Konsep Diri

    Seseorang yang tidak memiliki konsep diri yang positif, dapat dipastikan selalu merasa takut untuk bersosialisasi dengan orang lain, minder, dan seterusnya. Sebenarnya ia mampu melakukan itu semua, misalnya ia belum berani untuk unjuk-gigi di saat diskusi dalam kelas, atau di depan muka umum gitu.
    Sebenarnya, ia ingin sekali berbicara dengan cas cis cus, tapi, karena ia lebih mendengar inner-voice yang selalu mengatakan, misalnya, “alah! ngapain kamu berbicara, paling-paling itu itu saja”.Yang terjadi, ia pun ga jadi ikutan nimbrung-aktif berbicara dalam diskusi tersebut. Kemudian, saat temannya itu selesai berbicara kemukakan pendapatnya, dan diberi apresiasi oleh yang lain, ia baru sadar, “lah, itu kan yang akan saya kemukakan tadi”.
    Dari kejadian ini, bisa kita petik suatu hal bahwa yang dimaksud dengan konsep diri adalah pengetahuan, makna-makna yang dianggap penting, kebiasaan yang ada di dalam diri seseorang. Contoh tadi ‘diam’ (tidak mengemukakan pendapat) dipandang oleh dirinya lebih baik daripada berbicara. Karena saat berbicara, akan malu-maluin. Pandangan seperti inilah yang dimaksud dengan konsep diri. Yang perlu diperhatikan, konsep diri terkadang bisa negative, atau positif. Kalau yang tadi, kamu bisa tebak sendiri dech.
    Misalnya lagi, saat temanmu mengatakan padamu, “percaya lah, kamu itu ga bakalan bisa nyelesaian tugas statistikmu”. Itu kan menurut konsep dia, yang menilaimu berdasarkan dirinya, apa yang dia tahu. Padahal, kamulah yang lebih tahu siapa dirimu, kelebihanmu dan kemampuanmu. Bilang saja sama dia, “ga ngaruh ucapanmu, bro!! intinya, konsep diri memang biasanya rawan terbentuk dari lingkungan seperti contoh ini, tapi kamu kan lebih berkuasa atas dirimu sendiri, kamu bukan robot yang bisa dikendalikan orang lain. Buktinya, kamu sering nangis-nangis kalau ditinggal sama si ‘doi’ (kamu memiliki perasaan), atau kamu memilih untuk tidak menangis (karena kamu memiliki pikiran). So, gunakanlah pikiran dan perasaanmu sebaik mungkin. Oke!!
    Sedangkan menurut William D. Brooks, konsep diri diilustrasikan bagaimana kamu memandang dan merasakan perasaan mengenai dirimu sendiri. Bagaimana kamu merasakan akan fisikmu, kehidupan sosialmu dan fisikmu.
    Mungkin, kamu juga pernah mendengar istilah citra diri dan harga diri. Citra diri sebenarnya adalah bagaimana kamu memikirkan dirimu, dan bagaimana bagaimana perasaanmu terhadap dirimu disebut harga diri. Maka, konsep diri terdiri dari keduanya.
    Maka, konsep diri bisa disebutkan adalah proses bagaimana kamu memandang dirimu, merasakan akan keadaan dirimu: keadaan sosial, kenyataan fisikmu, dan jiwamu. Dan itu dipengaruhi oleh teman-temanmu, atau orang yang kamu idolakan, sayangi, atau merasa nyaman jika bersamanya.
    Karakteristik Konsep-Diri
    Konsep diri merupakan sesuatu yang unik, maka keunikan itulah yang membedakan dari yang lain. Di sini misalnya, disebutkan bahwa konsep diri memiliki tiga karakteristik utama;
    Pertama, konsep diri sebagai suatu akibat. Jika demikian, berarti ada sesuatu yang mengakibatkannya menjadi ada (penyebab). Karena ia terbentuk oleh lingkungan di mana seseorang pernah tinggal, baik ketika masih bayi atau pun sudah menginjak anak-anak, remaja, dan dewasa. Karena ia merupakan yang awalnya tidak ada, menjadi ada. Maka, bisa dirubah dengan mendatangkan suatu konsep yang baru.
    Lingkungan yang membentuk konsep diri seseorang yaitu orang lain, khususnya orang-orang yang paling dekat dengan dirinya, atau orang yang diidolakannya. Termasuk juga kelompok di mana ia menjadi anggotanya, dan terakhir nich, yaitu dirinya sendirilah yang paling bertanggungjawab membentuk konsep diri.
    Kedua, zona nyaman. Karena itulah, banyak orang yang tak bergerak, keluar dari sarangnya, tidak melakukan sesuatu yang baru bahkan yang bertentangan sekali pun tanpa mengindahkan fleksibelitas. Kecenderungannya, ia dia melindungi dirinya dari sesuatu yang baru. Karena sudah merasa nyaman di zona tersebut. Keluar dari zona itu, sama halnya menyerahkan kenyamanan di zona lainnya.
    Zona nyaman ini umumnya sangatlah berbahaya, karena saat itulah ia merasa ketagihan untuk tetap tinggal di daerah tersebut, tidak mau melihat di zona lain yang lebih indah dan lebih baik. Seseorang tidak lagi mau mengoptimalkan potensi yang berada di dalam dirinya. Sebab, ia sudah merasakan kebahagian di dalam dirinya, jadi, untuk apa mengoptimalkannya, untuk apa capek-capekmengejar sesuatu yang lain?
    Contoh nyata, cinta buta. Karena kenyamanan bersama pasangan hidup, sehingga ia buta untuk melakukan sesuatu yang lebih penting di luar sana. Sesuatu yang mungkin akan menjadikan dirinya lebih baik.
    Biasanya, saat seseorang terjebak dengan zona nyaman dan berhenti di satu titik, ia sekaligus terjebak ke dalam rutinitas yang dapat membuat dirinya merasa bosan di waktu-waktu selanjutnya. Merasa frustasi, dan kelelahan emosi. Walau pun, ia terlihat begitu ceria, tapi dibalik kecerian tersebut ada hal yang tersembunyi dan menyiksa jiwanya.
    Bila saja seseorang mengubah posisi, kebiasaannya, diawal-awalnya akan terasa sulit dan merasakan yang membuat perasaannya deg-deg kan. Sekali ia merasakan kenyaman di luar zona ketidaknyamanan, saat itulah ia akan percaya bahwa zona nyaman walau tak nyaman, tak selalu menyamankan.
    Karena itulah, kamu harus banyak membuka wawasanmu, meluaskannya dan menanaminya dengan banyak hal baru. Carilah sesuatu yang ada di luar dirimu, di luar makna yang telah kamu dapatkan, atau sesuatu yang telah kamu ketahui. Hanya dengan itulah, kamu akan bisa mendapatkan cara pandang baru, memaknai sesuatu dari banyak hal yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
    Dari itulah, kamu akan berfikir, memilih, memutuskan dan bergerak untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Jangan mau hidup begini-begini aja, hiduplah yang begini dan begitu juga. Bagaimana, sudah siap kan? Siap melihat sisi lain dari zona ketidaknyamanan.
    Ngelakuin itu semua jangan mau juga didekte sama orang lain. Tunjukkanlah dong, “ini baru cara gue”, atau “ini gue banget”. Karena, bila kamu melakukan sesuatu tidak dengan ‘caramu’, itu berarti berada di luar nilai-nilaimu, kamu akan merasa tak menghasilkan apa-apa, tidak menghargai usahamu. Lebih baik menjadi nomer satu bagi diri sendiri, daripada nomer satu menurut orang lain.         
    Ketiga, konsep diri berarti bergerak atau berubah. Maksudnya? Seseorang itu berusaha menjadi lebih baik menurut dirinya, bukan menurut orang lain. Yaitu, sesuai dengan konsep dirinya sendiri. Bagaimana seseorang bisa terus bergerak.
    Sekilas, seseorang akan maju ke depan ada dua kemungkinan. Karena memang menghindari sakit, atau mencari kenikmatan. Sudahlah, kamu boleh ngaku aja. Untuk apa kamu lama-lama main game? Pasti, alasanmu ga jauh karena ingin mencari kesenangan, bukan?
    Di saat kenikmatan (atau sesuatu yang dihasilkan dari usaha) tercapai—prestasi, seseorang akan merasa semakin yakin kepada dirinya, merasa terus menjadi yang terdepan, punya tujuan. Tapi, itu semua ada syaratnya. Yaitu, kenikmatan atau prestasi yang sesuai dengan konsep dirinya. Maka, sebuah dinamika harus sesuai dengan konsep dirimu sendiri. Jika tidak, maka kamu melawan perubahan itu sendiri, sebagaimana melakukan sesuatu bukan dengan ‘caramu’.
    Konsep diri negative
    Seseorang yang memiliki konsep diri negative seringkali mereka yang menghina dirinya sendiri, tidak tahu akan potensi dirinya, merasa dirinya lemah. Selengkapnya yaitu;
    1.  Jika ada temanmu di kelas dikritik oleh teman yang lain, kemudian matanya aga’ memerah, marah-marah. Kemudian melihat sinis kepada yang mengkritik, maka temanmu yang begini bisa dibilang memiliki konsep negative. Karena, ia menganggap kritikan tersebut sebagai hal yang menyerang harga dirinya, menjatuhkan harga dirinya.
    2.  Mereka yang responsive terhadap pujian. Jika dipuji, ia sangat antusias untuk melakukan sesuatunya, bersemangat. Jika tidak, maka ia tidak akan begitu. Sikapnya yang meremehkan, selalu mengeluh dan mencela dirinya sendiri membuat ia bersikap demikian kepada orang lain. Karena hubungan seseorang kepada orang lain, ditentukan hubungannya dengan dirinya sendiri.
    3.  Selalu merasa dipojokkan, tidak dihargai, padahal, kenyataannya tidak demikian. Ya, perasaan yang berlebihan dan tak dapat dikendalikan. Ia merasa tidak disenangi oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.
    4.  Persimis sebelum ‘berperang’, ia menghindari persaingan, atau tidak berjiwa kompetisi. Karena ia merasa tak berdaya melawan saingan yang dapat merugikannya.
         Konsep diri Positif
    Jika kamu ngaku memiliki konsep diri yang positif coba pikirkan tanda-tandanya berikut ini. biasanya mereka yang memiliki konsep diri positif dengan keyakinan atas kemampuan dirinya, mampu menghadapi tantangan hidupnya, atau apa pun.
    Selanjutnya, ia tidak merasa lebih rendah dari orang lain, dan juga tidak lebih tinggi. Berfikir bahwa semua orang adalah sama, termasuk dirinya. Jadi, jika ada orang yang tak berani menatap orang lain, bisa dicurigai memiliki penyakir rendah diri, bukan rendah hati.
    Oh iya, termasuk juga mereka yang sanggup mengekspresikan dirinya yang tidak disenangi dengan cara merubahnya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Ia tidak sekali melangkah, semua terlampaui. Tapi, secara bertahap. Pertanyaan, apakah kamu cenderung memiliki konsep diri negative atau positif. Diintropeksi diri ya?
    Tidak apa-apalah jika masih memiliki konsep diri yang negative, wajarlah kalau begitu. Karena kamu akan merubahnya, sangat berpeluang untuk memiliki konsep diri positif dengan cara yang akan dibahas selanjutnya. Yuk, baca terus dan perhatikan dengan seksama. Di akhir pembahasan ada strategi jitu, kamu harus ikuti itu ya.. oke, semangat empat lima!! Go..
    Merubah konsep diri
    Setelah kamu mengenal karakteristik utama dari konsep diri, maka ‘perjalanan’ selanjutnya adalah menuju area how to. Yaitu, bagaimana merubah konsep diri yang ada di dalam dirimu?
    Pada dasarnya, seseorang yang terlahir ke dunia ini ditakdirkan dengan berbagai keunikan masing-masing, lengkap dengan segala potensi yang dibutuhkan untuk menjalani hidupnya. Hanya saja, masih saja banyak yang terjebak dengan keunikan orang lain.
    Ia membandingkan dirinya dengan orang lain, keunikan dirinya dibanding orang lain. Kalau ada ungkapan gajah dipelupuk mata tak tampak, semut disebrang sana tampak. Maka, sebenarnya ini juga cocok mengungkapkan, begitu butanya diri seseorang terhadap kebaikan dirinya, kelebihan dirinya. Sehingga ia menyia-nyiakannya.
    Maka, mulai saat ini belajarlah menerima diri apa adanya, tidak kurang dan tidak lebih. Dari sini kamu akan belajar tidak membandingkan kelemahan diri, dengan kelebihan orang lain. Jika terpaksa membandingkan, cobalah balik, bandingkan kelebihan diri sendiri dengan kelemahan orang lain. Dengan tujuan, agar kamu lebih tidak mengkerdilkan diri akibat perbandingan yang tidak baik. Apakah kamu ga capek, mengkritik, meremehkan, menghina, orang yang berada di depanmu, saat kamu sedang bertatapan di cermin. Ga kasian tuh!!
    Selanjutnya, Pada poin pertama di atas tadi disebutkan, bahwa konsep diri adalah akibat. Jadi, ia ada karena ada sebabnya. Maka, kita tak usah kegandrungan mengubah akibatnya, cukup rubahlah diam-diam dengan merubah penyebabnya.
    Kenapa harus diam-diam, masalahnya kalau rame-rame kan bukanlah pakai caramu, konsepmu. Kamu bisa saja dimasukin oleh konsep mereka. Pas juga ini bisa dijadikan sebagai acuanmu, saat orang lain memberikan komentar tentang apa pun yang berkaitan dengan kedirian-mu, saat itulah kamu harus sediakan alat penyaring.
    Memangnya mau nyaring ikan di mana mas? Wadauw,maksud gue tuh kamu harus menyaring setiap penilain atau komentar orang lain dengan bijaksana. Bahwa, komentar orang lain  tentang kedirian-mu tidak atau belum menunjukkan dirimu yang sesungguhnya. Sebab pendapat itu didasarkan dari pendapat mereka sendiri, cara mereka, konsep mereka, nilai mereka, makna yang ada di pikiran mereka, bukan nilai yang ada di dalam dirimu.
    Ditambah lagi, walau pun mereka cukup ahli dalam menilai dirimu, karena kamu juga merasa nyaman dengan penilain tersebut. Sebenarnya, penilain itu cuma diwaktu itu saja, bukan di waktu yang akan datang, kenyataannya sepanjang waktu ada banyak pengalaman yang mempengaruhi konsepmu, kamu pun berubah. Walau pun tak begitu mendalam.

    Jadi, belajarlah bahwa tak semua apa yang orang lain komentar tentangmu, tak seratus persen menunjukkan dirimu yang sesungguhnya. Maka, cuek aja jika ada orang lain bilang kamu kurang cakep dikit.Sampai kamu percaya dan melihat orang yang berada di depanmu saat kamu bercermin. Ternyata, gua ga jelek-jelek amet. Hehehe

    1,170 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *