“Lakukanlah Sesuatu”

    Banyak
    orang pendiam seperti kita minder menghadapi seseorang. Misalnya, ketika ada
    orang baru, kita menjadi begitu segan mengenalkan diri untuk lebih awal
    kepadanya.  Hal yang justru membuat kita
    kikuk adalah ketika diam-diam ‘ada ketertarikan’ kepada seseorang. Entah karena
    sensasi cinta, kekaguman atau kah karena kelebihannya dibandingkan diri kita. Dari
    sini kemudian, beberapa kita enggan untuk berbicara, memilih lebih baik diam daripada
    mendapatkan “tekanan-bathin” atau pun penolakan.
    Penolakan
    ini sejatinya pernah dialami, dalam bentuk bulying. Dalam contoh lain
    semisal pemojokan, dan ketidakpedulian orang lain terhadap para jago-pendiam. Karena
    orang seperti kita jelas-jelas terkadang memang disisihkan dari dunia, dianggap
    tak berguna, kekanak-kanakan dan kurang bisa memahami seseorang. Ya, semacam
    kurang peduli terhadap lingkunga—nyatanya, kita terlalu fokus kepada apa yang
    ada di dalam diri daripada apa yang diluar sana. Kecuali, pendiam kita memang
    patut untuk dibanggakan—diam berkualitas.
    Di
    lain hal, kita begitu terjebak dengan perasaan-perasaan “subjektif”.
    Gambarannya, mudah begitu menyalahkan orang lain (sensitif) karena ketidakadilan
    yang menimpa, adalah bentuk nyata perasaan subjektif. Misalnya, tak jarang
    mereka yang sebaliknya (bukan pendiam) berkomentar, “ayo ngomong! Jangan
    diam dong!
    ” Bagi mereka mungkin berbicara bukanlah hal yang sulit, namun
    bagi seorang pendiam, berbicara membutuhkan waktu, pikiran dan tenaga
    (keberanian).
    Kecenderungan
    perasaan dan mungkin juga pikiran subjektif sebenarnya sudah berkembang di
    dalam diri seorang pendiam. Nah, ketika kecenderungan seperti ini segan
    disadari, biasanya akan meningkat menjadi semacam pikiran irrasional; semacam
    pikiran aneh. Misalnya, bagi perempuan saat ditanyaikan “berapa umurnya mbak?”
    maka, ia akan marah, bahkan ia akan berfikir irrasional semisal; orang ini
    sangat tidak senang terhadap saya, saya sudah tak ada artinya apa-apa bagi
    kehidupan.
    Di
    dalam hidup, sudah tentu tak ada yang mutlak tak berpasangan. Buktinya, tak
    akan pernah diketemukan ujungnya tiang kecuali di sisi lain ada ujung yang
    lain. Di mana ada atas, di situlah ada arah bawah.  Adanya lelaki juga menunjukkan adanya
    perempuan. Begitupun dengan diri kita, bila ada yang merasa “risih” dengan
    keberadaan diri, itu artinya sebagai “penegasan”.  Terhadap seseorang di sana yang begitu
    “nyaman” dengan keberadaan diri.
    Jelasnya,
    hal ini akan sangat terjadi bila kehadiran rasa yang berbeda di dalam hati
    terwujudkan. Sesekali diam, sesekali berbuat, agar hukum “pasangan” seperti
    dijelaskan di atas berlaku. Bolehlah kita dikucilkan oleh orang-orang, dan
    janganlah kita hina diri kita. Bagaimana mungkin kepedulian akan ada, bila
    nyatanya tak objektif berfikir siapa kita. Nah, untuk itulah, kunci dalam
    memenangkan perasaan yang terjatuhkan adalah “mengalihkan fokus”.
    Ada
    yang mengatakan, bahwa sebaik-baik sesuatu itu adalah apa yang di tengah-tengah
    (seimbang). Katakanlah, bila ada dua hal yang berbeda, sebagai penengah menjadi
    hal yang utama. Antara pikiran positif dan negatif, kedua-duanya sama-sama
    penting. Kalau terlalu positif thingking terhadap diri sendiri, kita menjadi
    buta terhadap kelemahan dan kesalahan.  Berfikir di sini akan menggeser pikiran dari
    yang tidak semestinya ke pikiran yang seharusnya. Jenis mengalihkan fokus ini
    sangat ajib untuk dilaksanakan.
    Agha Ma’ruf (17 Juni)

    611 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *