Ketidaknyamanan adalah Kenyamanan

    Kecenderungan kita menghindari apa yang membuat keluar dari zona nyaman, dan memaksa seakan-akan berada di tengah kepungan buaya darat. Alangkah takutnya diri kita, siap diterkam dengan keganasan hewan buas tersebut. Bagaimana pun, zona tak nyaman tak pantas dilukiskan berlebihan. Ia tidak terlalu membuat dada tersesak, ya hanyalah untuk sesaat saja. Tak lama setelah terbiasa dengan ketidaknyamana, kenyamanan yang hakiki pun datang menghampiri. Kok bisa? Tanya dirimu, saat kapankah kau merasakan rindu, tentu saat seseorang meninggalkanmu. Begitulah, di mana kau merasakan kenyamanan, adalah di saat kamu mampu menghadapi ketidaknyaman dengan penuh kepercayaan.
    Pelajaran ini sudah berulang-ulang aku simpulkan dari perjalanan hidup. Katanya, pengalaman itu lebih cerdas daripada guru. Maksudnya, ia lebih mudah memahamkan diri kita, dibandingkan penjelasan tutor yang kurang berpengalaman. Nah, pengalaman itu tidak harus melibatkan diri kita. Bertanya dari seseorang merupakan kunci belajar dari pengalaman orang tersebut, keyakinanku tidak pernah berubah, apa yang keluar dari lisan seseorang merupakan hasil dari pembelajarannya terhadap pengalaman yang ia alami. Ia begitu berharga bagi dirinya, dan sangat berharga pula bagi orang yang mau mendengarkannya, tidak sekedar mendengar saja.
    Semisal, pada silaturrahim kali ini aku pergi ke daerah Tanjung pesisir pantai, kec-Saronggi ini. Ada keluarga jauhku yang berjodoh dengan salah satu putri dari daerah tersebut. Alhamdulillah, anaknya yang pertama adalah laki-laki, yang lahir pada tanggal 01 agustus 2013 tepat di bulan Ramadhan. “semoga menjadi anak yang shaleh, amin….”, doaku dalam hati untuk anak tersebut dan kedua orang tuanya yang merupakan saudara sepupuku sendiri.
    Dudukku di dekat ayahku, adekku kedua adekku berada di sampingku. Dengan khusyuknya, aku duduk hanya terdiam seribu basa. Membuang wajahku ke arah bawah, dan mengarahkan perhatianku kepada pembicaraan antara ayahku dengan si Tuan Rumah. Alangkah asyiknya pembicaraan tersebut, kebermaknaan yang terkandung di dalamnyalah yang membuatku betah mendengarkannya. Tak bisa aku lukiskan, kecuali semua orang itu ramah jika kita anggap memang ramah dan menyikapinya dengan ramah pula. Ya, persepsiku dulu selalu mengatakan bahwa orang pesisir itu bersuara lantang dan keras, namun di balik itu ada kelembutan dan kerendahan hati yang dalam. Subhanallah…

    610 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *