Kopdar Bareng Taufik Ismail

    Hujan mulai
    menguasai perjalan kami. Saat itu, aku bersama teman-teman yang lain menaiki
    mobil boks pik-up klasik. Dengan warna langit kebiruan. Entah siapa dan mengapa
    aku berada di punggung mobil tersebut! entah untuk apa pula kami kan menuju sampai
    titik  akhir perjalanan. Aku hanya bisa
    merenungi dan ikutan kalau kami akan mengikut kopdar para blogger seantero
    negeri Pertiwi ini.
    Waktu pun
    berjalan, tak terasa kami semakin mendekati lereng gunung. Daerah yang sejuk
    nan indah dipandang. Sementara, aku tersendiri dari kesenangan mereka, semacam
    kebingungan menghampiri. “lah, kopdar kok di pegunungan!” aku terheran.
    Layaknya
    perjalanan Soe Hok Gie menuju puncak gunung Ronokumbolo. Selalu ada semangat
    kebersamaan di antara kami, bersama-sama. Ada canda, ada tawa. Lagi-lagi, aku
    hanya bisa memilih untuk diam, merenungi keindahan alam. Kenyamananku ini tak
    bisa diganggu-gugat, kecuali memang ada satu hal yang sangat penting untuk
    dibicarakan.
    Beberapa
    daun tampak basah, seolah bekas air menyiraminya. Dari pohon tertinggi yang
    kutemui di pinggir jalan. Sesekali aku menoleh ke kanan, memastikan peserta
    lain yang mungkin datang bersamaan. “alhamdulillah”, ternyata para peserta
    banyak yang berdatangan. Serasa pengajian yang pernah aku ikuti di pelosok
    perdasaan dulu. Bedanya, kalau yang sekarang adalah para pemuda yang super
    gaul.
    Singkat
    cerita, kami pun tiba di sebuah desa. Ternyata, sudah ada banyak peserta
    lainnya menunggu di sana. Mobil box pun berjajaran di sepanjang jalan plosok. Hanya
    menunggu waktu saja, bagi kedatang seorang sastrawan nasional “Taufik Ismail”.
    Beberapa
    detik kemudian… (maaf ga pakai lama-lama kayak di sinetron2)
    Pak taufik
    datang dengan sejumlah rombongan. Kami yang sedari awal sudah berada dalam
    balai desa, merasa terkagum dan menyambutnya dengan suka meriah. Keadaan semakin
    ramai, padahal beliau masih sekedar berbincang dengan aparat desa di dekat
    tempat tersendiri 30 meter dari tempat acara.
    “kalau
    begini, aku nggak betah, keadaan semakin runyam”. Aku pun beranjak keluar
    ruangan. Mengusahakan agar mata telanjang saya tak terhalangi oleh peserta saat
    melihat sastrawan ini datang ke tempat acara.
    Beberapa
    menit kemudian, “lampu mati, listrik terputus, dan menjadi gelap”.
    Entah mengapa
    saat aku duduk di tempat yang tak jauh dari beliau, ia datang menghampiriku. Mengatakan
    kekagumannya akan tempat tersebut. dengan kata-kata yang tak dapat aku tuliskan
    kembali.
    *tiba-tiba
    mimpiku terputus, terbangun dan tersadar dari tidur semalam.

    730 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Kopdar Bareng Taufik Ismail”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *