Kelulusan

    “Ragam ujian merupakan hamparan anugerah” –Syaikh Ibn Atha`illah Aliskandary


    Malam itu mungkin tak ada yang menyangka, lelaki
    pedagang asongan itu ternyata memiliki seorang anak berprestasi. Prestasi
    tingkat provinsi untuk katagori pemain catur putri. Tak ada yang lebih
    mengherankan, selain bagaimana ketangguhan penerimaan akan takdir oleh keluarga
    tersebut.
    “Saya dulu nakal, sampai kemudian sekarang
    menjadi gembel.” Pedagang PKL tersebut berusaha mengingat pada masa lalunya,
    yang mungkin ingin menunjukkan pada saya agar bersungguh dalam hidup. “tapi,
    ada juga yang nakal dari teman saya, dan ia berhasil” tambahnya. Saat itu saya
    merenung, ternyata “takdir nafas kehidupan tak ada sangkut pautnya dengan
    sabab-musabab.
    Hamka pernah berujar, “kalau hidup sekedar
    hidup, monyet di hutan juga hidup”. Sentilan ini cukup menohok cara pandang
    saya, terutama bagaimana menyikapi kehidupan. Bukan tak percaya kepada takdir
    yang telah ditetapkan sebelum segala sesuatunya tercipta. Namun, semua alam
    perlu ada sabab-dan-musabab sebagai perantara hukum sunnatullah.
    Coba bayangkan, apa yang akan terjadi bila doa
    tanpa sebab-musabab. Seorang yang berkeinginan akan tergantung pada doa,
    padahal doa tanpa usaha ialah doa yang sia-sia. Karena ini semua, hasil itu penting.
    Dialah Allah yang member hasil, yang pemberiannya tak dapat dikaitkan dengan
    sebab-musabab perilaku kita. Allah member karena kehendak-Nya, bukan pada
    banyaknya amal-usaha kita.

    Kelulusan kita ialah sebuah kata, kata abstrak
    dan symbol dari sebuah “keberhasilan”. Bertubi-tubi ujian datang menghadap, di
    situlah penentu kita sebagai diri yang “beridentitas”. Bagi yang berhasil
    melewati segala ujian, maka identitasnya sebagai pemenang. Bagai yang tak
    berhasil, maka identitasnya sebagai pemenang yang tertunda.
    Bukankah setiap kelulusan meniscayakan ujian?
    Bukankah setiap ujian memiliki tujuannya sendiri? ujian adalah anugerah, karena
    dibalik yang menyakitkan ada buah yang membahagiakan. Kelulusan dalam
    menghadapi ujian bukan pada “kebahagian” sebagai hasil perolehan. Bagi saya,
    makna lulus yaitu bisa memaksimalkan segenap usaha semata-mata “karena dan
    untuk” Allah.
    Mengapa kelulusan dan usaha ada sangkut pautnya
    dengan Allah? Kalau bukan Allah, lalu siapa yang menguatkanmu saat dalam
    kekecewaan. Lalu siapa yang dapat memberimu kekuatan untuk sampai kepada kata
    “lulus”? lalu siapa yang mengangkatmu setelah kesulitan—ujian—kau dikuatkan? 

    “Kekecewaanmu karena belum mendapatkan, karena
    engkau belum mamahami bahwa hikmah apa yang Allah ingin tunjukkan di dalamnya”.

    Maka sebenarnya dikatakan lulus saat ada
    pemahaman bahwa Allah memberikan yang terbaik bagi kehidupan. Tak peduli,
    apakah seseorang tersebut senang atau tidak dengan hasilnya. Lulus bukan
    berarti berhasil dalam artian menghasilkan kepada sesuatu. Di sini saya hendak
    menunjukkan bahwa lulus implikasinya “menerima segala yang ada” dan mensyukuri
    dengan semaksimal. 

    “Allah sesuai prasangka hamba-Nya kepada-Nya”.

    Dengan berhusnudzan kepada Allah, berarti
    seseorang berbaik sangka pada setiap nafas takdir-takdir kehidupan. Lulus dari
    ujian kehidupan tak akan mampu dilalui tanpa-Nya. Karena manusia itu lemah,
    makhluk yang diciptakan oleh Tuhannya, Allah SWT. Pasti seseorang membutuhkan
    Allah, bagaimanapun kemampuan seseorang itu sendiri. satu hal, saat kita
    suudzan kepada Allah, kita pun suudzan kepada kehidupan. Sehingga, apa yang
    dianggap ujian dipandang sempit sebagai hal yang tak menguntungkan. Mana
    bagaimana mungkin akan mampu menghadapi ujian, bila cara memandangnya saja tak
    karuan?
    MG. Ma’ruf
    Kediri, 25 November 2014

    1,120 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    12 tanggapan untuk “Kelulusan”

    1. Setuju sama qoute, hidup itu bukan hanya sekedar hidup, kalau cuman sekedar hidup monyet juga bisa, hahaha

      Jleb banget ya, tanpa kita sadari banyak yang berpikiran seperti itu. Orang bisa lulus menghadapi kehidupan dengan caranya masing-masing.

    2. Bercerita tentang kelulusan. Bahasanya yang ditulis ringan banget. Cuman, ada beberapa kata yang masih awam di telinga. "Maklumlah, masih belajar."

      Kelulusan selalu bercerita hasil, tapi semoga tidak melupakan perjuangan.

    3. yaa bner banget, lulus itu dalam artian ia mendapatkan yg terbaik dalam kehidupannya, saya setuju banget daah, walau bahasanya berat tapi saya udah coba memahaminya, semoga menang GA nya amiiinn

    4. Lama gak berkunjung kemari… waah tulisan Agha makin cakep, makin bijak pula. Saya setuju dengan makna kelulusan yang Agha sebutkan di atas, lulus bukan berarti harua berhasil tapi bagaimana kita bisa menerima apa ada nya dan mensyukuri yg kita dapatkan… dan intinya harus tetap husnudzon kepada Allah .. krn Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Postingan yang memikat, like it.

    5. ikhtiar seseorang mungkin berdoa….dan usahanya adalah berdoa..
      itu sah…sah..Iyadz bin Fudail pernah melakukannya

      ridho Allah bergantung pada keridhoan hamba-Nya pada takdir-Nya…

      ketika ujian yang diberikan bisa menjadi "media" menumpuk pahala dan menjadikan semakin dekat dengan Allah….
      setiap permasalahan hadir memperbaiki derajat seseorang..
      kemampuan yang diberikan oleh Allah untuk melewati ujian tersebut akan diapresiasi dengan meningkatnya derajat seseorang…

      Hunudzon billah setia saat, karena Allah tidak mungkin menelantarkan para Hamba-Nya

      Wallahu A'lam

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *