Kesanggupan Diri


    “Semua orang melakukan apa yang
    sebenarnya untuk dirinya sendiri”
    (Setre-filosof
    Eksistensialisme)
    Mengapa semua orang membutuhkan perubahan? Seorang anak
    kecil tak mau berubah yang asyik dengan mainan. Ia tak ingin berubah dari
    keadaan sebagai pemilik mainan, menjadi korban perampasan mainan oleh kakak
    sulungnya. Mobil-mobilan, kuda-kudaan, boneka-bonekaan, dan bukan orang-orangan
    adalah teman asyik bagi mereka. Tak pernah terbesit dalam pikiran mereka, “aku
    tak sanggup ngurusin mainan ini
    semua?” mengapa? Mereka hidup pada dunianya, tak ingin menjadi cepat dewasa.
    setiap harinya, adalah waktu bermain. Kehidupan mereka adalah kehidupan penuh
    mainan.
    Sebuah keadaan mencekik yang alamiahnya terjadi pada
    masing-masing individu memaksa untuk keluar dari zona nyaman. Himpitan ekonomi,memaksanya
    bekerja usaha lebih keras. Dan banyak macam lainnya, semisal yang paling tren
    adalah krisis kasih sayang. Ini mungkin yang menjadikan pemuda sekarang haus
    dan galau bila tak dapatkan cinta. Sebenarnya, himpitan terberat dua jenis ini
    dan lainnya apa dan mengapa? Dikatakan apa, apakah keduanya benar-benar tak
    bisa dihadapi? Mengapa ada yang bisa menghadapinya, yang lain menghindar? Demikian
    seterusnya.
    Kesanggupan diri (self
    efficacy
    ) adalah keyakinan diri terhadap apa yang sanggup ia kerjakan. Maka
    orang-orang yang lembek perlu disingkirkan. Mereka itulah yang menjadi racun
    bagi persepsi orang lain, orang lain kan menjadi dirinya akibat simpati dan
    empati. Siapakah mereka yang dikatakan lembek? Ya, mereka adalah yang terlalu
    dini mengepalkan genggaman tangannya lalu mengatakan “aku pasti bisa” terhadap
    keinginan yang jauh di atas batas kemampuannya. Atau mereka, yang kalau sebelum
    berperang, padahal nyatanya mereka bisa melakukannya.
    Tapi. Jutstru sebab adanya perbedaan ini mengapa dunia
    menjadi begitu indah. Renungkan, walau pun semua orang berbeda fisiknya,
    cantik-jelek, kurus-gemuk, tinggi-rendah namun memiliki kesanggupan diri yang
    sama, apa gunanya hidup ini? Tidak ada perbedaan nyata. Tidak ada persaingan,
    tidak ada saling membantu, tidak ada saling memahami. Ah, untuk apa lagi? Dikatakan
    “racun” di atas karena semangat itu menular, begitu juga dengan kemalasan.
    Apa yang masih mau dikeluhkan dengan perasaan tidak mampu? Ujian
    hidup itu sebenarnya tak akan jauh dari batas-batas kemampuan diri kita. Allah
    memberikan ujian karena Dia Maha Mengetahui bahwa hamba-Nya sanggup menghadapi.
    Laa yukallifullAaha illa wus’aha, tidaklah
    Allah membebani hamba-Nya melainkan dapat dihadapainya. Ya, bila kita dicoba
    dengan kenyataan hidup yang seperti ini, kita sanggup menjalaninya. Yakinlah!
    Allah akan memuliakan mereka yang sanggup menjalani ujian hidup. Bukan yang
    merasa seolah menjadi korban keputusan Tuhan. Allah Maha Adil.
    Dalam Islam kita dilarang berangan-angan. Itu menunjukkan
    pada kelemahan angan-angan yang tak mampu mendorong manusia mencapai
    keinginannya, jauh dari persepsi realistis. Anggapan dirinya bisa, tapi
    realitasnya tak bisa. Bagai mimpi di tengah bolong.  Ini penyebab frustasi, pada pengalaman yang
    bertolak dari persepsi semula bahwa diri sanggup mencapai keinginan
    angan-angan. Albert Bandura menyebut demikian sebagai kesanggupan diri yang
    salah kaprah.
    Yang kita temui bila menyandarkan semua “usaha” pada
    angan-angan dan impian belaka adalah kegagalan dengan mengindahkan batasan
    kemampuan diri yang didasarkan pengalaman sebelumnya. Kita lebih yakin dengan
    apa yang pernah kita lakukan, daripada apa yang kita katakan pada diri sendiri “bahwa
    aku sanggup melakukan ini.” Toh dipaksakan
    dengan motivasi semu, afirmasi tak jelas akibatnya justru akan sangat fatal. Sudahlah,
    hidup ini jalani dengan alamiah saja.  Sekarang
    aku baru sadar, bahwa pentingnya menjalani hidup apa adanya, tak perlu memasang
    angan-angan yang berlebihan.

    Kita tumbuh karena adanya pengalaman sebelumnya, bukan
    karena apa yang akan diinginkan. Misalnya tumbuhnya tubuh karena pengalaman
    tumbuh sebelumnya, dan bersifat alami tak bisa dipaksakan tumbuh. Mana mungkin
    tubuh akan tumbuh, bila sebelumnya tak pernah tumbuh. Ia,tumbuh sifat bawaan
    biologis, dan tak bisa balita langsung dipaksakan langsung berumur 30 tahun. Jelas,
    menentang bawaan biologis. Jadi, pertumbuhan tak bisa menentang sifat bawaannya
    yang berlanjut sedikit demi sedikit. Begitupun dengan impian, ia tak bisa
    menentang takdir yang ditetapkan sebelum kelahiran dirinya. 

    866 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    8 tanggapan untuk “Kesanggupan Diri”

    1. Daleeem banget kak~
      Beda ya cita-cita dengan angan-angan. Tetapi emang bener yak, nggak mungkin kita bisa langsung menuju puncak tanpa harus mendaki satu per satu tangga. (yang aku maksud bukan puncak gunung) 😀

      Satu per satu langkah untuk mendapatkan yang diinginkan. Tetapi lepas dari semua itu ada Tuhan yang menentukan. 🙂

    2. iya.. benar sekali dik..
      cita-cita dan angan-angan itu beda.
      ya, semoga kita menjadi orang yang bisa menangkap tanda-tanda dari Allah dalam setiap langkah usaha yang akan dilakukan. sehingga masing-masing dapat mencapai kesuksesan.. amin..

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *