Kelas Akselerasi

    “Selain pendaftar kelas akselerasi. Dilarang masuk! Informasi
    kelas reguler lihat di mading depan pintu gerbang.” Andaikan sikap para
    administrator bisa diterjemahkan dalam kata-kata, kalimat tadilah yang paling
    tepat untuk menggambarkan. Siang itu seorang diri dengan sepeda motor plat-M
    aku sengaja ke sekolah favorit di tempat perantauan. Ya, untuk sekedar
    mendapatkan informasi mendaftaran untuk adikku 
    yang akan melanjutkan ke jenjang SMA. Mendengar sikap administrator itu,
    aku menjadi geram.
    Pasalanya, sebagai pendidik tentu ia juga memiliki cerminan
    perilaku yang baik. Ini kondisi ideal dari pendidik. Tak menutup kemungkinan,
    bila pendidik itu juga didefinisikan sebagai manusia yang juga “khilaf”. Hanya saja,
    mengapa begitu kurang responsif dan peka terhadap orang lain. jangan-jangan
    pendidik itu hanya mengandalkan IQ saja, yang lain—EQ, SQ—urusan belakangan. Tentu
    saja, pendidik jenis ini lebih mengutamakan peserta didik dengan IQ yang luar
    biasa.
    Kelas Akselerasi sudah ada sejak lama, akhir-akhir ini
    berubah status sebagai ‘nilai’ jual untuk sekolah yang ‘katanya’ dianggap
    favorit. Jadi heran, percuma saja memiliki kelas akselerasi bila tenaga
    pendidiknya kurang mumpuni. Cerminan pendidik yang hanya pintar bagi dirinya
    sendiri, dan juga tak cukup cerdas menghargai orang lain. ini awal dari
    kegagalan penyelenggaraan kelas mewah tersebut. Untuk apa cerdas, bila cerdas
    mengkorupsi negara?
    Mengatakan ini tak hanya berdasarkan fakta di atas. Beberapa
    hal kita temui beberapa orang yang cerdas ternyata pemalas, mereka dengan
    kemampuan yang pas-pasan ternyata lebih rajin. Jadi, seharusnya kelas
    akselerasi ditiadakan. Dengan alasan, setiap peserta memiliki potensi yang
    unik, sebagaimana dalam (MI) Multiple Intelejensi oleh Gardner. Dari ini,
    mereka yang merasa kurang pandai (baca; cerdas) tak seharusnya terlarut dalam
    makian dirinya sendiri. Tak ada lagi cacian dan menyalahkan diri sendiri bahwa “anak
    didik ini kurang cerdas.” Kecenderungan yang ada, anak dengan kelas reguler
    seringkali “membandingkan-diri” dengan mereka yang kelas akselerasi. Sudah jelas,
    yang dibandingkan adalah kelemahan dirinya (IQ) dengan kelebihan kelas yang VIP
    tersebut. Ini, yang menjadi awal dari kegagalan peserta didik belajar lebih
    baik. Karena fikirannya terlalu fokus kepada kelemahan yang ada.
    Boleh lah mengaitkan bahwa taraf kehidupan seseorang
    dipengaruhi oleh pendidikan. Hanya saja perlu dipertimbangkan bagaimana orang
    yang mumpuni ternyata bukan mencerahkan, justru menjadi beban bagi orang lain. Siapa
    yang bilang para koruptor itu bukan orang cerdas? Tidak ada yang berani kan,
    ini sebagai antitesa bahwa kecerdasan tak menjamin kehidupan masa depan anak
    didik. Tak cukup hanya itu saja, ada hal lain yang perlu diperhatikan. Yaitu, “menyikapi
    pengetahuan” yang sudah “dimiliki”. Ini yang menjadi inti pendidikan.

    Manusia yang berpendidikan berarti manusia yang berubah. Menjadi
    lebih baik dan berguna bagi orang lain. pendidikan moral, sikap dan karakter
    menjadi lebih utama dibandingkan hanya mengendepankan sisi intelektual anak
    didik. Sudah saatnya mengubah pola pikir kita bahwa orang cerdas bukan dengan
    IQ yang tinggi, namun yang memiliki EQ dan SQ yang juga baik.   

    855 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *