Kini, Membaca dan Menulis Lebih Menyenangkan

    Saya dan Menulis
    Ia hampir dilupakan. Kalau saja ia tak berkarya, ia akan ditelan oleh sejarah. Seperti Kartini, tulisannya, kata-katanya mengungkapkan ketidakadilan, rintihan bathin yang mendalam. Tapi ia bukanlah sosok Kartini, penuturannya benar-benar meninggalkan makna yang mendalam. Pram, sebutan tokoh Idola saya.

    Saya beruntung membaca beberapa karyanya: “Anak Semua Bangsa”, “Larasati”, “Bukan Pasar malam”, dan “Arus Balik”. Sebuah karya yang kaya makna. Tokoh idola selanjutnya adalah Bung Goenawan Mohamad. Beberapa “Catatan Pinggir”-nya sangatlah mempengaruhi perjalanan penulisan saya. Saya menganggap keduanya sebagai bapak dalam dunia kepenulisan.

    Mereka adalah orang yang lazim dan wajib terlahir. Mewarnai sendi kehidupan orang lain. Saya katakan dalam bathin, “Saya ingin menjadi seperti mereka, menulis prioritas utama”. Tanpa ada rasa kikuk yang menyeruap di dalam diri, saya yakinkan bahwa menulis dengan baik dibutuhkan latihan setiap saat. Saya yakin, dengan melaksanakan usulan Pak Hernowo dengan konsep “mengikat makna”-nya, saya akan diperkaya secara bathin.

    Dari ini, saya menyadari, kalau-kalau saya tidak hidup di zamannya Pramudya Ananta Toer (Pram). Saya hidup di zamannya Bung Goenawan dan Pak Hernowo, zaman kemajuan teknologi. Oleh itu, menulis dan membaca merupakan tugas mulia yang perlu memanfaatkan teknologi. Menurut saya pribadi, membaca tanpa menulis tidaklah dinamakan membaca, pun sebaliknya. Sungguh naif jika ditengah kemajuan zaman ini masih tidak mau melaksanakan kegiatan penting tersebut.

    Dengan latar belakang kepribadian ambivert yang cenderung introvert, saya menyadari kelebihan saya terletak pada bidang kepenulisan. Menulis dan membaca aktivitas utama saya, jika saya tinggalkan keduanya untuk sehari saja, perasaan bersalah begitu merasuki dalam jiwa. Untuk mengobati kehausan akan dunia ini, saya pernah bergabung dalam organisasi atau pun komunitas yang seirama. Misalnya, di lembaga pers mahasiswa, dan komunitas blogger.

    Dunia kepenulisa saya diawali sejak kelas VI SD. Kala itu—bahkan sampai detik ini—menulis diary jarang saya tinggalkan. Perkenalan saya dengan komputer dimulai ketika masih duduk di kelas VII sewaktu di pesantren. Sebab itu, semangat menulis saya semakin tumbuh dan berkembang. Barulah di tingkat perkuliahan saya memasuki dunia per-blogging-an dan aktif hingga sekarang.

    Ada yang membuat saya tak patah semangat untuk terus menulis, membaca dan blogging. Yaitu, kesadaran terdalam saya, bahwa saya tak hidup di zaman Pram yang masih mengandalkan mesin ketik. Hidup sekarang adalah zaman teknologi. Tentu, apa yang menjadi penyemangat buat Pram adalah semangat saya. Dan Pram telah berhasil menjadi sastrawan. Sungguh, sangatlah malu bila detik ini saya tak menulis dengan kesungguhan. Apalagi dengan kehadiran teknologi baru semisal Acer Switch Alpha 12.

    Para penulis dan pembaca seperti saya akan semakin dimanjakan. Selain itu, profesi saya di dalam mengajar dan sebagai guru BK akan terbantu.

    Bagi kita-kita yang terkadang mengalami pasang surut dalam menulis, maka belilah teknologi tercanggih dan teranyar. Semisal notebook yang berpadukan tablet. Dan ingatlah pada sosok idola terdahulu, betapa mereka menghasilkan ribuan karya tanpa mesin canggih. Lalu, sadarilah betapa malunya diri kita bila tak menulis?

    Perasaan malu pada penulis terdahulu akan membawa produktifitas dalam kepenulisan. Selain itu, memperhatikan fakta bahwa penampilan mempengaruhi semangat. Misalnya, saat seorang mandi dengan bersih, berpakaian rapi, wangi dan indah, ia akan lebih bersemangat menjalani harianya di kantor dibanding berpakaian lusuh. Hal ini menunjukkan performa sangatlah penting.

    Kehadiran notebook mutakhir pasti akan semakin mempengaruhi sikap dan kinerja kita. Termasuk saya dan Anda. Saya butuh teknologi yang canggih, bukan untuk kerakusan, sekali lagi: bukan. Plekhanov mengatakan:

    Bukan, bukan buat gairah dunia,
    Bukan untuk kerakusan atau pun perjuangan,
    Tapi untuk inspirasi dan doa.

    Antara Menulis, Mengajar, dan Acer Switch Alpha 12
    Sebagai tenaga profesional dalam suatu lembaga pendidikan, tentu membaca dan menulis merupakan nyawa proses pendidikan itu sendiri. Apalagi, saya memiliki hobi membaca, menulis, dan blogging. Kebutuhan akan media elektronik yang mendukung hobi tersebut sangatlah dibutuhkan. Yaitu, komputer.

    acer
    acer

    Selepas menyelesaikan pendidikan psikologi, saya banyak berkecipung dengan dunia konseling di sekolah swasta. Selain juga mengajar di Pesantren di pedalaman. Meski pun saya bukan relawan pengajar yang biasanya waktunya berbatas, namun saya tak patah semangat.

    Tinggal di pedalaman bukan berarti saya tak melek teknologi. Justru, karena itulah saya menerobos keterbatasan demi sesuatu yang lebih maju. Ya, saya berprofesi sebagai guru yang juga menekuni hobi blogging, dan pengajar jurnalistik. Bila demikian, pemanfaatan media semisal laptop muthlak diperlukan. Tidak bisa dibayangkan jika laptop masih belum terlahirkan, betapa beratnya membawa komputer dari satu tempat ke tempat lain.

    Kini, saya perlu berbangga diri. Teknologi terus tumbuh dinamis. Mendukung dan menjawab kebutuhan umat manusia, sehingga memudahkan kinerjanya. Kehadiran Acer Switch Alpha 12 sangat membantu saya dalam memaksimalkan kinerja mengajar, dan menekuni hobi.

    Sebelumnya, saya telah menggunakan notebook produk Acer Aspire One sederajat dengan pantium-4. Sampai sekarang laptop itu masih ada. Pernah suatu saat ketika mengerjakan skripsi, teman sekelas saya berujar, “Bro, ga ganti laptop yang anyaran bro?” Saya jawab, “Ga lah, kan ini masih nyaman digunakan”. Notebook tersebut telah bersama saya selama tujuh tahun. Dan tak ada cacat. Padahal, rata-rata teman saya di kampus rata-rata umur notebook-nya 2-3 tahun, terus ganti karena ada kerusakan, dan lain sebagainya. Sejak itu, saya percaya produk Acer memang sangatlah tangguh dan handal.

    Generasi teranyar notebook Acer adalah Acer Switch Alpha 12. Produk ini tidak hanya berfungsi sebagai notebook, namun juga sebagai tablet. Saya tak bisa membayangkan betapa bahagianya ketika sudah memilikinya. Biasanya, dalam perjalanan Sumenep-Kediri selama tujuh jam dalam bus waktu terbuang jika tak membaca. Kebiasaan saya adalah membaca, dan memang hobi naik bus. Sayangnya, jika membawa buku satu sampai dua buah tak cukup membuat saya senang. Nah, jika kehadiran Acer Switch Alpha yang bisa berfungsi sebagai tablet, sangatlah mempermudah bagi saya menelusuri buku dalam format elektronik. Termasuk jurnal-jurnal yang telah di-save sebelumnya.

    acer

    Untungnya, Acer Switch ini dilengkapi BlueLight Shield sehingga dapat mengurasi emisi cahaya biru yang menyebabkan mata mudah lelah ketika harus membaca cukup lama di depan layar. Beruntung sekali bagi para pembaca seperti saya. Saya tak perlu lagi takut untuk berlama-lama di depan layar tersebut. Meski begitu, bukan berarti mengurangii ketajaman tampilannya. Ia memiliki layar 12 inci dengan resolusi QHD sebesar 2160×1440 pixel.

    Kini, saya juga tak perlu kebingungan ketika handphone saya kehabisan daya baterai di tengah perjalanan. Tak perlu powerbank, cukup dengan Acer Switch Alpha 12 ini telah dilengkapi port USB Type-C dengan USB 3.1 gen 1, yang mampu mengalirkan daya hingga 4,5 W.

    Di pesantren saya mengajar dan juga memberi konseling kepada beberapa santri. Membangun raport dengan mereka bukanlah perkara mudah, diperlukan pemahaman terhadap latar belakang mereka. Misalnya, dengan melaksanakan teknik nontes sebagai pemahaman individu. Dalam teknik itu, ada perihal observasi, wawancara, dan lain sebagainya. Di situ, saya sebagai konselor dibutuhkan kejelian yang baik di dalam memahami mereka.

    Berkas-berkas mereka jumlahnya bukan cuma satu atau dua lembar, bahkan berlembar-lembar untuk santri. Coba bayangkan, jika ada puluhan santri? Tentu hal ini merepotkan jika membawa berkas ke mana-mana sambil melakukan kontroling terhadap kegiatan santri.

    Kehadiran Acer Swtich Alpha ini menjawab kebutuhan saya. Selain karena bodinya yang tipis dan ringan, juga tidak menimbulkan bunyi akibat kipas sebagaimana umumnya notebook. Dengan sistem pendingin Acer LiquidLoop ™, notebook yang sekaligus tablet ini mampu menstabilkan suhunya. Sehingga, akan membuat nyaman tanpa terganggu bunyi kipas konvensional. Selain itu, hal ini akan memperpanjang umur Acer tersebut.

    Betapa sumringahnya diri ini ketika sudah memilki teknologi ini. Urusan konseling bisa aman, urusan blogging dan menulis serta membaca menjadi nyaman. Misalnya, ketika menunggu waktu shalat berjamaah di masjid, sambil menunggu adzan, sambil baca kitab-kitab digital. Ketika rapat, daftar evaluasi tercatat dengan rapi.

    Di tengah kesibukan saya sebagai pengajar, dan konseling, saya menyadari saya juga seorang penulis dan blogger. Tentu, ide perlu digali secara kontinu, dan kadang hadir tanpa ditebak. Dengan bantuan Pena digital Active Pen, saya bisa mencoret-coret ide secara acak dengan teknik mind-map pada layar Acer Switch Alpha tersebut. Yang mana, pen digital ini memiliki tingkat sensitivitas sebesar 256 tingkat. Bahkan, menggambar menjadi lebih mudah.

    acer

    Akhirnya, saya menyimpulkan teknologi Acer ini sangatlah berguna dan menunjang kinerja bagi siapa pun; entah bagi blogger, pengajar, traveller, pelukis, maupun para pekerja-pekerja di bidang kepenulisan: wartawan dan lain sebagainya.

    acer6-min


    acer-switchable-me-story-competition

     

    3,820 kali dilihat, 15 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    10 tanggapan untuk “Kini, Membaca dan Menulis Lebih Menyenangkan”

    1. halo makruf, salam kenal

      betul menulis akan abadi bersama sejarah.

      ucapan pramudya ananta toer juga

      “Menulislah Maka akan abadi” ternyata juga terinspiasi dari penulis muslim.. saya lupa namanya karena berbahasa arab

      terima kasih atas sharing seputar menulis bersama acernya..

      terimakasih

    2. Wahhh… iya, menulis itu penting banget..

      Aku dari dulu pengen banget menciptakan sebuah karya dari tulisan.. pengen seperti penulis-penulis yg dulu yg walaupun ngetiknya hanya pakai mesin ketik tapi mereka tetap menciptakan tulisan yg bagus yg sampai ckrg masih dinimkati oleh pembaca..

    3. Menulis itu bukan penting lagi, tapi memang menulis adalah bagian dari kehidupan. Menulis pun ada seninya tersendiri dan seni menulis juga hatus dipelajari, setidaknya begitu menurut saya. Yang namanya menulis gak pernah mengenal jaman, ia selalu pas untuk jaman apapun, khususnya untuk jaman sekarang, kemajuan teknologi untuk menunjang kegiatan menulis semakin bervariasi setiap harinya. Tentu saja sekarang laptop telah menjadi salah satu alatnya, khususnya kita sebagai seorang blogger.

    4. Menulis dan membaca memang harus dijadikan teman untuk sehari-hari, dengan membaca kita dapat menuliskan apa yang dibaca.. Mendapatkan informasi yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu..

      Wah keren nih, thank ya bermanfaat nih.. 🙂
      Boleh juga nih rekomendasinya 🙂

    5. Ini laptop impian banget ya kak, gimana enggak keren speknya secara harganya seharga motor heheheu
      Ya ada harga ada rupa. Aku dari lama ngiler laptop2 bongkar pasang begini.
      Iya ngiler aja deh!

      Anyway bener katamu kak menul dan membaca itu emang berkesinambungan. Menulis gak perna baca juga gak ada isinya. Kosong belaka. Membaca terus gak nulis juga jadi gimana. Yang penting jangan gak menulis dan gak membaca, hehe

    6. Iya bener banget mas, sekarang kita hidup di jaman hernowo dimana aktivitas menulis akan melibatkan teknologi. Makanya bener – bener butuh perangkat mumpuni yang mampu mewujudkan kemudahan dalam menulis hehehe liat laptop itu bener – bener bikin ngiler lah. Secara spek nya gahar banget. Bener – bener bisa makin produktif dengan laptop Acer Switch Alpha 12

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *