Ketika Semangat Kendur

Kita begitu kelelahan mengutuk diri yang tak semangat, yang minim prestasi. Sehingga kita pun terbuai oleh titik itu, menuju ke lembah kehancuran lebih dalam. Seperti terbuainya mereka yang terlalu bersenang-senang dalam kesuksesan, sehingga lupa berinovasi dan mengantarkannya ke lembah kehancuran dengan cara yang berbeda.

Apa yang diperoleh tergantung dari apa yang diusahakan. Dan usaha muncul oleh berbagai hal, semisal adalah kesadaran dalam diri, keinginan terhadap harapan dan kerinduaan terhadap kenikmatan saat memperoleh impian. Usaha yang baik tertampilkan dalam semangat, antusiasme dan keyakinan diri. Betapa banyak yang berhenti di persimpangan, padahal tujuan tinggal sepuluh langkah lagi. Naif sekali, tetepi kita pasti pernah mengalaminya ketika kita merasa tak menghasilkan apa-apa.

Teringat saat masih usiaku kecil. Kami bermain layang-layang di tanah lapang, atau di lapangan. Di tengah asyiknya menyaksikan layangan yang terbang melayang, kami dikejutkan dengan sebuah layangan yang terawang-awang di langit. Rupanya, tali pengendalinya terputus sehingga ia berlahan terbawa angin kencang, dan terbang mengikuti arusnya. Kami pun mengejarnya di mana ia akan jatuh. Betapa senangnya kami mendapatkan layangan tersebut. Meski, melewati belantara tanah bebatuan, kaki pun sering kali tertusuk duri, pecahan beling, batuan yang tajam dan tersandung. Kami tak mengeluh soal itu.

Apa yang sebenarnya membuat kita kendur? Kita tak bisa menyamakan antara patah semangat, dan kendur. Keduanya berbeda. Patah berarti “ya sudah”, sedang kendur berarti masih menyisakan sedikit semangat. Apa yang harus dilakukan saat semangat kendur? Seperti bermain layang-layangan, anak kecil tak terlalu memedulikan rasa sakit itu. Mereka lebih memedulikan pada “kesenangan”, “mendapatkan hal baru”, dan lain sebagainya. Sebagaimana mereka, sesederhana itu pula kita mengembalikan ruh semangat dalam diri. Abaikan saja, dan fokuslah pada tujuannya.

Tapi benarkah sesederhana itu? Kita menyaksikan beberapa teman di kantor begitu serius mengerjakan tugasnya. Ia tak bisa diganggu untuk sementara; tak ada yang boleh mengajaknya mengbrol. Dan kita cukup tergoda melabelinya sebagai pekerja keras-serius, dan alih-alih disebut sebagai orang yang bersemangat. Berbeda dengan mereka yang aktivitasnya andon di warung-warung, atau di amperan rumah warga. Kita seolah melihatnya sebagai pengangguran; tanpa mengetahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan.

Semangat tampil dalam benak kita dalam kata “aktif”, tak berdiam diri tanpa melakukan hal sesuatu. Dan kita sangat gerah kepada mereka yang berdiam diri tanpa memedulikan hidupnya. Apakah semangat itu harus termanifestasikan dalam kata aktif tanpa berdiam sejenak? Atau jangan-jangan kita mulai terpengaruh abad teknologi, yang mana kita harus terus berpacu sebagai mana mesin dengan menyingkirkan sisi perasa dalam ruh manusia. manusia tidak sama dengan mesin, ia butuh istirahat sejenak untuk mengembalikan energi yang tersalurkan.

Berdiam sejenak, dengan kata lain “mengambil jeda” yang mengalirkan kekuatan semangat tak ubahanya adalah semangat itu sendiri. Perlu adanya pengabaian terhadap kekecewaan diri—penyesalan diri—bahwa kita ini sedang tak bersemangat yang tergambarkan oleh “kebanyakan” dengan tanpa berbuat apa-apa, penurunan aktifitas. Kita tak bisa seenaknya mengecap menganggur sejenak atau mengambil jeda sebagai kendurnya semangat. Tidak selalu demikian. Tak perlu mengutuk diri ketika diri sudah tak lagi berusaha. Hargailah apa yang kita anggap sebagai diri yang kendur dengan penghargaan yang positif.

Adakah yang terlahirkan langsung bisa makan nasi pecel? Atau bisa berjalan dan berlair? Tentu tidak. semua tentu terlahir dari nol. Pun dengan semangat. Terkadang ia butuh kembali ke titik nol untuk menyadari betapa berharganya titik terakhir pencapaian. Kita cukup mengapresiasi mereka yang patah semangat kemudian menyesal dan selanjutnya mengambil sikap baik. Menyesal boleh saja, tanpa perlu mengutuk diri sendiri. Saat tak bersamangat, kita begitu merindukan saat-saat kita pernah mencapai puncak semangat yang luar biasa. Dan itu relatif baik. Dan menjadi baik kita mampu memecah batas yang lebih tinggi dibanding batas semangat terakhir.

Tak ada yang sia-sia dengan apa yang terjadi. Kesia-siaan hanya akan terjadi bila kita mengutuk segala macam kesia-siaan sebagai hal yang merusak. Padahal, sejatinya “apa” yang terberi dalam kesia-siaan itu bisa dialih-didayakan menjadi hal lompatan besar (quantum).

Tanah semesta
27 Nopember 2016

1,455 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

1 Comment

Add Yours
  1. 1
    LD Lustikasari

    kurangnya motifasi. yang jelas itu. menurutku, kurangnya motifasi bikin semangat jadi mengendur. sayangnya saat ini aku lagi di posisi itu, semangat mengendur itu semacam mengikuti motifasi yang kian menurun. sayangnya sulit sekali mematik percikan api motifator dari dalam diri. padahal itu yang potensinya paling besar dibanding motifasi dari luar.

    ah andai aku tahi apa yang bisa membuat motifasi itu tahan lama -_-

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *