Khutbah Hari Raya Idul Fitri 2013

    Maha besar Engkau ya Allah. Setinggi-tinggi arti puji dan sedalam-dalamnya arti syukur kami panjatkan kepada-Mu, ya Allah. Tiada tuhan selain Engkau. Keeseaan-Mu tidaklah kami ragukan. Inilah kami hamba-hamba-Mu yang dhaif, berkumpul bersama di sini dan di mana-mana karena panggilan-Mu.
    Pagi ini, kami keluar dari rumah masing-masing sambil menyuarakan gema takbir ilahi, dan tahmid untuk memuji. Kami menghirup udara pagi ini bernafaskan fitrah sambil menyaksikan kerajaan-Mu, wahai Sang Maha Pemberi. Kekuasaan segala penguasa adalah di tangan-Mu ya Allah.
    Hanya kepada Engkau lah kami memohon berkah hari ini dan untuk hari-hari yang akan datang menghampiri. Kemenangan hari ini dan hari-hari yang akan kami lewati. Cahya rohaniah yang Engkau bagikan hari ini dan hari-hari sampai mati. Kami berlindung kepada-Mu dari segala macam-macam kejahatan, kekalahan, kegelapan hati kami. Dan kepada-Mu jualah kami akan kembali.
    Kami tetap terkenang dengan segala nikmat-nikmat-Mu yang tak terbilang itu. Kami belum dapat mensyukuri kecuali dengan lidah yang tak bertulang ini. Meskipun kami tahu, bahwa mensyukuri nikmat itu adalah menggerakkan segala permberian-Mu, untuk mencapai keridhaan-Mu, sebagaimana yang Engkau perintahkan.
    Ya Allah, karuniakanlah shalawat, salam dan berkah-Mu kepada nabi yang mulia, pemimpin kami yang agung, yaitu Nabi Muhammad Saw. Limpahkanlah pula salam dan shalawat kepada seluruh keluarga dan sahabat-sahabat beliau, juga kepada penegak-penegak ajaran-ajaran beliau hingga ke akhir zaman.
    Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat rahimakumullah!
    Pada hari ini, sekian juta umat islam sedunia menyerukan gema takbir dan tahmid, bersama-sama mengagungkan Allah, bertasbih memuja Sang Pencipta dan bertahmid memuji yang Maha Kuasa. Suara takbir, tahmid dan tasbih di hari nan cerah ini bergema mengangkasa ke seluruh penjuru dunia.
    Apa gerangan yang terjadi pada hari ini? Sehingga umat yang berada dibawah panji laa ilaaha illAllah, dengan penuh khusyu’ menggemakan dan menyuarakannya?
    Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat rahimakumullah!
    Hari ini adalah hari permulaan bulan syawal, hari raya idul fitri. Idul fitri bisa berarti hari selesainya kita berpuasa Ramadhan yang suci. Bulan yang penuh berkah itu telah pergi. Perpisahan yang tak terelakan untuk yang sekian kali. Bulan yang diawalnya rahmat, pertengahannya adalah Ampunan, dan diakhirnya adalah kebebasan dari Api Neraka. Keberpisahan ini kita mengharap kembali, bertemu untuk tahun-tahun berikutnya yang akan kita hadapi, insyaAllah.
    Bulan Ramadhan telah pergi, menggoreskan kesan-kesan ilahi bagi ketaqwaan bani insani. Terutama bagi penempaan mental, jasmani dan rohani.
    Di Bulan Ramadhan, kita diperintahkan untuk menahan diri dari makanan, dan dahaga dari fajar di pagi hari, sampai terbenamnya di sore hari. Selain itu pula, kita diharuskan untuk menahan dari segala hawa nafsu dan dilarang keras mencaci maki, karena makian dapat menghanguskan pahala puasa kita. Di bulan puasa, kita diminta untuk banyak memberi  dibanding meminta, lebih banyak berjaga malam dibanding hari-hari biasa, lebih banyak berdoa dan ibadah-ibadah yang lainnya.  Terutama, karena di Bulan Ramadhan terdapat satu malam, yang beribah di dalamnya lebih utama dari pada selama seribu bulan lamanya. Yakni, malam lailatul Qadri.
    Memang Bulan Ramadhan adalah bulan yang sedikit meletihkan, tetapi mudah-mudahan kesan yang ditorehkan Ramadhan benar-benar meresap ke dalam jiwa kita, sehingga kita benar-benar menggapai kemenangan haqiqi. Dengan bertambahnya kekokohan ketaqwaan diri kita, tingginya kesabaran kita kepada Allah, dan jiwa sosial bertambah kuat di lubuk hati kita masing-masing. Dengan demikian kita dapat membulatkan tekad untuk mengisi sisa-sisa perjalanan hidup kita di dunia ini dengan meningkatkan amal kebaikan.  Dan memohon ampun atas segala kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan, hingga neraca kebaikan lebih berat dibanding neraca keburukan. Semoga, kita dimasukkan ke dalam golongan al muflihun.
    Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat rahimakumullah!
    Kalaulah semua perintah puasa Ramadhan sudah kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, semua larangan telah kita jauhi dengan sejujur-jujurnya, serta semua hikmah yang merupakan buah dari Bulan Ramadhan itu sudah kita petik, maka dapatlah kita dianggap lulus dalam ujian Ramadhan tahun ini. Lulus dengan predikat “terbebas” dari  api neraka, dan jaminan masuk sorga melalui pintu rayyan. Itulah yang menjadi alasan, mengapa kaum muslimin di seluruh dunia dengan khusyu’ mendendangkan kalimat takbir.
    Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat rahimakumullah!
    Bagi yang telah lulus dalam ujian Ramadhan, idul fitri juga dapat berarti hari di mana Allah mengundang hamba-Nya untuk menghadiri shalat ‘ied yang merupakan perhelatan akbar kaum muslimin. Sesuai sabda nabi:
    “Bila hari idul fitri tiba, para malaikat berdiri di jalan-jalan berseru: ‘Wahai kaum muslimin bersegeralah pergi menghadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. Tuhan yang telah banyak memberikan kebaikan untukmu, dan perbuatan baikmu selalu dibalas dengan berlipat ganda. Karena perintah shalat malam—teraweh—telah sempurna kamu lakukan, perintah puasa di siang hari, juga telah lengkap kamu laksanakan. Jadi, kamu telah benar-benar taat kepada perintah Allah. Maka, terimalah pahalanya yang berganda ini”.
    Dan bila shalat ‘ied telah usai, malaikat pun berseru: “Ketahuilah wahai kaum muslimin, dosamu telah diampuni oleh Allah. Karenanya, teruslah kamu mengikuti jalan yang  telah Allah tunjukkan untukmu (agar kamu tidak berbuat dosa baru).”
    Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat rahimakumullah!
    ‘Iedul fitri juga hari di mana kaum muslimin memenuhi fitrah kejadiannya sebagai muslim yang utuh. Fitrah yang condong kepada kebenaran, bukan kepada kesalahan, condong kepada ketuhanan yang Maha Esa. Bukannya condong kepada Polytheisme  atau  pun atheism. Cenderung kepada taat pada perintah Allah Maha Pencipta, bukan kepada keingkaran dan kekufuran.
    Fitrah yang selaras dengan Ajaran Islam, karena Islam memang sesuai dengan fitrah manusia sebagaimana firman-Nya;
    “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, pada fitrah Allah yang memang manusia diciptakan sesuai dengan fitrahnya itu. Fitrah Allah tidak akan mengalami perubahan sebab Dialah yang lurus. Cuma saja sayangnya sebagian besar manusia tidak mengetahuinya” (Ar-Rum; 30)
    Berbagai macam keanehan akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu;
    Kita merasa aneh terhadap manusia, yang percaya akan mati, namun tetap masih bergembira di sana-sini.
    Kita semua meyakini bahwa kematian akan datang, sebab usia semakin lama semakin berkurang, semakin dekat dengan ajal yang akan datang. Semakin hari, langkah kita semakin mendekati alam kubur, kendatipun demikian, asa kita tidak boleh terkubur dengan hal-hal yang merusak iman kita. Ada banyak penyebab kematian; ada yang tenggelam, sakit dan sebagainya. Bermacam-macam penyebab kematian ini, hanya sekali saja mati datang menghampiri. Semua manusia pasti akan mati, kita semua pasti akan mati. Namun, kekhilafan kitalah terkadang menghalangi, seolah-olah mati “absen” menghampiri. Berlarut-larut kita bergembira, bersenang-senang, dan berfoya-foya. Padahal, usia kita semakin tua. Mungkinkah kita melupakan kematian, ataukau pura-pura melupakannya? Padahal, sanak saudara kita satu  persatu sudah pergi, kembali kehadapan ilahi. Seberapa sering kita memandikan, mengantarkan dan menguburkan jenazah. Namun dalam jangka panjang, hati kita seolah-olah terhadap kematian tidak “resah”. Kullu nafsin dzaaiqatul maut.
    Kita merasa aneh dengan manusia, meyakini akan dihisab, namun terlalu sibuk menumpuk harta yang dapat lenyap, dalam wakktu sekejap.
     Semua orang yang beriman yakin bahwa di akhirat kelak akan bertemu dengan hisab Allah. Kebaikan dan keburukan kan ditimbang dengan adil tanpa kesalahan. Sekicil apapun, pasti akan mendapatkan balasannya.
    Faman ya’mal mitsqaala darratin khoiran yarah. Wa man ya’mal mitsqaala darratin syarron yarah.
    Kepastian sudah datang, yang beramal kebaikan akan dibalas bahkan dilipatgandakan. Begitu pula yang beramal keburukan, falaa yujzaa bihi illa mitslaha. Tidak akan dibalas kecuali yang sepadan dengannya.
    Ma’aasyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah!
    Jika amal kebaikan lebih berat dibanding amal keburukan, maka kebahagian sejati setia datang menghampiri. Sebaliknya, jika amal keburukan lebih “dahsyat” dari pada kebaikan, maka, akan sengsara, merana bahkan dimasukkan ke neraka. Na’udzubillahi min dzaalik.
    Aneh namun realita berkata, manusia meyakini hal itu, namun  terlalu sibuk menumpuk harta. Yang tujuan hidupnya adalah lil maal—untuk harta. Cita-citanya, impiannya, ilmunya, waktunya digunakan hanya untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya.
    Harta memanglah penting untuk bekal kehidupan di dunia, namun barang siapa yang menjadikannya sebagai alat, bukan sebagai tujuan. Maka ia akan bahagia. Harta dibutuhkan untuk menyekolahkan anak-anak, kebutuhan keluarga, masyarakat dan sebagainya. Sekali lagi, bahwa harta semata-mata sebagai “alat” yang kita kendalikan untuk mendapatkan akhirat. Bukan yang “memperalat” diri kita.
    Ma’aasyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah!
    Kita merasa aneh, dengan manusia yang meyakini akan kepastian masuk liat lahat, namun masih tertawa
    Kita meyakini bahwa liang lahat adalah tempat terakhir kita beristirahat. Beristirahat dari keburukan dan kebaikan. Karena, di sanalah kita akan melihat gambaran diri kita di akhirat kelak. Di sanalah tempat pembalasan. Semua; baik tua, muda, besar, kecil pasti akan memasukinya, cepat atau lambat. Sesuai firman-Nya;
      
    “Katakanlah; ‘sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemuimu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu, Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu lakukan’.” (Al-Jumu’ah; 8)
    Semua yakin, semua percaya, tidak ada yang menolak akan adanya kematian. Namun, masih saja ada yang tertawa mengingatnya. Bergembira ria, seakan-akan tidak pernah memasuki alam kubur?
    Marilah, berusaha untuk mempersiapkan bekal hidup di sana, mengurangi “kelalaian” selangkah demi selangkah dengann penuh kepastian adalah awal yang baik. Kita  merasa aneh, kepada manusia yang meyakini adanya akhirat namun masih bersenang-senang.
    Kita meyakini, semua kebaikan, kebahagian dan ketentraman di akhirat ditentukan dengan apa yang kita kerjakan selama di dunia ini. Dunia adalah ladang beramal, namun mengapa terkadang sebagian manusia masih menanam di ladangnya dengan benih yang “rusak”. Mengharap kebaikan, namun yang ditanam adalah keburukan. Mengharap panen jagung, namun yang ditanam adalah kangkung.
    Kita merasa heran terhadap manusia yang mengetahui bahwa dunia ini fana, tetapi mengapa masih saja mengingatnya. Semua manusia meyakini dan mengetahui bahwa harta dunia tidak abadi, pasti akan hilang dan habis. Apabila harta yang awet, maka tubuhnyalah yang akan rusak, demikian juga sebaliknya. Tetapi mengapa manusia masih tetap mengingat-ingat harta kekayaan? Meskipun hidup di dunia sudah lama, tetapi masih lapar terhadap keduniaan, masih belum merasakan senangnya dunia.
    Kami merasa aneh terhadap manusia yang pandai berbicara atau pun merangkai kata, namun hatinya tertutup tak tahu mengapa?Apabila berbicara sangat jelas dan tegas, tetapi hatinya sebaliknya, ilmunya hanya sampai pada pembicaraan semata. Sedangkan pengalaman tidak pernah dilakukannya. Kita merasa sedih, melihat manusia yang pembicaraannya tidak lepas dari agama, namun amal perbuatannya berbalik 180 derajat dari pengetahuannya. Pengetahuannya macet, tersendat hanya dibibir, dan tak mampu memasuki ke hatinya. Na’udzubillah min dzaalik. Kaburo maqtan ‘intallaahi antaquulu maa laa taf’alun.
    Ma’aasyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah!
    Kita merasa aneh dengan manusia yang terlalu “disibukkan”, “dan bersemangat” terhadap kesalahan orang lain. Namun melupakan kesalahan dirinya sendiri. Perbuatan manusia yang paling gampang adalah mencari-cari kesalahan dan kejelekan orang lain,  bahkan sibuk mengorek-ngorek, mengotak-atik kesalahan orang lain. Namun terhadap kesalahan dirinya, apa dikata?
    Kesalahan diri sendiri kurang diperhatikan, padahal kesalahannya pun sudah menumpuk. Oleh itu, Allah merasa heran dengan orang-orang yang demikian. Berbahagialah  bagi mereka yang disibukkan dengan mengingat dosa dan kesalahan diri sendiri, sehingga tidak ada kesempatan dan kemudahan untuk mengoatak-atik kesalahan orang lain.   
    Ahli hikmah mendawuhkan; hiasilah dirimu dengan perasaan penuh dan kelam dalam lumuran dosa, dan jangan hiasi dengan perasaan banyak jasa. Orang yang merasa banyak berbuat dosa akan sadar dan mau meminta maaf, tetapi bagi orang yang merasa banyak jasa, biasanya dirinya dihiasi dengan banyak keangkuhan dan ketakabburan. Sedangkan ketakabburan itu dilalarang dalam agama.
    Kita merasa aneh
    Oleh karena itu, marilah sama-sama kita resapi, bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Agama yang mendorong umatnya menjadi manusia yang aktif dan produktif. Bukan menjadikan umat manusia yang pasif dalam menghadapi segala hal dan keadaan. Islam mengajar umatnya untuk bersifat dinamis, dan optimis, bukan statis atau pun pesimistis. Islam mengajarkan untuk berkreatif, beramal baik untuk kebahagiaan dunia atau pun kesuksesan di akhirat. Hari ini, tersinyalir jelas dalam sabda Rasul Saw:
      
    “Beramallah untuk duniamu, seolah-olah kamu hidup kekal di duni ini. Dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan tiada di esok hari”.
    Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat rahimakumullah!
    Islam juga “mewajibkan” ummatnya untuk menghargai waktu. Karena waktu adalah potensi yang sangat berharga untuk menentukan maju atau tidaknya suatu umat. Itu pulalah sebabnya, mengapa kita diperintah-Nya pada waktu-waktu tertentu. Berbuka puasa pada waktu tertentu, sholat-sholat pun juga telah ditetapkan pada waktu-waktu tertentu. Berzakat pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Hal tersebut itulah dari sekian hikmah yang terkandung dalam firman-firman-Nya;
    “Demi masa….. Demi fajar…. Demi waktu dhuha…. Dan sebainya”. Kesemuanya itu dapat dianggap sebagai satu isyarat bagi kita, agar selalu memperhatikan dan menghargai waktu.
    Maka, dengan semangat idul fitri ini, marilah kita tingkatkan kewaspadaan kita terhadap waktu.
    Marilah dengan segera kita melatih diri dengan disiplin dalam mengatur waktu agar semua pekerjaan dapat terselesaikan tepat pada waktunya dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
    Hadirin, dan hadiraat yang berbahagia.
    Jikalau kita bahagia dan tentram karena lulus Ujian-Ramadhan ini, dengan diampuninya segala dosa kita yang telah pergi

    1,335 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *