauan hatinya. Jadi, sekali lagi penulis lebih menekankan pada
    bekerjanya—melangkahnya.
    Mempraktikkan
    apa yang sudah diketahui, pengetahuan seseorang akan ditambah melebihi dari apa
    yang sudah diketahui sebelumnya.  Bila
    ilmu mutkhlak diperlukan bagi suatu hal demi pencapaian, mempraktikkannya
    justru lebih penting dari sekedar mengetahui. Termasuk keyakinan, seseorang
    yang tak memiliki ilmu untuk melakukan sesuatu, ia pun akan mudah bimbang
    dengan apa yang dikerjakannya. Berbeda dengan yang sudah berilmu, apalagi yang
    menerapkan segalanya berdasarkan ilmu yang telah diketahuinya.

    “Ilmu itu adalah kehidupan Islam, dan tiang agama. Siapa pun yang
    mengajarkan ilmu, maka Allah akan memenuhi penghidupannya. Dan siapa yang
    belajar dan mengamalkannya, maka Allah akan mengajarkannya apa yagn belum ia
    ketahui.”
    (HR. Asy-Syaikh)

    Dari hadits ini
    tanpak bahwa pengalaman is the best
    teacher.
    Dalam suatu kalam orang arab disebutkan, “jarrim wa laahid takun ‘aarifan”. Cobalah dan perhatikanlah maka
    niscaya kamu menjadi orang yang tahu. Ini redaksinya bagi penulis pribadi hanya
    sebagai teguran, pengetahuan yang diamalkan dan diujicobakan akan menambah
    wawasan dan pengetahuan. Bila seseorang sudah terlebih dahulu dihantui oleh
    perasaan takut karena naskahnya ditolak, maka kuncinya hanya satu,
    “cobalah”  untuk selalu berani mencoba
    menulis dengan baik. Bukannya dengan meninggalkannya, atau bersedih durjana
    karena merasa harapannya telah pupus.
    Namun perlu
    diingat juga, pekerjaan apa pun bila tak dikerjakan dengan ikhlas sangat
    mustahil akan banyak memberi pelajaran berharga. Alih-alih akan diajarkan dari
    Allah melalui perantara akal. Ikhlas mencoba akan menjadi pekerjaan diterima
    oleh Allah, akan menjadikan apa yang dirasa berat menjadi ringan dan enteng. Ada banyak keajaiban. Rasulullah
    SAW bersabda;

    “Sesungguhnya Allah Swt tidak akan menerima suatu pekerjaan  kecuali terkandung di dalamnya suatu
    keikhlasan, dan semata-mata mencari rindha-Nya.” (HR. An-Nasaai dari Ibn Amanah)

    Ikhlas dalam
    bekerja memang sangat power full.  Mengingat, banyak orang yang tak mengakhiri
    pekerjaan dengan sempurna padahal ia datang dengan bekerja pada awalnya dengan
    perasaan “saya yakin pasti bisa”. Dan lebih banyak lagi orang yang
    berkeinginan, namun mereka tak benar-benar mengerjakan dan mengejar apa yang
    diinginkannya. Ikhlas menyebabkan pekerjaan kan tersempurnakan. Baik tak hanya
    dalam artian selesai, sempurna berarti memberi perasaan dalam diri bahwa ini
    “sungguh cukup” bagiku.
    Terkadang,
    perasaan tamaklah yang menghancurkan manusia untuk sampai ke harapan. Seperti
    semut yang mati dalam tumpukan gula, ia amat tamak dengan makanan sehingga
    mabuk dan melupakan dirinya sendiri. Menyelesaikan sesuatunya sesempurna
    mungkin walau pun merupakan pekerjaan ringan, lebih baik dari pekerjaan berat
    namun tak pernah usai dikerjakan. Perhatikanlah hadits berikut ini;

    “Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang dari kalian mengerjakan
    suatu pekerjaan kemudian menyempurnakannya (menyelesaikannya)” HR. Thabraani.

    Lalu, bagaimana
    mendapatkan kesempurnaan dalam pekerjaan? Mudah saja, perhatikanlah kedua
    hadits di bawah ini.

    “at-taani
    minAllah, wal ‘ajalatu minasysyaithani”
    . artinya, kehat-hatiaan
    (kewaspadaan itu –datangnya—dari Allah, dan ketergesa-gesaan itu
    –datangnya—dari syaithan.  (HR. Baihaqi) 

    “Apabila salah satu di antara kalian memperhatikan seseorang yang diberi
    kelebihan harta dan kemuliayaan akhlak, maka perhatikanlah (pula) seseorang
    yang mana ia lebih rendah darinya” HR. Syaikhani dari Abu Hurairah.

    Dari hadits
    pertama menjelaskan, ketergesaan itu berawal dari syaithan dan kehati-hatian
    berasal dari Allah. Yang manakah yang akan dipilih, bila sesuatu dari syaithan
    pasti akibatnya tidak baik, dan yang dari Allah pasti akibatnya adalah husnul
    khotimah. Dengan berhati-hati (tidak tergesa-gesa dalam bekejar) akan memungkin
    setiap orang banyak belajar dari perjalanan dalam menuju keinginan. Ia tidak
    asal-asalan menempuh semua cara, namun lebih bijak berfikir untuk memutuskan
    langkah yang tepat.
    Bila seseorang
    tergesa-gesa melakukan sesuatu, ia tak hanya sering melakukan kesalahan. Namun
    perasaan “menikmati pekerjaan” pupus tak terealisasikan. Akibatnya, perasaan
    asyik, tak bisa tercapai. Kalau begini, bagaimana mungkin bisa survive (bertahan) agar pekerjaan
    sampai, bila melangkah saja dipenuhi hasrat oleh syaithan, dengan pikiran yang
    tak seimbang dengan gerak tubuh. Pelan-pelan berarti menyeimbangkan pikiran,
    perasaan dan gerak tubuh menjadi selaras. Tidak ada yang lebih dominan pada
    salah satunya.
    Terakhir,
    ternyata bila semua usaha dikerahkan dan hasilnya belum ditunjukkan. Jangan
    melihat kepada orang yang telah sukses, lihatlah pula orang yang masih belum
    sukses sampai sekarang. Maka, kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman akan
    menyelimuti. Perasaan ini sangat dibutuhkan bagi “bangkit kembali” dari
    keterpurukan dan kembali merajut harapan.

    1,036 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *