Keseimbangan antara Pikiran dan Perasaan

    Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing kita tertentu saling berbeda dan memiliki cara penyelesaian yang berbeda pula. Di satu sisi yang lain, kesemuanya menjurus ke satu kesimpulan bahwa semua masalah tidak bisa diselesaikan hanya dengan perasaan yang meluap-luap. Ada banyak pemikiran yang dibutuhkan, dan untuk mendapatkan itu semua. Keterbukaan diri menjadi suatu yang sangat penting.
                                                    
    Misalnya, ketika hasil ujian tidak sesuai dengan harapan, maka ini sudah menjadi permasalahan. Entahlah, sudah seberapa kali kah kita merasakan masalah dalam hidup. Jelasnya, masalah itu ada sebagai pertanda dari kehidupan. Namun, jatuh dua kali ke dalam masalah yang sama adalah hal yang sungguh tidak mencerminkan kehidupan itu sendiri. Belajar dengan baik pada masalah yang pernah dihadapi, dan menghadapi masalah yang ‘serupa’ dengan cara yang berbeda akan menghadirkan banyak pelajaran berharga.
    Cerminan seseorang yang mengedepankan pikiran bisa dilihat bagaimana ia bisa menyelesaikan suatu permasalahan dengan sistematis, dan runtut. Ia melangkah secara baik sesuai dengan kapasitas akal-pikirannya. Sementara, cerminan perasa bisa kita saksikan bagaimana ‘lisan saling benjatuhkan lisan yang lain’ dalam suatu sidang, misalnya. Jika para anggota sidang hanya terpaku pada emosi, ‘aku benar dan apa yang kamu katakan adalah salah’, sampai mati pun masalah tidak akan pernah terselesaikan. Orang-orang demikian yang tidak mengenal batas terkunci dan terpola, banyak bicara dalam sebuah sidang menunjukkan kalau dia adalah orang yang hebat, orang yang pintar dan sebagainya.    
    Celakanya, masalah itu tidak bisa diselesaikan dengan hanya bersitegang-mulut dalam sebuah sidang solusi permasalahan. Kecerdasan seseorang akan tanpak dari kesederhanaan kata-katanya, bukan dari seberapa banyak ia berbicara. Kecenderungan yang ada orang sejenis ini adalah tidak sabar, mudah tersinggung dan sukar menerima pendapat orang lain. Bagaimana mau menerima pendapat orang lain, wongpendapat orang lain selalu ditentangnya.
    Kata finalnya, pemikiran juga membutuhkan perasaan, mereka yang hanya menggunakan pikiran tanpa memiliki cita rasa terhadap suatu penyelesaian, biasanya masalah juga enggan berkenan untuk cepat terselesaikan. Realita yang ada, orang dengan hanya berfikiran tanpa berperasaan akan mudah bosan dalam menjalankan kehidupan, baginya setiap waktu adalah sama. Hari kemarin tidak jauh berbeda dengan hari sekarang mau pun hari esok.
    Keseimbangan antara pikiran dan perasaan dicapai ketika suatu permasalahan dihadapi dengan penuh keterbukaan diri, tidak terlarut dalam permasalahan dan juga tidak terlarut dalam sebuah pimiran yang hanya mencari solusi tanpa tindakan yang solutif. Perasaan akan menimbulkan ketahanan, ketahanan terhadap permasalahan yang ada, maka perasaan yang positiflah yang akan banyak membantu bagi masing-masing dari diri kita.

    Seperti halnya orang yang menyetir mobil, jika hanya menggunakan nalar pemikiran, maka tidak terlalu mudah untuk dijalankan. Namun, dengan perasaan yang mampu mengira kapan harus berhenti, kapan harus mengerem dan kapan harus menggubah dari gigi-1 ke gigi berikutnya perjalanan pun akan semakin lebih baik. Keduanya saling dibutuhkan.

    566 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *