Ketika yang Di depan Mata, Menggoda Hati

    “Kamu pun bisa mendapatkan segalanya. Hanya saja, kamu tidak bisa mendapatkannya sekaligus”
    — Oprah Winfrey –-
    Hidup itu diciptakan berpasang-pasangan, jika ada atas pasti ada bawah. Tentu, tidak akan ada istilah kata atas, jika tidak ada istilah bawah. Begitu pun dengan tujuan hidup yang terbagi menjadi satu pasangan, ada tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Ketika yang di depan mata tampak begitu indah, seringkali apa yang jauh disana tenggelam olehnya. Andaikata, ia mengetahui bahwa yang jauh disana lebih indah dan lebih asyik dibanding dengan apa yang ada di depan mata.
    Perbedaan demikian seharusnya sudah termasuk dari penyeimbangan hidup. Keseimbangan yang menyebabkan keselarasan antara keduanya yang tampak berbeda. Dan ini bukan hanya persoalan bagaimana keseimbangan itu harus diadakan, namun juga bagaimana hal tersebut terciptakan. Andai kata perputaran jarus jam yang menujukkan menit tidak seimbang ‘sebagaimana mestinya’ dengan jarum jam yang menunjukkan ‘jam’, maka jam itu bisa kacau balau.
    Berikut juga dengan mahasiswa yang tidak mau memikul tanggung-jawabnya sebagai aktivis pergerakan karena telah menjadi anggota suatu organisasi, tentu akan dicap sebagai mahasiswa egois. Sekali lagi, ketidak-seimbangan antara tuntutan yang mendesak dengan tujuan panjang yang benar-benar penting dan menjadi masalah serius.
    Akibatnya, karena kehidupan yang tidak terfokus pada tujuan jangka panjang (baca; kebutuhan jangka panjang, maka hidup akan terasa lebih berfokus pada tujuan jangka pendek dan tanpa sadar tujuan jangka panjang akan terkuras dan terkorbankan. Lalu, apa yang dimaksud dengan keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang?
    Anggaplah tujuan pendek dan tujuan jangka panjang sebagai dua titik yang terpisah. Di antara keduanya terdapat titik penyeimbang. Nah, kedua titik yang seimbang merupakan keseimbangan yang sangat diperlukan. Ketika jarak yang satu titik lebih jauh dibanding titik satunya terhadap titik tengah, maka yang akan terjadi adalah ketidaksamaan antara keduanya. Alhasil, keseimbangan akan memberikan cita rasa yang berbeda.
    Lalu, bagaimana solusinya agar tujuan jangka panjang tidak terkorbankan, dan juga tidak mengelak dari tujuan pendek yang merupakan manifestasi dari tanggung-jawab. Jika kita mencoba menilik lebih dalam, pasti ada tujuan dan makna serta manfaat di balik apa pun yang kita temui, atau hal apa pun yang kita lakukan. Dari situlah titik awal menuju keseimbangan, yaitu menyelam sekaligus minum air. Artinya, manfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan jangka panjang ketika sedang berusaha mencapai jangka pendek.
    Jadi teringat ketika kami masih berada di pesantren dulu, di mana saat menunggu giliran mandi di kamar mandi yang sudah lazimnya antri, beberapa santri menunggu sambil membaca buku, atau menghafal. Bahkan, ada yang lebih tidak lazim lagi, saat ujian tiba sebagian santri ada yang makan di dapur tangan kanan menyantap makanan dan tangan kiri memegang buku untuk dipelajari.  
    Mereka yang memiliki keseimbangan ditandai dengan “menyimpanan”. Memanfaatkan yang sekarang dan disimpan untuk tujuan yang lebih tinggi, atau tujuan panjang. Penyimpanan hal-hal kecil yang dilakukan dengan terus-menerus akan menjadi hal yang “besar”. Memilih untuk menolak dan mengatakan tidak untuk kesenangan yang bersifat sesaat. Intinya, mereka tidak terlena dengan yang di depan mata. Ya, itu memang membutuhkan perjuangan karena dasarnya apa yang tampak selalu lebih berharga daripada yang tidak.
    Akhirnya, dapat dikatan impian besar membutuhkan proses yang panjang. Namun, kenyataannya seringkali terbelenggu dengan impian jangka pendek. Nah, menyeimbangkan keduanya merupakan jalan menuju perubahan dalam kehidupan. Agar keseimbangan itu tidak terlalu menimbulkan ketegangan dan gangguan yang lebih ‘drastis’, maka solusinya adalah lakukanlah secara berlahan-lahan, terus-menerus, dan sistematis.

    540 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *