Kesepian

    “Apabila Allah telah membuatmu jemu dengan
    makhluk, ketahuilah bahwa Dia hendak membukakan untukmu pintu kemesraan
    dengan-Nya” –Ibnu Atha`illah Aliskandary
    Dikisahkan saat Abu Yazid ditanya mengenai
    segala keistimewaan dan keajaiban yang ia miliki. “Apakah semua itu
    membahagiakanmu?”. Ia menjawab, “Sedikitpun saya tidak merasa bahagia dengan
    ini semua”.
    Kesepian ialah merasa tersendiri, dan asing
    dengan dunia. Mereka yang merasa sendiri dapat dipahami telah kehilangan suatu
    kondisi. Kondisi yang semula nyaman-nyaman saja, telah pergi dan sirna. Tapi,
    kesepian itu tak selalu sendiri, bahkan dalam keramaian sekalipun kesepian bisa
    datang mencekam.
    Umumnya, kesepian ini datang saat
    sendiri. Saat teman pergi, saat semua tak sesuai dengan harapan. Sepi begitu
    familiar di dalam diri kita. Apakah dengan begini, kita akan semakin pasrah
    dalam kesepian? Ataukah mencari berbagai hal untuk menutupi semua itu.
    Sebenarnya, sejauh mana seseorang
    melawan perasaan kesepian? Ada yang melawan justru dengan langsung bersikap
    frontal, yaitu merasa bahagia. Karena sepi cenderung merasa “tak bahagia”, maka
    umumnya orang “menikmati” kesendirian. Ya, nikmati saja kesendirian itu. Saat
    teman tidak ada, seorang berusaha “menikmatinya”, sayangnya cara seperti ini
    kurang banyak membantu.
    Mengusir sepi bisa diperhatikan dengan
    cara membalik kata. Merasa kesepian, menjadi mensepikan perasaan. Maksudnya,
    mengurangi intensitas kesepian bisa membantu mengatasi perasaan tersebut.
    Misalnya, melakukan banyak aktifitas pikiran yang tidak ada sangkut pautnya
    dengan rasa. Dalam kesibukan aktifitas pikiran, perasaan bisa lebih mudah
    terkendalikan.
    Bisa jadi, dengan kau merasa kesepian
    Allah memanggilnya untuk kembali pada pangkuan-Nya. Allah ingin mendengar
    suaranya, meminta kepada-Nya. Allah ingin melihat hamba-Nya, mesra kembali
    dalam sujud, dzikir dan perenungan tadabbur ciptaan Allah. Di masa itu, maka
    kekecewaan akan kesepian menjadi lebih sirna. “yang membuatmu kecewa ketika
    tidak diberi adalah karena engkau tidak memahami hikmah Allah yang ada di
    dalamnya.”

    Kediri, 23 November 2014

    926 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Kesepian”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *