Kewajaran

    Realita
    menampilkan ketidakwajaran, selalu ‘lebih’ yang menjadi pemuas dari keinginan
    manusia. tak seperti ayam pagi hari, sekali telah mendapatkan biji-biji jagung
    sebagai makanan; ia berhenti saat sudah serasa cukup. Begitu pun dengan
    kambing, saat rumput telah dirasa cukup untuk makanannya, baginya “maka-lebih”
    bukanlah suatu keinginan. Sekali lagi, manusia serakah hakekatnya tak lebih
    bijak dibanding hewan.
    Berharap
    boleh-boleh saja, jika saja itu dalam garis kewajaran. Harapanmu terhadap si
    “dia”, terhadap “impian”, dan terhadap apa yang memang diharapkan. Itu semua
    harus “sewajarnya”. Terlalu mengharap, 
    kamu akan sulit merasa ‘nyaman’, ketidaktenangan menyelimuti. Telah
    terjadi suatu kesepakatan, sesuatu yang diharapkan kan terasa lama bila
    ditunggu. Makanya, jangan pernah mengharap, agar kehidupan mengalir dan
    menjurus kepada tujuannya (sesuai takdir Tuhan).
    “Khairul
    umuuri ausathuhaa”,
    bahwa sebaik-baiknya perkara
    adalah yang ditengah-tengah (kewajaran). Semangat boleh, terlampau semangat, entar
    dikhawatirkan ‘cepat’ putus asa. Mengapa demikian? Sebab, lebihnya sesuatu
    melazimkan kekurangnya sesuatu; ekstrim lebih akan menjadi ekstrim kurang.
    Lihatlah orang yang terlampau “mencintai harta”, lama-lama “membenci harta”,
    karena ia telah dibenci orang lain oleh sebab tak pernah peduli sama orang
    lain. itu hanya sekelumit contoh kehidupan.
    Praduga
    saya, jangan-jangan ini jawaban dari pencarian selama 5 tahun terakhir. Yaitu,
    kewajaran adalah salah satu kunci terwujudnya “konsistensi”. Tanpaknya, hanya
    mereka yang cepat putus asa yang terlampau ambisius dengan keinginan.
    Begitupun, mereka yang terlampau mencintai, akan menjadi terlampau “membenci”di
    kesempatan lain. saya tak paham, mereka yang bersikap biasa-biasa saja, seolah
    tak apa-apa, pada akhirnya menjadi ada apa-apanya. Saat kita biasa saja
    melakukan sesuatu (tak berharap banyak tentang hasil), akhirnya mendatangkan
    hasil di luar dugaan.
    Hikayah
    Nabi Nuh (Noah dalam literatur Yahudi), memberikan penegasan bahwa dunia dan
    isinya tercipta berpasangan. Saat hewan dalam kapalnya, terisi semua jenis
    binatang dengan berpasangan. Beginilah dunia tercipta, bahkan untuk hal yang
    abstrak semisal kebaikan berpasangan dengan keburukan. Semakin mencoba menjauh
    dari jenisnya, ia akan mencapai ke lawan jenisnya. Pangkal dari kesulitan,
    ialah kemudahan. Di tengah-tengahnya, berarti tidak sulit dan tidak
    mudah—sewajarnya saja.   
    Rumusnya
    untuk menghindari kesulitan, jangan memposisikan diri mempersulit atau
    menyepelekan segala sesuatunya. Ujian memang berat, namun ia juga mudah.
    Mungkin pula dia sulit ditaklukkan, namun akhirnya akan membukakan hati.
    Intinya, tetap menjaga diri agar berada di posisi tengah. Depan; terlalu
    berani, belakang; penakut dan janganlah lari. Tengah atau seimbang dan wajar
    perlu dipertahankan.
    Cara
    mencapai keseimbangan hanyalah satu, “menyerahkan kehidupan” kepada kata
    “takdir”. Sambil lalu, memberikan takdir perilaku sesuai kadar kemampuan untuk
    menjalani takdir kesudahan. Maksudnya, jangan sampai terjadi “serah” kepada
    takdir tanpa melakukan apa yang semestinya dilakukan. Takdir berari berani
    berbuat, tak berbuat bukanlah takdir yang terbaik.
    Maka,
    kewajaran terwujud dengan menfungsikan kembali sisi kewajiban sebagai manusia
    yang tunggal, yang sebagai bertuhan. Dan juga, manusia yang hidup bersama,
    manusia yang pasti akan menghadapi sebuah kematian.

    MG. Ma’ruf (15 Juli)

    761 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *