Kepedulian

    Kehidupan itu tetap akan hidup, meskipun tak ada cinta. Cinta
    tanpak lembut dan memberdayakan oleh sebab “kepedulian.”  Kepedulianlah yang membuat kehidupan menjadi
    indah, dan hidup penuh warna. Cinta hanya alat, dalamnya adalah kepedulian. Apalah
    arti cinta tanpanya? Keegoisan cinta, cinta buta dan seterusnya. Kepedulian komponen
    penting merealisasikan keberadaan cinta.
    Dalam sabdanya, Nabi Muhammad menyebutkan “setiap perbuatan yang tak diawali dengan
    basmalah maka tak akan diberi rahmat.”
    Basmalah berarti menyebutkan bismillahirrahmaanirrahim, yang berarti “Dengan
    menyebut asma Allah yang maha pengasih dan Maha Penyayang.” Kaitannya dalam hal
    ini, tak akan membicarakan bagaimana sangkutpaut antara basmalah dan rahmat. Pembahasan
    kali ini menitikberatkan pada arrahman
    (Maha Pengasih) dan arrahim (Maha
    Penyayang) terhadap efek perilaku.
    Sebenarnya, kisah tauladan Rasulullah bisa menjadi patokan
    membangun kehidupan kita. Keshahihan tersebut tercermin pada akhlaknya, yang
    merupakan akhlaqul qur’an. Iya,
    beliau berakhlaq biakhlaaqil qur’an,
    ucapan, sikap, perilaku, perasaan dan pikiran. Tak sebatas pada perilaku yang
    kadang kita salah memahami ‘kata’ akhlak. Karena sejatinya ia merupakan hasil
    dari rangkai proses yang mendahuluinya, maka tersebutlah kata perilaku. Siiratul mar’i tunbi’u ‘an sariiratihi,
    gerak-gerik seseorang mencerminkan isi hatinya. Bila gerak-gerik (baca: sikap)
    adalah akhlak, maka yang mempengaruhinya (isi hati) juga dinamakan akhlak. Termasuk
    juga yang telah disebutkan tadi: pikiran, ucapan, dan perasaan.
    Terutusnya Nabi Muhammad ke muka bumi ini semata-mata untuk
    menyempurnakan akhlak bani adam. Beliau berdakwah dengan segenap jiwa dan raga,
    dan semuanya berujung kepada penyempurnaan akhlak. Salah satu akhlak beliau
    yang adalah tercermin dalam firman Allah arrahman.
    Itu berarti seorang rasul adalah yang peduli terhadap orang lain. bahkan hingga
    akhir hayatnya ketika nyawa sudah diujung tenggorokan, beliau menyerukan “ummati!
    Ummati! Ummati! Yang artinya wahai ummatku! wahai ummatku! wahai ummatku!  Petanda ini bisa dipahami, begitu pedulinya
    beliau memahami kondisi ummatnya.
    Perjalanan itu tak mudah. Namun cukup bisa dijalani bila ada
    kepedulian: kepada orang lain yang berarti menolong, dan kepedulian kepada diri
    sendiri yang berarti bisa menyeimbangkan kewajiban diri dengan kemampuan. Sebuah
    kepedulian memang mahal harganya, ketika kita hidup di tengah-tengah kepungan
    kemajuan teknologi, interaksi semakin hilang dalam dunia nyata, saat itu seolah
    kita menjadi “makhluk egois.” Cinta boleh tumbuh di dalam hati, namun saat
    terpaku pada satu orang saja, kepedulian kepada orang lain tertutup. Apakah cinta
    tersebut tidak menodai kesucian cinta?
    Apa yang akan terjadi, orang tua bila tak lagi peduli kepada
    anaknya? Ketika guru tak lagi peduli dengan muridnya? Ketika pemuda tak lagi
    peduli terhadap kehormatan dirinya? Saat mahasiswa tak peduli lagi akan
    kewajibannya? Lalu, apa yang dicari di dalam hidup ini? mencari kesenangan
    perlu pengorbanan, perlu ikatan cita rasa semisal kepedulian. Pada akhirnya,
    mereka yang pedulilah yang akan hidup, yang berilmu tak akan berguna, tanpa
    kepedulian terhadap ilmunya; dengan cara mengamalkannya. Dan banyak contoh
    lain.
    Kepedulian ditunjukkan oleh adanya tanggungjawab, pemenuhan
    hak dan kewajiban serta adanya kesempatan. Di sanalah akan berdiri sebuah “rasa
    dan sikap nyata” kepedulian dengan hadirnya keempat hal ini. pertama, tanggungjawab. Yaitu adanya
    kesadaran di dalam diri terhadap apa yang “seharusnya” bagi dirinya. Sadar bagaimana
    hidup, dan sadar bagaimana bekerja. Kesadaran ini bisa ditumbuhkan dengan
    selalu mawas diri dan berkaca kepada diri sendiri “sal dhomiirik” tanyakanlah kepada dirimu sendiri. Ketika kita
    meninggalkan kewajiban, tanyakan kepada diri sendiri. Di situ akan terhubung
    suatu kekuatan kesadaran diri. “jadi, ternyata ini semua perlu dilakukan dengan
    baik.”
    Selanjutnya, kepedulian bisa dibangun dengan menyadari
    tujuan dari diri sendiri. Pemahaman terhadapnya melahirkan kesadaran pada ‘niat’
    semula. Niat berkaitan erat dengan tujuan, bahkan nabi sendiri menyebutkan “setiap pekerjaan itu tergantung kepada
    niatnya.”
    Pentingnya niat menjurus akan urgensi pekerjaan tersebut, secara
    berlahan kesadaran ini memberi efek tanggungjawab. Keserakahan pada niat yang
    tak sempurna, cukup beresiko bila dipaksakan dalam memikul tanggungjawab yang
    besar. Jadi, untuk bertanggungjawab kita perlu berniat dengan baik, dan selalu
    intropeksi diri sehingga melahirkan kesadaran diri. Bila begini, kepedulian
    akan terwujud.
    Kedua, dan ketiga. Hak dan
    kewajiban satu sisi yang berbeda dan saling melengkapi. Jangan menuntut hak,
    bila kewajiban saja tak pernah kita tunaikan. Keseimbangan antara hak dan
    kewajiban memberikan kepedulian, karena kita tak akan mengerti apa kewajiban
    kita terhadap orang lain tanpa menyadari peran kita. Sebagai kepala keluarga
    itu peran, memberi nafkah dan lain-lain adalah kewajiban terhadap mereka dan
    haknya adalah dihormati oleh seluruh anggota keluarga. Di sini, kepedulian tak
    hanya dirasakan oleh orang lain, namun juga oleh diri sendiri.
    Terakhir, kesempatan.
     Lakukan kepedulian sekarang juga,
    menunggu kesempatan yang tak pasti kan berakhir tanpa kegunaan. Kesempatan diciptakan,
    di dalamnya diisi dengan kepedulian. Di sinilah wadah dari ketiga komponen
    sebelumnya, proses yang terikat memberikan pengulangan (repitisi), sehingga
    menjadi bagian integral dari diri sendiri melalui proses pembiasaan.

    Pada akhirnya, setiap kebaikan akan kembali kepada diri
    sendiri. In ahsantum ahsantum
    lianfusikum.
    Kepedulianmu kepada orang lain, akan “terbalaskan”. Dan jangan
    jadikan hal tersebut—balasan— sebagai alasan mengapa kamu begitu peduli. 

    16,524 kali dilihat, 25 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    14 tanggapan untuk “Kepedulian”

    1. benar juga. cinta tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya kepedulian. justru cinta dapat tumbuh karna rasa peduli. ketika peduli pada seseorang itu berlebihan, maka bukan tak mungkin kepedulian terhadap orang lain itu tertutup.

      peduli pada diri sendiri pun tak boleh berlebihan. semua harus seimbang. peduli yang tanpa mengharapkan balasanlah yang pada akhirnya akan membuahkan keindahan.

    2. Kepedulian itu sangat penting sekali buat sesama .
      nah bener juga yang di dalem artikel di atas , menolong orang lain dalam keikhlasan dan jangan sekali sekali riya' terhadap kepedulian , udah peduli tapi di bicarain ke mana mana pamer -_- sama aja nggak dapet pahala sama sekali

    3. Baca ini emang bikin gue mangap-mangap terus ngomong, "bener juga nih" apalagi yang bagian terakhir, bener-bener nampol.

      Tapi jujur gue orangnya agak gak terlalu peduli sama di sekitar, mau gimana terserah mereka asal jangan bikin runyam hidup gue aja.
      ?

    4. Duh ini kayaknya berat banget dah bang agha -_-
      Tapi biar aku cerna baik – baik nih ya, intinya kita sebagai manusia harus memiliki kepedulian. Dalam hal ini kepedulian yag dimaksud itu bermakna luas. Peduli pada diri sendiri, sadar akan hak dan kewajiban yang harus dilakukan secara seimbang. Peduli terhadap sesama, tidak memusatkan rasa cinta pada satu titik saja. Dan ehm … apaya ? Kayaknya udah segitu ajadah 😀

    5. kepedulian sangat dibutuhkan, apalagi banyak remaja sekarang yang cuek juga.. istilahnya kacang lupa sama kulitnya. malah banyak remaja2 yang lupa akan jasa guru2 mereka disaat mereka dulunya menuntut ilmu.. ada juga yang tidak peduli dengan ortu mereka hanya gara2 ortu mereka tidak mengijinkan atau tidak menuruti kemauan si anak..

      kepedulian juga harus diniati dengan ikhlas, jangan sampe kita peduli tapi mengharapkan imbalan.. semoga kita termasuk orang2 yang peduli dengan tanpa pamrih…

    6. Ketika kita peduli, maka orang lain pun akan peduli pada kita. Mungkin itu kali maksudnya ya, Ga?

      Ya. Semoga saja bentuk kepedulian kita berimbas positif. Misal saja, saat kita begitu peduli pada seorang teman. Ternyata kepedulian kita diartikan sebagai pencari gosip seperti di entertainment. Padahal, peduli kita, agar ia kembali pada kebaikan. Dan diartikan lain.

      Peduli, apapun bentuknya. Semoga kita bisa menyemai buahnya nanti. Pahit memang di perjalanannya. Akan baik ketika kita mampu menyikapi ketidakpedulian orang lain menjadi sebuah pembelajaran diri^^

    7. gue kesentuh sama paragraf terakhir,
      karena yang kita lakukan akan kembali ke diri kita
      tapi bukan berarti kita melakukan kebaikan dengan mengharapkan kebaikan yang lebih besar sebagai balasannya

    8. bang Agha lama ya ga mosting, apa aku yg jarang online? entahlah
      Bener sih cinta tanpa peduli itu percuma. Sekarang banyak orang yang tidak peduli sekitar mereka, kebanyakan mereka hanya peduli pada orang yang biasa hadir dilayar gadget mereka, tanpa peduli lingkungan terdekat, bahkan tak jarang satu keluarga saja saling tak peduli. Miris. Semoga kita tidak termasuk kategori mereka itu.

    9. kayaknya kata yang pertama muncul di tulisan ini agak janggal deh…atau mungkin saya yang salah paham…
      "kehidupan akan tetap hidup, meski tak ada cinta"
      apa ini tidak imposible. sedang kita hidup karena cinta. cinta tuhan, cinta orang tua, dan bentuk cinta yang lain

      tafsir hablum minannas….mungkin saya lebih kesana memahami tulisan ini…
      interaksi sesama manusia yang di topang dengan keperduliaan…
      dasarnya jelas sih….

      dan sesama muslim >>>karena tema religi islam, saya harus menyebut muslim>> harus mengemban amanah kemanusiaan antar manusia, antar umat pula..dan ini tidak bisa jalur lain..kecuali perduli

      nice post bang….saya banyak belajar dari tulisan panjenengan

    10. Jeli Bang, dari awal bacanya enak dan serasa diberi pencerahan. Buat paragraf terakhir itu ngena banget lah. Dari komen-komen diatas rasanya juga banyak yang sama bagian itu ngena sekali.

    11. Ini bener2 gua rasain banget akhir2 ini.. gua melewati masa2 putih abu-abu dengan di kelilingin orang2 yang ga peduli sama sekitar dan lebih mentingin dirinya. masa iya gua sendiri yang harus ngertiin mereka tanpa ada respon ? ckck

      Keren sumpah, baca ini gabisa seklias doang harus muter2.. semua pesan2 nya juga nyampe. nice mas aga !

    12. Yap… baca ini gue jadi lebih tahu tentang kepedulian lebih jauh
      . Memang kepedulian itu salah satu bagian hidup paling penting.. gak ada kepedulian gak ada pukpuk dari temen saat kita ada masalah. Gak ada kepedulian, orang2 akan hidup sendiri2..

      Gue juga selalu peduli sama rambut gue sendiri biar enggak cepet abis..

    13. paragraf terakhir… nyes gitu

      apalagi jaman sekarang ini jarang banget yg namanya kepedulian itu
      kadang malah ada yg pura2 peduli padahal ada yg diincar
      semoga kita ga termasuk org2 kayak gitu 🙂 aamiin

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *